Berita

ilustrasi JSS/IST

Jembatan Selat Sunda Berpotensi Ganggu Ekosistem Laut

MINGGU, 10 APRIL 2011 | 19:33 WIB | LAPORAN:

RMOL. Rencana pemerintah membangun Jembatan Selat Sunda (JSS) dinilai lebih banyak mudaratnya dibandingkan manfaat.

Direktur Indonesia Maritime Institute (IMI), Y Paonganan mengatakan, proyek jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera itu sangat rentan dan bisa jadi penghamburan anggaran.

"Walaupun itu dana investor apalagi kalau sifatnya pinjaman atau Loan (utang)," tambah Y Paonganan kepada Rakyat Merdeka Online, Minggu (10/4).


Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor ini melanjutkan, kerentanan proyek jembatan bernilai Rp 200 triliun itu lantaran kondisi Anak Gunung Krakatau yang sewaktu-waktu bisa meletus. Apalagi diketahui, kawasan Selat Sunda yang terletak pada zona peralihan tektonik aktif antara Sumatera dan Jawa ini dikenal sebagai salah satu kawasan rawan bencana geologi atau ring fire di Indonesia. Kerawanan ini ditandai dengan terjadinya bencana geologi seperti gempa bumi, letusan guning api, tsunami, dan gerakan tanah.

Selain itu, Ongen, begitu dia disapa, juga mengkuatirkan keberadaan JSS akan merubah pola arus laut sehingga berimplikasi terhadap perubahan komposisi oseanografi dan ekosistem laut. Didasari pertimbangan inilah, IMI mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan dengan cermat sebelum merealisasikan proyek berjarak sekitar 31 kilometer tersebut.  

"Jika  pemerintah tetap ngotot ya harus mampu meyakinkan rakyat Indonesia dulu baik secara ilmiah dan teknis khususnya berkaitan dengan kerentanan gempa dan ekologi perairan. Sebagai negara maritim yang dikelilingi oleh cincin api, seharusnya pemerintah tahu betul dampak yang akan ditimbulkan," bebernya.

"Jangan menganggap sepele, kita harus belajar dari gempa dan tsunami di Jepang. Dengan teknologi yang sangat tinggi pun, gempa dan tsunami tidak peduli, bahkan teknologi tinggi sekelas PLTN saja dibuat rata dengan tanah," sambungnya. [wid]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

UPDATE

Bakamla Kirim KN. Singa Laut-402 untuk Misi Kemanusiaan ke Siau

Jumat, 09 Januari 2026 | 05:40

Intelektual Muda NU: Pelapor Pandji ke Polisi Khianati Tradisi Humor Gus Dur

Jumat, 09 Januari 2026 | 05:22

Gilgamesh dan Global Antropogenik

Jumat, 09 Januari 2026 | 04:59

Alat Berat Tiba di Aceh

Jumat, 09 Januari 2026 | 04:45

Program Jatim Agro Sukses Sejahterakan Petani dan Peternak

Jumat, 09 Januari 2026 | 04:22

Panglima TNI Terima Penganugerahan DSO dari Presiden Singapura

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:59

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Mengawal Titiek Soeharto

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:25

Intelektual Muda NU Pertanyakan Ke-NU-an Pelapor Pandji Pragiwaksono

Jumat, 09 Januari 2026 | 02:59

Penampilan TNI di Pakistan Day Siap Perkuat Diplomasi Pertahanan

Jumat, 09 Januari 2026 | 02:42

Selengkapnya