RMOL. Bakrie Mikrofinance Indonesia (BMF) sudah berhasil menyalurkan pinjaman bagi 4.000 nasabah. Capaian tersebut terbilang sangat fantastis, karena dicapai hanya dalam periode November 2010 hingga Februari 2011.
BMF sendiri menyalurkan pinjaman-pinjaman tersebut untuk nasabah khusus bagi perempuan pengusaha dengan latar belakang usaha yang beragam, mulai dari tukang bakso, tukang sayur-mayur, penjual tempe, penjaja gado-gado, hingga mereka yang baru memulai usaha
Aburizal Bakrie yang mewakili keluarga Bakrie menuturkan, semangat wirausaha bukan cuma milik golongan pengusaha besar, menengah ataupun kecil, tetapi juga milik rakyat kebanyakan. Manakala diberi kesempatan, lapisan masyarakat miskin sekalipun diyakini mampu menghasilkan bisnis menguntungkan, meski dalam skala jauh lebih kecil. Kesempatan tersebut berupa pemberian akses kredit mikro yang mudah dan ringan, serta program-program bimbingan.
Hal itulah yang melatarbelakangi keterpanggilan Kelompok Usaha Bakrie yang mendirikan lembaga kredit mikro, yakni Bakrie Microfinance Indonesia (BMF). Tokoh yang akrab dipanggil Ical ini menilai, keterbatasan rakyat mengakses permodalan menjadi persoalan tersendiri dalam tema-tema mengatasi kemiskinan di Indonesia. Padahal, rakyat miskin memiliki potensi berwirausaha yang tidak bisa diabaikan. ''Kehadiran BMF diharapkan dapat menjadi jalan keluar bagi permasalahan ini,'' tandasnya.
Ketua Umum DPP Partai Golkar ini menggariskan, BMF bukanlah unit bisnis baru, namun sebuah program kemanusiaan untuk menyalurkan kredit tanpa agunan kepada masyarakat miskin atau pra-sejahtera. Dengan mengadopsi konsep dan falsafah Grameen Bank, sebuah lembaga keuangan mikro yang didirikan oleh peraih Nobel, Muhammad Yunus di Bangladesh, BMF memiliki misi membantu pendanaan untuk usaha masyarakat bawah.
Ical menegaskan, BMF didirikan semata-mata demi membantu masyarakat. Karena itu, keuntungannya tidak akan dinikmati perusahaan, melainkan diputar di masyarakat untuk memberdayakan mereka. Menurut dia, Ini merupakan bagian dari komitmen Bakrie untuk membantu menyejahterakan masyarakat, sesuai pesan pendiri Kelompok Usaha Bakrie, Ahmad Bakrie: “Setiap sen yang dihasilkan Bakrie harus bermanfaat bagi rakyat banyak.â€
Namun, lanjutnya, BMF juga bukan merupakan kegiatan amal yang membagi-bagikan bantuan (
charity). Lembaga ini melakukan pemberdayaan melalui pemberian kredit mikro tanpa agunan pada keluarga pra sejahtera agar punya modal untuk usaha dan menjadi mandiri. Selama ini BMF melihat pemerintah telah berbuat banyak untuk mengatasi kemiskinan dengan berbagai program, kendati belum maksimal hasilnya.
''Dalam hal ini, peran serta masyarakat, terlebih swasta dengan lembaga microfinance amat diperlukan. Semakin banyak yang berkontribusi justru dinilai semakin baik. BMF memandang lembaga microfinance seperti ini sebagai mitra yang akan mempercepat pemberdayaan masyarakat. Jika masyarakat diberdayakan, kesejahteraan bangsa akan segera diraih,'' jelasnya.
Berdasarkan catatan data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah penduduk miskin Indonesia sebesar 35 juta jiwa. Sementara, data Bank Dunia menyebut angka 100 juta jiwa. Angkanya memang berbeda, namun pesannya sama, bahwa masyarakat miskin di Indonesia masih banyak.
''Kemiskinan inilah yang harus sama-sama dipangkas oleh seluruh komponen bangsa. Dan BMF menjadi bagian dari komponen bangsa itu,'' ujar mantan Menkokesra ini.
[ade]