Berita

Ilustrasi/Ist

2011, Bakrie Mikrofinance Indonesia Salurkan Pinjaman Rp 500 Miliar

SELASA, 29 MARET 2011 | 16:48 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

RMOL. Sejak memperoleh izin pada November 2010 hingga Februari 2011, Bakrie Mikrofinance Indonesia (BMF)  sudah berhasil menyalurkan pinjaman ke lebih dari 4.000 nasabah. Mereka terdiri dari para perempuan pengusaha dengan latar belakang usaha yang beragam, mulai dari tukang baso, tukang sayur-mayur, penjual tempe, penjaja gado-gado, hingga mereka yang baru memulai usaha.

Kendati demikian, Direktur Utama BMF Irawan Massie belum puas. Dia melihat jumlah  tersebut belum seberapa jika dibandingkan potensi penerima bantuan yaitu masyarakat pra-sejahtera di Indonesia yang jumlahnya masih banyak. ''Namun  setidaknya BMF akan melengkapi program-program sejenis yang telah diprakarsai pemerintah, semisal Kredit Usaha Rakyat (KUR),''  ujar Irawan, di Jakarta, kemarin.  

Dia menjelaskan, pada tahap awal, mulai tahun 2011 ini BMF mengalokasikan modal sebesar Rp 100 miliar per tahun. Target jangka panjang dengan pertumbuhan yang konsisten dalam lima tahun diperkirakan lebih dari Rp 500 miliar.


Seperti diketahui, besaran modal yang dipinjamkan oleh BMF sebesar 100 dolar AS atau sekitar Rp 1 juta per orang. Pinjaman ini diberikan tanpa jaminan atau tanpa agunan dengan angsuran sangat ringan, sekitar Rp 25 ribu per minggu. Modal inilah yang dapat dipergunakan oleh penerimanya untuk membangun usaha yang diharapkan dapat menghasilkan keuntungan dan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan. Sebagian hasil usaha dapat dipakai untuk mengangsur.

BMF memfokuskan pemberian modal pada para ibu dan kaum perempuan. Hal ini dimaksudkan agar hasil dari usaha benar-benar dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, terutama pendidikan anak-anak. Kaum hawa juga dinilai pandai mengatur keuangan dan umumnya memiliki tanggungjawab besar untuk mengembalikan.

Irawan menjelaskan, agar sesuai sasaran, BMF meminta komitmen penerima kredit untuk tidak menggunakan pinjaman untuk keperluan konsumtif. Modal dan hasil usaha hanya boleh digunakan untuk meningkatkan gizi dan kesehatan keluarga, serta pendidikan anak-anak mereka. ''Itulah keunggulan kredit yang disalurkan BMF,'' katanya.

Kelebihan  lainnya, lanjut Irawan, ketika dana berhasil dikembalikan oleh seorang peminjam, maka dana tersebut akan disalurkan kembali kepada keluarga lainnya. Tapi bila nasabah tersebut masih memerlukan pinjaman dan membuktikan mampu mengembalikan dan menggunakan uang dengan tertib, mereka boleh mendapat peningkatan pinjaman sebesar 20 persen.

Irawan mengakui, di samping permodalan, masyarakat miskin juga sangat butuh edukasi. Karena itu BMF tidak sekadar memberikan bantuan modal, namun juga akan melakukan bimbingan usaha dan penyuluhan dalam rangka pemberdayaan perempuan. ''Dan tak hanya edukasi soal keuangan, tapi juga aspek kehidupan lainnya seperti ketrampilan, kesehatan dan lain,'' jelasnya. [ade]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya