Berita

Syarief Hasan/ist

Geram, Syarief Hasan Harapkan Anis Matta Berpolitik Santun

KAMIS, 24 MARET 2011 | 12:59 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

RMOL. Sekretaris Sekretariat Gabungan Partai Politik Pendukung Pemerintah, Syarief Hasan, geram mendengar pernyataan-pernyataan Sekjen PKS Anis Matta.

Seperti diketahui, Anis pernah menyebut orang di lingkaran Istana yang memprovokasi SBY. Anis juga menyebut prahara yang dihadapi oleh PKS saat ini merupakan operasi politik yang ingin menjatuhkan citra PKS.

Syarief menilai, apa yang dikatakan Sekjen PKS itu akan memperkeruh suasana komunikasi koalisi yang terjalin selama ini. "Saya harap Anis Matta berpolitik santun, tidak menebar isu-isu yang bisa mendramatisasi keadaan," katanya kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Kamis, 24/3).


Menurutnya, daripada melempar isu yang bisa menimbulkan fitnah, lebih baik Anis membuktikannya. Tak sampai disitu, Syarief juga geram dengan tuduhan Anis yang menuding rapat Setgab yang dipimpinnya hanya sekedar makan malam saja.

"Ini meremehkan semua yang terlibat dalam rapat itu," kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini.

Kata dia, rapat yang dilakukan Setgab membahas soal peningkatan komuikasi koalisi, jadi bukan sekedar makan-makan. Apa yang dimunculkan oleh Anis itu, kata dia, menunjukkan dengan kasat mata, bahwa ada problem internal di dalam PKS itu sendiri.

"Tanya dong Ketua Fraksinya (Mustafa Kamal) yang hadir di rapat Setgab. Jangan bawa persoalan internal partai ke ranah publik dengan mengaitkan dengan yang lain," sergah Menteri Koperasi dan UKM ini.

Apa yang dilakukan Anis Matta ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa bibit-bibit perpecahan di Setgab Partai Politik Pendukung Pemerintah diciptakan sendiri oleh PKS. Karena itu, dia kembali berharap, agar Anis yang juga Wakil Ketua DPR ini menghentikan mengeluarkan isu yang kebenarannya masih sumir. Kecuali, tambahnya, Anis langsung membuktikan, tidak hanya menebar fitnah. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya