Berita

Gayus Lumbuun

Wawancara

Gayus Lumbuun, Sudah Direstui Megawati Siap Mundur dari PDIP & DPR

RABU, 23 MARET 2011 | 06:12 WIB

RMOL. Pendaftaran calon hakim agung di Komisi Yudisial mulai ramai peminat. Sampai hari Minggu (21/3) pukul 12.00 WIB, sudah 68 calon hakim agung yang mendaftar. Mereka terdiri dari 48 hakim karier dan 20 orang dari non karier. Seusai permintaan Mahkamah Agung (MA), seleksi kali ini akan memperebutkan 10 kursi hakim agung. Direncanakan pendaftaran calon hakim agung akan ditutup hari ini.

Dari hakim non karier yang ikut mendaftar tersebutlah nama Gayus Lumbuun, anggota Ko­misi III DPR dari PDI Perjua­ngan. Profesor di bidang hukum ini diajukan oleh Universitas Krisna Dwipayana (Unkris) dan Universitas Indonesia (UI).

Kenapa Gayus memilih men­jadi hakim agung? Siapa yang telah mendukungnya? Kepada Rakyat Merdeka, kemarin, dia blak-blakan. Berikut kutipan selengkapnya:


Mengapa Anda ingin men­jadi hakim agung?
Saya ingin menjadi pemutus perkara di bidang yudikatif, saya akan memberikan putusan yang adil untuk banyak perkara. Di DPR saya menjadi pembuat undang-undang, sebagai legis­lator selama dua periode, saya ingin pekerjaan yang lebih me­nantang. Tantangan terakhir bagi orang yang berlatar belakang hukum adalah hakim.

Kiprah Anda di DPR kurang menantang?
Dua periode menjadi wakil rakyat membuat saya cukup ba­nyak pengalaman dan pemaha­man dalam membuat undang-undang. Saya sudah banyak me­lihat fakta perlunya undang-un­dang dibuat, saatnya saya meng­gu­nakan undang-undang itu dengan seadil-adilnya.

Bagaimana pengalaman Anda dalam dunia hukum dan peradilan?
Cukup banyak, di dunia advo­kat sudah 25 tahun saya lalui, mu­lai dari asisten advokat hingga advo­kat penuh. Selain itu, saya per­nah menjadi ketua umum Ikadin dan Ketua Dewan Pena­sehat Dewan Pimpinan Nasional Peradi.

Selain itu?
Di perguruan tinggi, mulai dari asisten dosen lalu dosen, hingga sekarang guru besar. Saya juga pernah jadi rektor di sebuah lem­baga pendidikan (Unkris). Saya juga pernah memegang jabatan di bidang hukum.

Bagaimana Anda melihat sist­em peradilan di Indonesia?
Saya pikir tidak semuanya jelek tapi kita harus membenahi, saya tidak setuju kalau dikatakan jelek. Apalagi bila dikatakan pera­dilan kita sudah sedemikian buruknya, saya tidak sepakat.

Mungkinkah peradilan bisa mewujudkan keadilan yang di­harapkan?
Pemutus keadilan harus me­nya­dari bahwa keadilan merupa­kan bagian dari kehidupan ma­nusia dan merupakan hak asasi manusia.

Saat ini apakah para hakim agung sudah bisa mewujudkan cita-cita keadilan itu?
Sekarang belum bisa mewu­jud­kan keadilan itu. MA yang terdiri dari 49 hakim agung harus bisa memiliki pembidangan apa­bila mau maksimal kinerjanya, hakim agung ini harus terfokus pada bidang keahliannya, seperti bidang pidana, tipikor dan umum.

Apa yang akan Anda laku­kan apabila terpilih menjadi hakim agung?
Kalau saya menjadi anggota biasa, saya harus mengikuti konsep-konsep yang ada. Tetapi sebagai hakim yang independen, harus juga bisa memberi masu­kan dan saran-saran agar pim­pinan MA bisa memulai pem­benahan internal di lembaga tersebut.

Bagaimana Anda menjaga in­dependensi hakim sementara Anda orang partai?
Itu pertanyaan banyak orang, apakah saya bisa netral dan ob­jek­tif. Saya mengakui saya akan netral dan objektif, itu sudah saya contohkan saat memimpin BK (Badan Kehormatan). Saya men­contohkan, fraksi-fraksi yang kena sanksi berat itu salah satu­nya adalah PDIP.

Anda akan mundur dari par­tai untuk menjaga indepen­densi hakim?
Tentunya, saya akan mundur sebagai anggota partai maupun sebagai anggota DPR. Tapi itu setelah ada kepastian lulus, ka­rena sekarang belum ada. Men­jelang testing, saya akan non-aktif dulu.

Sebagai kader PDIP, Mega­wati Soekarnoputri sudah tahu Anda mau nyalon?
Saya sudah lapor Ibu Mega­wati. Ibu Megawati juga telah memberi restu kepada saya untuk mengembangkan bidang keil­muan saya. Ibu Megawati mene­kankan agar saya bersikap netral, dan saya menjaga kehormatan ilmu pengetahuan, itu yang menjadi pesan ibu kepada saya.

Anda yakin bisa lulus?
Saya harus tetap optimistis, walaupun peluang cukup berat karena saya non-karier. Karier saja ada 40 lebih dan non- karier ada 20 lebih. Jadi saya harus meng­hadapi rival-rival yang cu­kup berat, seperti guru besar dan pakar hukum.   [RM]

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

UPDATE

34 Ribu Kendaraan Melintas Padalarang dan Lembang, Mayoritas Roda Dua

Rabu, 25 Maret 2026 | 15:55

Tinjau Terminal Pulo Gebang, Seskab Teddy Jamin Arus Balik Lancar

Rabu, 25 Maret 2026 | 15:38

Akui Coretax Bermasalah, Purbaya Perpanjang Deadline Lapor SPT hingga Akhir April 2026

Rabu, 25 Maret 2026 | 14:48

Energi Filipina Masuk Zona Waspada, Presiden Marcos Aktifkan Mode Siaga

Rabu, 25 Maret 2026 | 14:27

Dugaan Intervensi Politik Bayangi Penanganan Kasus Yaqut di KPK

Rabu, 25 Maret 2026 | 14:10

Emas Mulai Ditinggalkan, Investor Lirik Bitcoin sebagai Aset Aman

Rabu, 25 Maret 2026 | 14:06

Mendagri: Sumbar Capai 100 Persen Pemulihan Pascabencana, Sumut-Aceh Belum

Rabu, 25 Maret 2026 | 13:39

Tren Nikah Melonjak Usai Lebaran, Kemenag Pastikan KUA Siaga Meski WFA

Rabu, 25 Maret 2026 | 13:20

Ledakan Wisatawan Lebaran di Jabar, DPRD Ingatkan Waspada Bencana dan Pungli

Rabu, 25 Maret 2026 | 13:01

IHSG Menguat ke Level 7.199 di Sesi I Rabu Siang, Ratusan Saham Menghijau

Rabu, 25 Maret 2026 | 12:28

Selengkapnya