Berita

dipo alam/ist

AHMADIYAH

Dipo Alam: Gagak Hitam Jangan Gunakan Kontroversi Ahmadiyah

MINGGU, 06 MARET 2011 | 09:36 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Permintaan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin agar pemerintah lebih tegas melarang Ahmadiyah adalah permintaan yang salah alamat. Din sepatutnya tidak mengundang negara dan pemerintah masuk ke wilayah keyakinan dan keimanan.

Sekretaris Kabinet Dipo Alam yang dihubungi Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Minggu, 6/3) mengatakan, langkah yang diambil pemerintah dengan menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri Juni 2008 lalu sudah tepat dan sudah sepantasnya. Bila semua pihak mengikuti isi SKB itu, tidak akan terjadi kerusuhan dan konflik seperti di banyak tempat.

Menurut dia, upaya meredakan konflik kekerasan antar umat Islam dan pengikut  Ahmadiyah dapat dicegah oleh pimpinan Pemerintah Daerah di tingkat provinsi, kabupaten, walikota dan kecamatan sampai ke kepala desa, karena merekalah yang paling mengetahui keadaan dan bertanggungjawab menjaga kerukunan dan keamanan warga.


Mengenai tokoh lintas agama yang "membela" warga Ahmadiyah, misalnya Romo Benny Susetyo yang terang-terangan mendukung Ahmadiyah, Dipo mengingatkan agar kelompok yang disebutnya "sekumpulan gagak hitam berbulu merpati putih" itu tidak memperkeruh keadaan.

"Ini berpotensi melebar ke arah konflik horizontal, karena Romo Benny Susetyo pengurus KWI sudah mencampuradukkan masalah internal umat Islam," ujarnya.

Dia mengingatkan agar kelompok ini tidak memainkan kartu kontroversi Ahmadiyah. Sebaiknya mereka melakukan syiar atau menggembalakan umat dalam kesejukan toleransi beragama, bukan sebaliknya mengobarkan kegaduhan kerukunan umat beragama. [guh]

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya