RMOL. Meski bau reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II semakin menyengat, kepastian apakah hal itu akan terjadi atau tidak, sangat bergantung kepada PDI Perjuangan, khususnya sang ketua umum, Megawati Soekarnoputri.
Karena itu, pertemuan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa dan politisi senior PDI Perjuangan Taufiq Kiemas kemarin malam merupakan ajakan, agar partai berlambang kepala banteng itu masuk kabinet untuk yang kesekian kalinya. Sayangnya, cinta sementara ini masih agak bertepuk sebelah tangan.
"Dugaan saya, Mega memberi tiga syarat yang masih sulit diterima. Pertama, anggota kabinet cukup simpatisan PDIP. Bilamana elit pengurus PDIP yang diminta, yang bersangkutan tetap harus menanggalkan jabatannya di kepengurusan. Kedua, PDIP tetap tidak bergabung ke dalam Setgab. Dua syarat ini adalah konsekuensi dari keputusan kongres yang menugaskan PDIP tetap sebagai partai penyeimbang. Syarat ketiga, permintaan (berkoalisi) disampaikan langsung oleh SBY kepada Mega," kata Wakil Sekjen DPP PPP Romahurmuzy dalam pernyataan persnya yang diterima Rakyat Merdeka Online malam ini.
Ketiga syarat tersebut menjadikan komposisi Setgab Partai Pendukung Pemerintah masih
status quo. Sederhananya, dorongan Partai Demokrat yang berkali-kali mendorong Partai Golkar dan PKS diletakkan di luar kabinet, hanya akan sepadan jika ditukar dengan masuknya PDI Perjuangan-Gerindra.
"Jika yang dua terakhir ini belum pasti, menerima saran Partai Demokrat sepenuhnya dengan mengeluarkan PG-PKS adalah sangat berisiko pada stabilitas politik. Idealitas yang diharapkan SBY, dengan nama kabinetnya 'Indonesia bersatu', tentu semua fraksi masuk di dalamnya dengan menjunjung kebersamaan dalam mengawal setiap kebijakan," tandas anggota Komisi VII DPR ini.
[zul]