Perserikatan Bangsa-Bangsa
RMOL. Sebagai Ketua ASEAN tahun ini, Indonesia punya tanggung jawab besar mendamaikan sengketa wilayah antara Thailand dan Kamboja. Secara tidak langsung peranan Jakarta dituntut lebih banyak mendamaikan kedua negara anggotanya yang sedang berperang demi menjamin perdamaian di kawasan Asia Tenggara.
Dewan Keamanan (DK) PBB, Senin (14/2) waktu setempat, menyaÂtakan keprihatinan atas bentrokan di perbatasan ThaiÂland-Kamboja bulan ini. Namun, PBB memutuskan akan menyeÂrahkan isu itu kepada ASEAN.
Kamboja telah meminta DK PBB untuk mengerahkan paÂsukan pemelihara perdamaian ke perbaÂtasan itu. Tapi dewan yang berÂanggotakan 15 neÂgara itu meÂnyatakan bahwa peranÂnya akan diÂbatasi dengan cara mendukung usaha-usaha regioÂnal dan usaha-usaha bilaÂteral untuk merunÂdingkan diÂakhirinya konflik tersebut.
“Para anggota Dewan KeÂamaÂnan menyatakan sangat priÂhatin atas bentrokan-bentrokan berÂsenÂjata yang baru-baru ini terjadi antara Kamboja dan ThaiÂland,†kata Duta Besar Brazil untuk PBB yang juga Presiden DK PBB bulan ini, Maria Luiza RiÂbeiro Viotti.
Karena itu, DK PBB meminta Kamboja dan Thailand mengÂupayakan gencatan senjata total.
“Dewan Keamanan mendesak kedua pihak untuk melakukan gencatan senjata secara permanen serta menyelesaikan masalah dengan damai melalui dialog yang efektif,†kata Viotti seperti dilansir
CNN, kemarin.
Dalam sidang yang hanya diÂgelar guna membahas konflik Thailand-Kamboja, selain 15 anggota DK PBB, sidang dihadiri Menteri Luar Negeri Kamboja Hor Namhong, MenÂteri Luar Negeri Thailand Kasit Piromya dan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua ASEAN, Marty NataÂlegawa mengatakan, Ketua ASEÂAN berkomitÂmen tidak akan ada lagi baku tembak antara paÂsukan Thailand dan Kamboja.
“Bising peluru dan dentuman artileri harus senyap di kawasan Asia Tenggara. Pendekatan miÂliter bukan merupakan jalan keÂluar bagi sengketa perbatasan kedua negara,†tegas Natalegawa dalam pidato yang dihadiri seÂluruh negara anggota DK PBB.
Menurut dia, ASEAN meÂmiliki dorongan kuat untuk menÂjamin konflik Thailand dan KamÂboja dapat diselesaikan deÂngan cara-cara damai dan berÂsahabat seÂÂhingÂga tidak akan ada lagi pertikaian.
“Kami meminta DK PBB unÂtuk mendukung upaya-upaya ASEÂAN, terutama dalam memÂberikan insenÂtif kepada kedua pihak, Kamboja dan Thailand untuk segera berÂdamai,†ucap Natalegawa.
Upaya untuk itu juga sudah diÂlakukan Indonesia. Yaitu, meÂlakukan kunjungan guÂna bertemu para petinggi kedua negara.
“Pada tanggal 7-8 Februari 2011, dalam kunjungan ke Phnom Penh dan Bangkok, kami mendapatkan kesempatan untuk mendengar secara langsung dari kedua pihak atas isu yang saat ini mereka sedang hadapi. Kedua negara bersepakat menyelesaikan konflik secara damai,†papar Natalegawa.
Viotti menambahkan, DK PBB sangat mendukung upaya ASEÂAN menyelesaian konflik antara Kamboja dan Thailand. Pihaknya bahkan menyambut baik rencana Indonesia mengÂgelar pertemuan tingkat menteri luar negeri ASEAN pada 22 FebÂruari pekan depan.
“Para anggota Dewan KeÂamaÂnan meminta kedua belah pihak untuk menahan diri dan tidak melakukan aksi-aksi yang dapat memperparah suasana. Kedua pihak juga mesti terus bekerja sama dengan ASEAN sehingga dapat tercipta suasana yang lebih konÂdusif lagi,†lanjut Viotti.
Sidang yang digelar secara terÂtutup itu juga memberi keÂsemÂpatan bagi Menlu Hor NamÂhong dan Menlu Kasit Piromya untuk menjelaskan sudut panÂdang maÂsing-masing.
Kamboja dan Thailand saling menyalahkan hingga berujung perang karena memperebutkan area kuil Preah Vihear yang berÂumur 900 tahun. Perang itu meneÂwaskan sedikitnya tiga orang Thailand dan delapan Kamboja. Menurut kedua pihak, setidaknya 34 orang Thailand dan 55 orang Kamboja lainnya menderita luka-luka.
[RM]