Berita

PDIP

Partai Oposisi kok Mau Masuk Kabinet?

KAMIS, 10 FEBRUARI 2011 | 15:51 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Sikap terbuka dari PDI Perjuangan kepada publik yang bersedia masuk dalam Kabinet Indonesia Bersatu II bila ditawari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono patut diapresiasi. Sikap ini menunjukkan PDI Perjuangan makin terbuka pada publik dengan meninggalkan perannya sebagai partai oposisi dan partai wong cilik.

Namun, Dewan Pendiri Indonesian Political-Institute, M.Umar Syadat Hasibuan, berpendapat, sikap PDI Perjuangan kian menunjukkan wataknya yang pragmatis terhadap kekuasaan. Tidak hanya itu, partai berlambang kepala banteng itu juga dinilai kian tidak konsisten dalam mematuhi aturan main dalam menjalankan perannya dalam sistem demokrasi.

"Jika benar, PDI Perjuangan mau masuk kabinet, maka semakin jelaslah bahwa PDIP bukan partai pposisi. Partai oposisi kok mau masuk kabinet?" kata Syadat mempertanyakan.


Doktor Ilmu Politik jebolan Univesitas Indonesia ini memang mengakui bahwa tidak ada larangan bagi partai manapun, termasuk PDI Perjuangan untuk bergabung dengan pemerintan. Sebab, semuanya akan diputuskan melalui mekanisme hak prerogatif Presiden. Kendati demikian, PDI Perjuangan harus mengikuti aturan main dalam berdemokrasi.

"Disitu kan masih ada Setgab Koalisi dalam Pemerintahan. PDIP mestinya lebih beretika dong. Kendatipun menjadi hak prerogatif Presiden, tetap saja ada etika politik koalisi kalau ingin masuk Kabinet," kata Syadat Hasibuan kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis, 10/2).

Soal PDI Perjuangan akan bergabung dengan pemerintah sebenarnya sudah lama menjadi isu. Namun kemarin, Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani seolah semakin membenarkan wacana yang berkembang selama ini. Kata Puan kemarin, PDI Perjuangan akan mempertimbangkan masuk KIB II, namun tidak bergabung dalam Setgab partai koalisi pendukung pemerintah.

Bahkan, hari ini politisi senior PDI Perjuangan, Taufiq Kiemas, sudah menggadang-gadang beberapa kader PDI Perjuangan yang layak untuk masuk KIB II. [zul] 

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya