Berita

RESHUFFLE MENTERI

PKS Nilai PDI Perjuangan Cari Sensasi

MINGGU, 06 FEBRUARI 2011 | 15:55 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Meski beberapa menteri yang dikritisi PDI Perjuangan juga diamini PKS, bukan berarti partai dakwah ini mengiyakan cara penyelesaian partai wong cilik itu bahwa menteri-menteri yang tidak baik dalam bekerja, sebaiknya dicopot. PKS melihat itu bukan solusi.

"Kita agak bosan dengan cara penyelesaian yang instan. Ada apa-apa, lalu ganti menterinya. Itu tidak mendidik. Orang seharusnya diberi kesempatan untuk memperbaiki kinerja, kecuali amat sangat fatal yang menyangkut nyawa masyarakat warga kecil, boleh saja (di-reshuffle)," kata Ketua Fraksi PKS, Mustafa Kamal, kepada Rakyat Merdeka Online (Minggu, 6/1).

Dia menilai permintaan PDI Perjuangan, agar menteri-menteri di-reshuffle hanya cari sensasi. Karena permintaan itu tidak bijak. Menurutnya, akan lebih elegan, bila PDI Perjuangan memperkuat proses pengawasan terhadap kinerja pemerintah, termasuk kinerja menteri-menteri yang dilayakan untuk dicopot.


"Ujuk-ujuk (minta) pergantian menteri tidak bijak. Lebih baik mendorong perubahan-perubahan lewat pengawasan dengan penggunaan hak-hak DPR, seperti hak interpelasi, hak angket. Itu lebih profesional, jadi tidak sekadar langkah instan.  
Bisa saja dari interpelasi atau hak angket itu ada kesimpulan perlu pergantian menteri. Tapi setelah melewati satu proses yang teruji di DPR," ujarnya.

Apakah PKS akan ikut mendukung apabila PDI Perjuangan mengusulkan pembentukan hak angket atau hak interpelasi untuk menginvestigasi kinerja para menteri itu? "Kita akan mempelajari. Sejauh itu objektif, karena kita kan mengedepankan amar ma'ruf nahi munkar. Jadi harus siap termasuk kepada diri (menteri asal PKS) sendiri," jawabnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya