Berita

saleh daulay/ist

KRISIS POLITIK MESIR

Ketum PP Pemuda Muhammadiyah: TKI di Kolong Jembatan Arab Saudi Lebih Mendesak Dievakuasi

JUMAT, 04 FEBRUARI 2011 | 15:15 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Keputusan pemerintah mengevakuasi warga negara Indonesia yang ada di Mesir memang layak untuk diapresiasi. Tapi yang paling penting sebenarnya untuk dilakukan pemerintah adalah memulangkan tenaga kerja Indonesia yang terlantar di kolong-kolong jembatan Arab Saudi.

"Sebenarnya yang di Arab Saudi yang lebih penting. Karena kondisi para TKI yang terlantar itu kan bisa membuat kita malu di mata dunia. Memang mengevakuasi WNI di Mesir bagus, tapi jangan lupakan TKI kita di Arab Saudi. itu yang lebih penting," tegas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay, kepada wartawan siang ini di Jakarta (Jumat, 5/2).

Dia tidak habis pikir kenapa pemerintah lebih mendahulukan WNI Mesir dibanding TKI di Arab Saudi. Padahal, lanjutnya, TKI yang ada di Arab Saudi sudah lama terlantar dan ingin kembali ke Indonesia. Sedangkan WNI yang ada di Mesir, umumnya adalah mahasiswa, yang kalaupun tidak bisa dipulangkan pemerintah, mereka punya bekal sendiri untuk kembali ke Tanah Air.


"Apalagi hampir sebagian dari WNI  kita di Mesir sebenarnya tidak ingin pulang. Pertanyaan kita kenapa Mesir diprioritaskan pemerintah. Kalau 6000 WNI bisa dipulangkan, kenapa TKI yang hanya berjumlah ratusan tidak bisa. Apalagi informasi yang kita dapatkan, pesawat penjemputan ke Mesir itu via Jeddah (Arab Saudi). Kenapa tidak sekalian TKI itu dievakuasi. Ini kan jadi pertanyaan. Makanya, Menteri Tenaga Kerja jangan tidur saja," tegasnya.

Menurutnya, pemerintah memprioritaskan memulangkan WNI di Mesir karena terpengaruh dengan negara-negara lain yang juga secara beramai-ramai mengevakuasi warganya dari Mesir. Karena tidak ingin malu di mata internasional, pemerintah juga ikut mengevakuasi.  "Ya, bisa dibilang untuk citra juga lah. Dan di dalam negeri pemerintah juga dapat citra. Apalagi Wapres langsung menjemput ke Asrama Haji," tandasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya