Berita

Saleh Daulay/ist

Di Thailand, Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Serukan Aksi Konkret Atasi Konflik

MINGGU, 30 JANUARI 2011 | 14:05 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Para aktivis civil society dan aktivis non-governmental organizations (NGO) khususnya yang berdomisili di Asia, masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup banyak untuk menciptakan perdamaian di beberapa negara yang dilanda konflik.

Pasalnya, saat ini, konflik di beberapa wilayah di kawasan Asia, antara lain, Kashmir, Thailand, Srilanka, Filipina,  Myammar, dan Afghanistan belum terselesaikan. Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan munculnya konflik tersebut, faktor diskriminasi berbasis agama merupakan salah satu faktor yang dianggap paling dominan.

Diskriminasi berbasis agama, terutama sangat dirasakan oleh para penduduk muslim, yang berada di daerah Myammar, Kashmir, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan.


Hal itu merupakan salah satu kesimpulan penting, yang dihasilkan dari International Conference on Multi-culturalism and Global Peace, yang diselenggarakan dari tanggal 26-30 Januari 2011 di Pattani, Thailand Selatan.

"Menurut saya, konferensi ini harus diikuti dengan aksi konkret, agar lebih memberikan dampak yang signifikan bagi penciptaan perdamaian di kawasan Asia. Konferensi, seminar, dan workshop yang dilakukan selama ini tidak akan memberikan dampak apa pun, bila tidak diikuti dengan agenda aksi di lapangan,"  ujar Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay, kepada Rakyat Merdeka Online, Sabtu malam melalui sambungan telepon di sela-sela penutupan acara tersebut.

Saleh memang tidak menampik kualitas para peserta yang datang dari berbagai negara. Dia yakin para peserta yang berjumlah 225 orang dari 20 negara yang hadir di konferensi ini adalah orang yang sudah matang dari sisi teori dan konsep tentang perdamaian.

"Namun, apa yang dibutuhkan oleh para korban yang berada di wilayah konflik adalah aksi nyata, yang mampu membebaskan mereka dari belenggu tindakan diskriminatif, yang mereka rasakan selama ini. Di antara aksi yang dapat dilakukan adalah mediasi antara para pihak yang sedang konflik, advokasi dalam bidang pendidikan, kesehatan, mental recovery pasca konflik, dan lain-lain," terang Saleh. [zul]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya