RMOL. Siapa yang tak kenal Firman Utina. Lelaki kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 29 tahun lalu ini, yang saat ini bermain untuk Sriwijaya FC, menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia bahkan Asia Tenggara pada saat putaran Piala AFF 2010 dihelat.
Tanpa mengecualikan peran pemain tim nasional Indonesia lainnya, Firman Utina telah menunjukkan kepiawannya sebagai kapten tim kesebelasan dan sebagai jenderal lapangan tengah yang mengatur irama serangan ke lawan.Tak pelak, Tim Nasional Indonesia sukses melaju ke putaran final tanpa pernah menelan kekalahan sebelumnya.
Namun, sayang, saat itu, jalan menuju kampiun Asia Tenggara, pupus. Firman Utina dibekuk Tim Harimau Malaya, julukan Tim Nasional Malaysia dengan skor 3-0.
Sebenarnya, Firman Utina dan kawan-kawan punya kesempatan untuk melakukan balas dendam pada saat putaran final
leg kedua yang dihelat di Jakarta. Di hadapan publik sendiri, Firman Utina Cs berhasil menundukkan Tim Malaysia dengan skor 2-1. Meski, skor itu tidak bisa mengantarkan Firman untuk mengangkat tropi juara, karena kalah agregat dengan Malaysia.
Harus diakui, Firman Utina memang sempat membuat pecinta tim Merah Putih kecewa. Yaitu, pada saat Firman gagal mengeksekusi pinalti. Namun, hal itu tidak berarti membuah penilaian terhadap Firman lentur. Buktinya, Firman tetap dinobatkan sebagai pemain terbaik.
Dari itu semua, Tim Nasional Indonesia telah membuka harapan dan lembaran baru persepakbolaan Indonesia. Di tangan Firman dan kawan-kawan, optimisme publik akan kebangkitan persepakbolaan membuncah.
Bahkan, spirit nasionalisme juga bangkit seiring dengan kemenangan demi kemenangan yang ditorehkan. Kebangkitan nasionalisme itu semakin dirasakan, saat lagu "Garuda di Dadaku," saling bersahutan memotivasi Firman dan kawan-kawan.
Dengan alasan itu pula lah,
Rakyat Merdeka Online memberikan penghargaan kepada Firman sebagai
man of the year 2010, sebagai
guard of nationality. Firman, sekali lagi tanpa menegasikan peran dan kontribusi pemain tim nasional lain, telah berhasil membangkitkan emangat nasionalisme dan harapan baru.
Malam ini, di gedung Jakarta Media Center, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, gelar itu akan disematkan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, EE Mangindaan secara langsung kepada Firman.
[zul]