Berita

RUHUT SITOMPUL/ist

Ruhut Sitompul Luruskan Persepsi Miring tentang Satgas PMH

SABTU, 22 JANUARI 2011 | 19:51 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul meluruskan persepsi banyak kalangan tentang Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum.

Satgas PMH, katanya, hanyalah Satgas, bukan penegak hukum. Jadi bisa saja menemui pihak-pihak dalam rangka untuk memberantas mafia hukum.

"Satgas mafia hukum itu hanya Satgas, bukan penegak hukum. Itu hanya sebagai jalan pintas biar lebih cepat. Nyatanya kan cepat. Coba kalau menunggu lembaga penegak hukum akan lama," kata Ruhut kepada Rakyat Merdeka Online.


Untuk membuktikan argumennya itu, anggota Komisi III DPR ini mendedahkan dua contoh konkret dari hasil kerja Satgas PMH. Yaitu, pengungkapan fasilitas mewah terpidana kasus suap Artalyta Suryani di lembaga pemasyarakatan dan pembongkaran kasus mafia pajak Gayus Tambunan.

"Kasus Ayin terbongkar nggak? Patrialis (Menteri Hukum dan HAM) saja terbengong-bengong. Begitu juga soal Gayus Tambunan. Kalau tidak ada Satgas, hilanglah cerita Gayus Tambunan. Kan dia sudah di Singapura waktu itu," tegas Ruhut.

Terkait dengan tuntutan, agar Satgas PMH dibubarkan, Ruhut mengingatkan, hanya Presiden SBY yang berhak melakukan itu. Dan keberadaan Satgas PMH merupakan prestasi Presiden SBY dalam memberantas korupsi. "Itu adalah prestasi Presiden SBY," akunya.

Lagian pula, Ruhut mencibir kelompok masyarakat yang menginginkan, agar Satgas PMH dibubarkan. Menurutnya, jangankan Satgas PMH, KPK saja ingin dibubarkan oleh sekelompok orang tersebut.

"Apalagi mereka nambah kalap dengan 12 Instruksi Bapak Presiden SBY. Salah satunya, yang saya garis bawahi soal pembuktian terbalik. Mereka semua ngeri melihat pembuktian terbalik ini. Padahal itu cara untuk korupsi bisa diberantas," demikian Ruhut.[zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya