Berita

Syahganda Pastikan Program Pro Poor SBY hanya Jargon

KAMIS, 13 JANUARI 2011 | 16:59 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Selama tahun 2010 lalu, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono masih disandera sejumlah kasus besar seperti Centurygate, mafia hukum, dan mafia pajak.

Kondisi ini juga diperparah oleh tidak adanya kepastian hukum. Akhirnya, berbagai kasus besar seperti kasus bailout Bank Century dan mafia pajak Gayus Tambunan belum juga menemui titik terang. Akibatnya, investasi di dalam negeri otomatis akan terganggu.

Sebelumnya, kebijakan untuk bergabung dalam perdagangan bebas Asean-Cina juga menimbulkan permasalahan yang lebih rumit. Sektor perdagangan dalam negeri menjadi lemah akibat gempuran produk-produk luar negeri terutama dari Cina. Sementara Indonesia hanya mampu mengekspor sedikit komoditas seperti batubara.


Di luar itu, kenaikan tarif dasar listrik untuk sektor industri juga ikut memperburuk kondisi Indonesia.

"Hal ini menyebabkan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang industri manufakur telah melakukan efisiensi perusahaan untuk menghadapi naiknya biaya produksi. Akibatnya, beberapa perusahaan terpaksa melakukan PHK massal untuk mengurangi beban produksi tersebut," kata Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle, Syahganda Nainggolan, di Jakarta, Kamis (13/1).

Menurut Syahganda, berbagai persoalan di atas, akhirnya membuat pemerintah kehilangan konsentrasi merealisasikan kebijakan nasional yang pro rakyat. Pertumbuhan ekonomi nasional pada 2010 yang mencapai enam persen, ternyata belum mampu menyelesaikan penyakit kronis negeri ini, yakni kemiskinan dan pengangguran.

Dengan kata lain, komitmen pemerintah yang tertuang dalam pro-growth, pro-job, dan pro-poor masih sebatas jargon belaka. Artinya, kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan ternyata belum fokus dijalankan pemerintah.

"Anehnya, pemerintah belum mengambil langkah bagaimana agar masyarakat dapat menikmati hasil kekayaan sumber daya alam Indonesia. Pemeritah seolah tidak mau tahu warganya yang terkatung-katung," tukas dia.

Padahal, kata Syahganda, dengan modal kekayaan alam yang melimpah, Indonesia sejatinya harus mampu menyejahterakan masyarakatnya sekaligus sanggup bersaing dalam pasar global. "Bahkan, kita memiliki potensi menjadi emerging market," tambah dia. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya