Berita

PAN Tak Mau Tercoreng Akibat Ketidakseriusan SBY Bongkar Gayus

SELASA, 11 JANUARI 2011 | 14:56 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Ketua DPP Partai Amanat Nasional Bara Hasibuan mengingatkan perang melawan korupsi merupakan salah satu bagian utama platform pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Tapi ia menyayangkan, ketika ada kasus korupsi besar yang harus ditangani, seperti kasus mafia pajak dan mafia hukum Gayus Tambunan pemerintah seakan tidak mampu.

Selain itu, Bara juga melihat pendekatan konvensional yang dilakukan penegak hukum selama ini untuk membongkar kasus mantan pegawai direktorat Jenderal Pajak itu,
sudah tidak layak lagi.

sudah tidak layak lagi.

"Pendekatan yang terlalu menekankan pada aspek formalitas bukan hanya tidak efektif, tetapi ikut memperpanjang cover up skandal ini," kata Bara dalam keterangan pers yang diterima Rakyat Merdeka Online (Selasa, 11/1).

Karenanya, dia mengusulkan, perlu ada tindakan-tindakan extraordinary yang dilakukan langsung oleh Presiden. Tindakan extraordinary itu bisa berupa Intervensi terhadap Kepolisian untuk memeriksa perusahaan-perusahaan yang memberikan uang kepada Gayus.

"Intervensi bukan merupakan suatu hal yang taboo, dan bahkan Presiden punya otoritas untuk melakukannya sebagai atasan Kepolisian. Kalau Presiden menganggap Kepolisian tidak mampu, Presiden dapat memerintahkan Kepolisian untuk menyerahkan kasus ini kepada KPK, " jelasnya.

"Hanya dengan tindakan dan kepemimpinan langsung dari Presiden ini maka seluruh jaringan mafia hukum, baik yang ada di Kepolisian, Kejaksaan maupun Direktorat Pajak dapat dibongkar. Lagi-lagi, pendekatan konvensional tidak akan mampu membongkar jaringan mafia ini," tambah Bara.

Bara menambahkan, PAN berkepentingan agar skandal ini dibongkar karena telah merusak kredibiltas pemerintahan dimana PAN ada di dalamnya. PAN juga ingin agar pemerintah committed terhadap agenda pemberantasan korupsi. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya