Berita

Perdebatan Reshuffle dan Capres 2014 tidak akan Panjang Bila SBY Tegas

KAMIS, 06 JANUARI 2011 | 12:46 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Belakangan ini publik Indonesia disuguhkan perdebatan politisi tentang ada atau tidaknya reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II dan pencalonan Ani Yudhoyono sebagai calon presiden 2014 mendatang. Perdebatan ini dinilai tidak produktif dan hanya menghabiskan energi.

Bagi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay, satu-satunya cara untuk menghentikan dua perdebatan itu adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus tegas.

"Untuk menghentikan perdebatan ini, SBY harus tegas ada atau tidak reshuffle. Supaya menjadi kondusif. Kalau ada segera dilakukan, supaya tidak terlalu banyak spekulasi politik di luar sana membuat orang bertanya-tanya dan bermanuver yang tidak produktif," ujar Saleh kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Kamis, 6/1).


Sebaliknya, masih kata Saleh, bila memang tidak ada perombakan kabinet, SBY juga harus secepatnya memberi kepastian. Hal ini juga agar para menteri menjadi tenang dan konsentrasi dalam bekerja.  "Kalau memang tidak ada, menteri disuruh lagi bekerja keras menyejahterakan rakyat dan menteri jadi tenang bisa kerja lebih leluasa mewujudkan janji-janji SBY selama kampanye," terang Saleh.

Begitu juga soal wacana pencalonan Ani Yudhoyono pada 2014 mendatang. Dia mengatakan, soal pencalonan ini juga telah ditanggapi politisi sehingga menghabiskan energi. Untuk ini, tegas Saleh, SBY juga harus tegas.

"Kalau tidak, ya katakan tidak. SBY harus bicara, atau paling tidak siapa yang mewakilinya untuk mengatakan itu. Kalau memang (Ani) mau maju, ya tidak apa-apa dijelaskan saja. Itu adalah hak politik (Ani) sebagai warga negara. Tapi harus ada kejelasan, agar rumor ini tidak meluas dan menghabiskan energi," katanya lagi. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya