Berita

Wawancara

Idrus Marham: Komunikasi Politik Tak Cukup Hanya Harmonis, Tapi Produktif

SENIN, 27 DESEMBER 2010 | 06:24 WIB

RMOL. ‘Omelan’ PKS soal buruknya manajemen Sekretariat Ga­bungan (Setgab) koa­lisi dianggap di­ngin petinggi Partai Gol­kar.  Se­kretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat  (DPP) Partai Golkar, Idrus Mar­­ham me­nga­ta­kan, Set­gab adalah forum untuk bebas berwa­cana, dan me­nyampaikan ga­ga­san. Sehingga ti­dak ada larangan untuk berbeda pendapat.

Idrus tak keki jika Setgab di­tuding sebagai forum wacana, tanpa action yang jelas, terarah dan terukur. “Kalau ada partai lain yang mengatakan Golkar berwacana terus, tidak ada ma­salah. Karena Setgab adalah fo­rum berwacana dan forum ber­komunikasi. Saya kira angga­pan-anggapan seperti itu, mungkin canda saja,” kata Idrus kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kalau bercanda, mengapa ada wacana Golkar sangat men­dominasi di Setgab?


Kalau bercanda, mengapa ada wacana Golkar sangat men­dominasi di Setgab?
Mendominasi gimana. Apa faktanya. Nggak ada yang domi­nan di situ. Emang ada yang do­minan. Semua anggota partai koalisi memiliki hak yang sama, bahkan dalam rapat bisa menga­jukan usul. Jadi, tidak ada keisti­mewaan yang satu dengan yang lain, Kalau ada yang membuat per­nyataan itu berarti meleceh­kan orang. Ini kan nggak boleh.

PKS menuding Setgab hanya dikendalikan oleh Partai Demo­krat dan Partai Golkar....
Semua dalam rapat bebas me­nyampaikan pendapat. Jadi, ti­dak benar kalau ada pemikiran seperti itu.

Mungkinkah par­tai-partai tengah ini ku­­­­rang di­perhatikan oleh Setgab?
Lho kok, kurang diper­hatikan. Ini kan semua bebas ber­wacana. Si­la­­kan dong ber­­wa­cana dan meng­am­bil in­siatif juga. Ka­lau ada yang me­ngajukan pikiran, mari kita dis­kusi. Kan gitu ma­salah­nya. Kita sih tidak pernah marah. Ma­lah kita ber­terima kasih kalau teman-teman, baik dari koalisi maupun oposisi saling berwacana dalam kasus apapun.

Mungkinkah partai-partai te­ngah kini terjepit di antara dua kekuatan rak­sasa, Gol­kar dan Demokrat?
Oh nggak ada yang kayak gitu, itu canda semua kali.

Harusnya bagaimana mene­ngahi polemik antara PKS de­ng­an Setgab?
Memang tidak ada ma­salah kok. Coba tanya ke mereka deh, masalahnya apa gitu loh. Kalau ada pertemuan kita bebas bicara. Dan semuanya diundang. Lalu apa yang menjadi persoalan. Kan ada kebebasan, mari kita berwa­cana, apa gagasannya. Gitu aja dong.

Tapi mengapa PKS mengu­sul­kan partai tengah untuk me­rapat dengan PDIP?
Di dunia demokrasi kita seperti ini kok, masih ada yang kayak gini. Semua kan bebas. Mau ini, mau itu. Dan di era demokrasi yang reformasi ini kan, bebas. Semua harusnya melihat dengan penuh kearifan. Yang penting komunikasi-komunikasi itu produktif.

Anda melihat PKS seperti apa, sampai-sampai mewaca­na­kan seperti itu?
Saya nggak tahu. Selama ini biasa-biasa saja. Karena kita ingin komunikasi politik kita le­bih produktif, maka Golkar lebih mengambil inisiatif untuk meng­gagas berbagai hal. Mengajukan pikiran-pikiran. Karena prinsip dasar Golkar, komunikasi politik itu tidak cukup hanya harmonis. Tapi harmonis yang produktif.

Bagaimana supaya komuni­kasi politik produktif?
Kita menjunjung tinggi kebe­basan berwacana, kebebasan mengajukan pikiran, kebebasan melakukan perdebatan-perde­batan konseptual. Itu aja. Jadi, nggak ada masalah.

Masa sih Setgab tidak ada masalah?
Bagi kita memang tidak ada masalah. Kalau ada yang meng­ang­gap ada masalah, tanya aja ke me­reka. Kalaupun kita ketemu dengan PDIP, Demokrat, PKS, Hanura dan lainnya, biasa aja. Ti­dak ada kaitannya dengan Setgab.

O ya, berhembus isu Setgab retak. Apa koalisi akan tetap ber­jalan hingga 2014 menda­tang?
Kontrak politik kan 5 ta­hun.    [RM]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya