Berita

Mahfud Bertanya, Kok Refly Tidak Boleh Digantung?

SABTU, 13 NOVEMBER 2010 | 10:30 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Mahkamah Konstitusi bukannya mau membalas dendam pada Refly Harun. Tapi, penegakan hukum juga mesti berlaku pada pakar hukum tata negara itu jika tuduhannya kepada hakim konstitusi tidak benar.

Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, mengatakan, lembaga yang dipimpinnya telah melakukan hal yang pantas dijadikan contoh bagi lembaga penegak hukum lain.

Ketika datang tuduhan dari Refly Harun lewat tulisan di media massa bahwa kerap sekali hakim konstitusi juga sama korupnya dengan oknum penegak hukum lainnya. Ia bahkan berani mengatakan memiliki bukti ada hakim konstitusi yang menerima suap dengan jumlah miliaran rupiah.


"Ketika datang tuduhan itu dari Refly, kami tunjuk Refly membentuk tim sendiri untuk membuktikan tuduhannya," ujar Mahfud di warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/11).

Hal itu amat berbeda dengan lembaga penegak hukum lain yang ketika ada dugaan pelanggaran hukum di kalangan internal mereka malah membuat tim yang berasal dari dalam mereka sendiri. AKhirnya, tidak ada transparansi, hasil penyidikannya tidak memuaskan rasa keadilan masyarakat, dan publik pun mencibir.

"Kasus Gayus Polri bentuk tim internal, kasus Jaksa Cirus kejaksaan bentuk tim internal dan hanya mendapat cibiran. Setelah Refly menunjuk Refly sebagai Ketua Tim baru terjadi keseimbangan berita," ungkapnya.

Yang dikecewakan MK adalah opini masyarakat yang berkembang sekarang. Ada yang berpendapat, bila nanti tuduhan Refly tak terbukti sebaiknya Refly tidak perlu dibawa ke pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik.

"Lho bagaimana penegakan hukum sepeti itu, dulu kami mau digantung karena dituduh terima suap. Sekarang orang sembarang menuduh tak boleh dihukum gantung ini tidak fair sama sekali," katanya.

"Kami semua siap digantung kalau ada buktinya. Antara kritik dan fakta itu beda. Soal Refly mau dibawa ke pengadilan atau tidak itu urusan nanti yang penting semua bersih," tegasnya.[ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Suahasil Puji Bea Cukai Setelah Purbaya Tersingkir, Ada Apa Nih?

Minggu, 20 September 2026 | 19:41

Tim Qonun Asasi Sebut Wacana Muktamar Ulang NU Tak Punya Dasar

Minggu, 20 September 2026 | 19:29

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Rusia Gelar Pemilu Parlemen di Wilayah Ukraina yang Diduduki

Minggu, 20 September 2026 | 18:48

Negosiasi dengan Houthi, Solusi Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 | 18:43

Datangi Pospera, Ratusan Warga Minta Turunkan Desil

Minggu, 20 September 2026 | 18:18

Honor Play 11 Resmi Meluncur, Bawa Baterai Jumbo 8.300 mAh

Minggu, 20 September 2026 | 18:06

Timur Tengah Memanas, Trump Cepat-cepat Tinggalkan Camp David

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

Apa Itu Perairan Masalembo yang Dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia?

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

BNI dan Unpad Perkuat Ekosistem Kampus melalui Layanan Digital Terintegrasi

Minggu, 20 September 2026 | 17:28

Selengkapnya