Berita

bambang susilo/ist

BATAL KE BELANDA

Belanda Lanjutkan Politik Pecah Belah

RABU, 06 OKTOBER 2010 | 18:13 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

RMOL. Presiden Susilo Bambang Yudhyono sudah tepat membatalkan kunjungan kenegaraan ke Belanda kemarin. Karena bukan tidak mungkin akan ada masalah lanjutan bila RI-1 itu tetap berangkat ke negeri Ratu Beatrix itu.

"Langkah Presiden tepat, tidak melanjutkan perjalanan ke negeri kincir angin karena akan menimbulkan masalah lanjutan," kata anggota Dewan Perwakilan Daerah Bambang Susilo kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Rabu, 6/10).

Bambang Susilo menilai pemerintah Belanda tidak menghormati Presiden Republik Indonesia karena mengizinkan pengadilan di Den Haag menggelar sidang tuntutan Republik Maluku Selatan yang meminta agar Presiden SBY ditangkap saat berkunjung ke negeri tersebut. Padahal, Presiden SBY merupakan tamu kenegaraan.


Menurutnya, sikap standar ganda Belanda itu harus disikapi tegas, apalagi yang mempersoalkan itu adalah Republik Maluku Selatan. RMS sendiri bagi bangsa Indonesia, lanjut dia, adalah kelompok separatis yang mengancam keutuhan NKRI.

"NKRI merupakn harga mati. Pembatalan kunjungan ini menjadi sinyal bagi Belanda bahwa tida ada toleransi bagi RMS," katanya.

Meski sebenarnya Presiden mempunyai kekebalan diplomatik dan itu menjadi kekebalan hukum internasional, menurutnya, memakaskan kunjungan kenegaraan hanya akan membesarkan RMS saja. Tegas dia, bangsa Indonesia punya pengalaman pahit dijajah Belanda selama tiga setengah abad.

"Politik kotor Belanda akan terulang melihat standar ganda terhadap Indonesia sebagai suatu negara berdaulat dan RMS sebagai separatis," katanya.

Harusnya, Belanda mendukung Indonesia dalam memerangi separatis yang mengganggu kedaulatan negeri ini. "Ini malah dipelihara di negaranya," katanya mempertanyakan.

Apa yang dilakukan pemerintah Belanda itu, kata dia, sekali lagi menunjukan mental dan watak asli sebagai bangsa penjajah.

"Politik divide at impera atau pecah belah kembali diperagakan. Sikap manis di depan tapi nyatanya menusuk dari belakang. Faktanya mereka malah pelihara separatis RMS," katanya. [zul]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Analisis di Balik Penerimaan Eksepsi Dokter Tifa

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:52

Legislator PDIP Desak Pemerintah Benahi Infrastruktur Hulu Migas

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:34

Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling Berbahaya Saat Ini

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:17

PABPDSI Kawal Program Nasional Hingga ke Desa Lewat 8 Satgas Asta Cita

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:55

MBG dan Peluang Besar Bangun Ekonomi Desa

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:30

Pemerintah Buka Opsi Biayai Utang Proyek Whoosh Pakai Panda Bond

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:05

Korupsi Pakan Satwa Rp10,2 Miliar, DPR Minta Eks Dirut KBS Dihukum Berat

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:45

Lulus S2 Hukum, Mikael Saragih Ungkap PR Hukum Indonesia Tak Lagi soal Kekurangan UU

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:37

BEM Kristiani Se-Indonesia Desak Kejagung Segera Tangkap Febrie Adriansyah

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:16

Polri dan FBI Sepakat Perkuat Kerja Sama Penanganan Kejahatan Transnasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:03

Selengkapnya