Berita

Ikohi Semakin Yakin SBY Tak Punya Komitmen Penegakan HAM

SELASA, 28 SEPTEMBER 2010 | 10:26 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (Ikohi) semakin yakin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak memiliki komitmen untuk menegakkan nilai-nilai Hak Asasi Manusia.

Kesimpulan itu semakin kuat setelah pihak Kepolisian membubarkan paksa Ikohi yang  sedang menggelar tenda keprihatinan korban pelanggaran HAM kemarin petang di sekitar Tugu Monas Jakarta (Senin, 27/8).

"Pembubaran aksi tenda keprihatinan korban pelanggaran HAM yang mendesak Presiden SBY untuk melaksanakan rekomendasi DPR tentang kasus penghilangan paksa menunjukkan Presiden SBY tidak memiliki komitmen terhadap penegakan HAM," tegas Ketua Ikohi Mugiyanto dalam keterangan pers kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 28/9).


Karena itu, Ikohi sendiri mengecam keras tindakan pembubaran tenda keprihatinan korban pelanggaran HAM dan penangkapan 30 orang peserta aksi itu. Padahal, katanya, Ikohi hanya mendesak Pemerintah untuk segera melaksanakan empat rekomendasi Panitia Khusus DPR tentang kasus penghilangan paksa akitivis 1997/1998.

"Pengabaian rekomendasi DPR tentang kasus penghilangan paksa 1997/1998 oleh Presiden SBY menunjukkan bahwa Presiden SBY tidak memiliki komitmen terhadap penuntasan kasus penghilangan paksa, dan berpotensi melanggar konstitusi," tegasnya.

Untuk itu, Ikohi mengajak seluruh elemen gerakan rakyat untuk bersama-sama mendesak Presiden SBY melaksanakan rekomendasi DPR itu dengan titik prioritas pada usaha pencarian 13 orang yang masih hilang.

Dia menambahkan, Ikohi sendiri tidak akan pernah surut dalam memperjuangakan dan menuntut pemerintah untuk melaksanakan rekomendasi DPR tersebut. Makanya, hari ini pukul 15.00 WIB keluarga korban penghilangan paksa akan kembali mengadakan aksi tenda keprihatinan korban pelanggaran HAM di depan Istana negara. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya