Berita

HENDARMAN ILEGAL

Inilah Daftar Keteledoran Istana

SELASA, 28 SEPTEMBER 2010 | 09:01 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Ketiadaan Keputusan Presiden untuk Hendarman Supandji sebegai Jaksa Agung pada saat pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu II ternyata bukanlah keteledoran pihak Istana yang pertama kali.

Sebelumnya, pihak Istana juga telah melakukan keteledoran alias kesalahan dalam hal administrasi. Hal itu dikatakan anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo kepada Rakyat Merdeka Online semalam.

"Sebelumnya, Presiden telah melanggar konstitusi karena memperpanjang masa jabatan Komisi Yudisial dengan Keppres," tegas Bamsoet, panggilan akrabnya.


Tak sampai disitu, politisi Partai Golkar ini pun membeberkan fakta keteledoran pihak Istana lainnya. Yaitu, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat Tumpak Hatorangon Panggabean dan Mas Ahmas Santosa sebagai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan peraturan pengganti undang-undang.

"Ini jelas salah, sebab KPK bukan bagian dari pemerintah. Hanya saja dua preseden terakhir tidak ada yang menggugat ke MK," imbuh Bamsoet.

Daftar keteledoran Istana bisa saja bertambah. Hal ini kalau pihak Istana salah mengajukan calon Kepala Kepolisian Republik Indonesia ke DPR. Karena satu di antara dua calon yang sudah masuk kantong SBY saat ini, menurutnya, tidak memenuhi kriteria.

"Calon Kapolri yang diajukan tidak sesuai ketentuan dalam UU No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian RI pasal 11 ayat 6. Yaitu, Calon Kapolri adalah perwira tinggi yang masih aktif dengan memperhatikan jenjang kepangkatan dan karir," jelasnya lagi tanpa menyebutkan nama calon yang dimaksud.

Untuk itu, agar Presiden SBY tidak lagi salah dalam hal administrasi, Bamsoet mendesak Presiden SBY segera mengadakan perombakan dan pembenahan di lingkungan Istana. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya