RMOL Insiden amblesnya Jalan Arteri RE Martadinata di Jakarta Utara yang menghubungkan Ancol – Tanjung Priok diduga tidak terlepas dari pergerakan intrusi air laut yang berakibat pada penurunan permukaan tanah di sejumlah lokasi wilayah DKI Jakarta.
Seperti dikatakan anggota Komisi V DPR RI, Yudi Widiana Adia, peta pergerakan intrusi air laut sangat penting dan mendesak untuk dijadikan dasar pertimbangan kebijakan pembangunan infrastruktur, khususnya di kawasan yang tidak jauh dari kawasan pesisir. Untuk itu, pihaknya melalui komisi bidang perhubungan dan pekerjaan umum akan meminta Kementerian Pekerjaan Umum agar menyampaikan data pergerakan intrusi air laut di wilayah Ibukota Jakarta.
"DPR akan meminta Menteri PU untuk menyediakan peta pergerakan intrusi air di Jakarta yang paling mutakhir,” ujar Yudi, Sabtu (18/9).
Menurut dia, seharusnya informasi mengenai pergerakan intrusi air laut itu diberikan kepada masyarakat secara terbuka. Peta dan data pergerakan intrusi air bukan hanya diperlukan terkait persoalan sanitasi lingkungan, khususnya ketersediaan air bersih bagi warga Jakarta, namun juga menyangkut kebijakan pembangunan infrastruktur, baik jalan maupun gedung. Agar diketahui, intrusi air laut telah menciptakan rongga-rongga besar di dalam lapisan tanah yang berakibat menurunnya permukaan lapisan tanah.
“Jika tidak diantisipasi, jelas itu sangat berbahaya bagi infrastruktur yang ada maupun yang sedang dibangun,” tutur Yudi.
Yudi juga meminta Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo untuk lebih tegas mengatur dan membatasi penggunaan air tanah di Ibukota. Penurunan lapisan tanah dalam jangka panjang bisa berdampak pada makin rapuhnya soliditas infrastruktur di Ibukota yang pada akhirnya menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar.
[wid]