RMOL. Acara bagi-bagi duit kepada mayarakat yang dibungkus lewat open house silaturrahim Lebaran merupakan cara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk dicitrakan dekat dengan rakyat. Namun sayang, acara open house itu harus berakhir dengan tragis dengan meninggalnya seorang tunanetra, Jhony Malela.
"Istana kan sebenarnya ingin dicitrakan dekat dengan rakyat. Tapi karena tidak pandai mengelolanya, kemudian berakhir tragis. Ini menjadi semacam pembuktian saja, bahwa tamu yang datang ke Istana saja, Presiden tak bisa mengelolanya. Apalagi mau mengelola negeri ini. Bayangkan, rakyat meninggal di halaman depan rumah Presiden," sebut pengamat politik dari Universitas Prof Dr Hamka M Dwi Fajri kepada Rakyat Merdeka Online (Senin, 13/9).
Selain itu, masih kata Fajri, cara SBY untuk dekat dengan rakyat masih belum berubah. SBY masih mengandalkan uang. Fajri kemudian mengingatkan, bahwa kemenangan SBY pada pemilihan presiden tahun 2009 lalu sedikit banyak juga dipengaruhi program bantuan langsung tunai yang ia telurkan menjelang akhir masa kepemimpinannya yang pertama.
"Apa yang dilakukan Presiden ini bisa disebut melanggengkan agar orang-orang tetap menjadi peminta-minta. Seorang Presiden kerjanya bukan bagi-bagi duit. Tapi membuat kebijakan dan program yang bisa menyejahterakan rakyat. Ini juga membutikan bahwa SBY kekurangan visi dalam membangun negeri ini," tegasnya.
[zul]