Berita

Bamsoet Yakin Mafia Hukum Merajalela bila SBY Tak Sinergikan Polri, Jagung, MA, dan KY

SENIN, 13 SEPTEMBER 2010 | 08:53 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum tak akan pernah mampu memerangi mafia hukum. Mafia hukum bisa diberantas jika ada sinergi yang mengikat antara Polri, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial.

Anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo mengatakan untuk mewujudkan sinergi itu, kewenangannya ada pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kalau konsisten mau memerangi mafia hukum, tambah Bamsoet, panggilan akrabnya, Presiden harus mendorong terwujudnya sinergi itu.

"Pemilihan kapolri baru dan jaksa agung baru bisa dijadikan momentum untuk mewujudkan sinergi itu.Presiden hanya meminta komitmen dan memerintahkan kapolri dan jaksa agung baru untuk bekerja sama dan bersinergi memerangi mafia hukum," jelasnya kepada Rakyat Merdeka Online kemarin.


Menurut Bamsoet, sinerg itu menjadi kebutuhan mutlak, mengingat mafia hukum hidup dan beroperasi pada lingkup atau areal tugas, polisi, jaksa dan para hakim di pengadilan. Bahkan dalam kasus penggelapan pajak dengan tersangka Gayus Tambunan tampak begitu jelas oknum polisi, oknum jaksa, dan oknum hakim justru berperan menjadi bagian dari mafia hukum itu sendiri.

"Hasil mereka membebaskan Gayus Tambunan," imbuh politisi Partai Golkar ini.

Fakta dalam kasus Gayus itu, masih kata Bamsoet, menjelaskan bahwa tanpa sinergi antara Polri, Kejaksaan Agung, MA serta KY pemberantasan mafia hukum tak akan pernah membuahkan hasil signifikan. Sebab, aksi pemberantasan harus dimulai dengan memerangi oknum penegak hukum yang menjalankan praktik mafia hukum.

"Dan mereka, oknum-oknum itu, ada di semua institusi penegak hukum. Karenanya dalam memerangi oknum-oknum itu, Polri, kejagung, MA dan KY harus satu visi. Oknum-oknum yang dicurigai bermasalah tak boleh lagi diklaim sebagai masalah internal yang bersangkutan sebagaimana kebiasaan selama ini," demikian politisi mantan wartawan ini. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya