RMOL. Indonesia belum pernah memiliki kisah sukses untuk dijadikan sebagai model atau kiblat bagi negara-negara lain.
Demikian dikatakan Gurubesar Fakultas EKonomi Universitas Kristen Satya Wacana Hendrawan Supratikno kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Senin, 6/9).
"Beda dengan Washington Consensus (kapiltalisme liberal) atau Beijing Consensus (ekonomi pasar sosialisme). Jakarta Identik dengan manajemen pembangunan berbasis utang dan eksploitasi sumber daya alam," ujarnya.
Dengan demikian, anggota komisi VI DPR ini kuatir Indonesia akan jadi bahan tertawaan negara lain, bila Presiden SBY terus mengkampanyekan "The Jakarta Consensus".
Seperti diberitakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mewacanakan "The Jakarta Concensus" yang isinya cita-cita Indonesia jadi kiblat ekonomi dunia seperti halnya Washington Concensus dan Beijing Concensus.
"Kita mengenal Washington Concensus yang berprinsip market kapitalis dan juga Beijing Concensus yang prinsipnya state kapitalis. Lantas Indonesia kemana?" kata SBY dalam agenda buka puasa bersama di kediaman pribadi Presiden Yudhoyono di Puri Cikeas Indah, Bogor, Minggu (5/9).
Ada enam prinsip dalam konsensus ini. Pertama, menjalankan demokrasi, hukum dan stabilitas. Kedua, peran pemerintah sangat diperlukan tapi kemampuan pasar harus kompetitif.
Ketiga, mengkombinasikan antara kekuatan ekonomi global namun juga memberi ruang bagi usaha domestik termasuk ruang untuk UKM. "Jadi tidak hanya korporasi multinasional, tapi juga domestik dan UKM," jelasnya.
Empat, pertumbuhan ekonomi penting namun menjaga keadilan sosial serta lingkungan tetap harus dilakukan. Lima, ekspor tetap jadi tulang punggung perekonomian, tapi memperkuat pasar domestik juga harus dilakukan.
Enam, menjalankan sistem presidensial dengan demokrasi multipartai. "Jika keenam elemen ini konsisten dijalankan, maka kita punya sistem yang konsistem yang bisa kita jadikan patokan dan anut," tegasnya.
[zul]