Berita

Wawancara

Ginandjar Kartasasmita: Pembangunan Gedung & Rumah Dinas Sebaiknya Dimoratorium Lima Tahun

SENIN, 06 SEPTEMBER 2010 | 00:12 WIB

RMOL.Pembangunan gedung baru DPR yang bakal menghabiskan dana Rp 1,6 triliun terus menuai kritikan. Anehnya, tak ada tanda-tanda proyek tersebut dihentikan. Ketua DPR Marzuki Alie malah menjawab semua kritikan itu dengan kata-kata yang hampir mirip dengan ‘so must go on’. Tak perduli kritik, Marzuki me­mastikan proyek pembangu­nan gedung DPR terus berjalan.

“Marilah kita berpikir rasio­nal, panitia kerja pembangunan ge­dung kan sudah bekerja juga men­jalankan usulan anggota DPR lalu. Masa harus dibatalkan tiba-tiba,” tegas Marzuki di Ge­dung DPR.

Terlebih lagi, lanjut dia, se­bagian dana juga sudah dipakai untuk membayar konsultan. Kalau dibatalkan, tentu semua kerja keras anggota DPR periode sebelumnya menjadi sia-sia.

“Konsultannya sudah dibayar, desainnya sudah selesai untuk 27 lantai. Kemudian kita rencanakan menjadi 36 lantai karena satu anggota Dewan akan dilengkapi 5 staf ahli,” kata politisi asal Palembang, Sumatera Selatan ini.

Dia meminta anggota DPR yang menolak pembangunan gedung baru tidak melontarkan pernyataannya di luar gedung parlemen dengan mencari pang­gung sendiri. Dia menegaskan, rencana pembangunan gedung sudah dikonsultasikan kepada MPR dan DPD, termasuk fraksi, dan semuanya menyatakan setuju.

Marzuki juga membantah gedung baru itu akan mirip hotel yang serba dilengkapi alat fitness, spa dan kolam renangnya. Ken­dati demikian, masyarakat dan pejabat tetap tak terima dengan hajatan para wakil rakyat itu.

Salah satu pejabat yang tak suka dengan proyek ini adalah Ginandjar Kartasasmita, anggota Wantimpres yang juga bekas ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan bekas Menko Ekuin. Berikut komentarnya.

Setujukan Anda dengan pem­bangunan gedung baru DPR?

Sebaiknya pembangunan ge­dung baru DPR dibatalkan, se­tidaknya ditunda dulu. Ba­nyak prioritas lain yang le­bih tinggi baik di bidang eko­nomi mau­pun pertaha­nan kea­manan.

Ada alasan lain?

Selain itu, kan Presiden baru saja menyatakan ada rencana memindahkan Ibu­kota. Buat apa kita mem­bangun gedung DPR baru, kalau toh ada kemung­kinan Ibukota pin­­dah. Yang se­karang juga bisa berfungsi, kok. Perbaiki saja ke­ku­ra­ngan­­nya.

Bukankah eko­no­mi kita se­dang da­lam kon­disi yang baik?

Di bidang ekonomi, mes­kipun secara makro berbagai indikator menu­jukkan ekonomi kita baik, namun di tingkat ma­sya­rakat banyak sekali masa­lah. Kalaupun ada dana untuk in­ves­tasi ja­ngan untuk ge­dung, tetapi untuk pra­sa­rana eko­nomi yang sangat men­desak seperti jalan dan listrik.

Apa ada prioritas lain selain sarana dan prasarana ekonomi?

Di bidang pertahanan keama­nan sungguh sangat men­desak membangun daya tangkal di wi­layah perbatasan. Ini bukan ha­nya reaksi terhadap ulah Ma­lay­sia menangkap petugas ne­gara yang harus bertugas tapi tidak dilengkapi peralatan yang cu­kup. Meskipun ma­salah itu memang menjadi pe­micu, namun ke­kuatan di lapangan perlu untuk men­jaga semua wila­yah kita yang kritis dan sen­sitif, karena ada potensi kon­flik batas wi­layah dan pe­ram­bahan keka­yaan alam kita. Ma­sa­lah ke­dau­latan bukan ha­nya per­soalan po­li­tik, te­tapi juga me­nyangkut kepen­ting­an eko­nomi.

Apa saran Anda?

Saya sarankan dana Rp 1,6 triliun untuk pem­­bangu­nan ge­dung DPR itu dialihkan untuk mem­bangun kekuatan per­tahanan dan kea­manan di la­pang­an. Ka­rena dana itu sudah ter­sedia, bisa segera digunakan untuk meleng­kapi pe­ralatan dan latihan (exer­cises), tidak perlu menunggu antre prioritas. Kita harus men­dukung kebi­jakan pemerintah di bidang diplomasi. Memang de­wasa ini pendekatan soft power diutama­kan di dunia diplomasi, tapi ada­gium speak softly but carry a big stick masih tetap berlaku.

Andai anggaran gedung itu disetujui untuk pertahanan, alo­kasinya untuk beli apa?

Anggaran itu bisa segera di­belikan kapal-kapal patroli cepat dengan dukungan kekuatan udara taktis yang memadai, mi­salnya, di samping pesawat ter­bang, juga combat helicopter dan satuan-satuan roket (missile), baik ground to air maupun surface to surface. Tentu sarana komu­nikasi sangat vital, maka jaring­an radar dan komunikasi lapa­ngan harus dibangun dan dijaga keandalan­nya. Memang untuk membangun kekuatan esensial yang minimal itu mema­kan wak­tu, tapi bisa dipercepat dengan mengalihkan dana ekui­valen 120 juta dolar AS dari pembangunan gedung DPR itu.

Cukup dengan mengalihkan anggaran pembangunan ge­dung DPR saja?

Jangan berhenti di situ. Saya usulkan semua rencana pem­ba­ngu­nan gedung yang tidak men­desak, baik di pusat maupun di daerah, baik untuk badan-badan eksekutif maupun legis­latif, di­hentikan. Diadakan mo­rato­rium pembangunan gedung dan peru­mahan dinas selama lima tahun. Dana yang telah diren­canakan untuk itu kita alihkan untuk membangun prasarana ekonomi, khususnya jalan dan listrik.

Kapan tepatnya moraturium ini dilakukan?

Kebijakan pengalihan angga­ran dan moratorium pembangu­nan gedung itu harus diambil segera, karena kita sedang mem­bahas RAPBN 2011. Saya sangat mengharapkan kepekaan DPR, sebagai pemegang hak anggaran negara untuk mengambil langkah yang benar, yang tidak melawan dan melukai hati rakyat, dan me­nempatkan prioritas sesuai dengan urgensinya. [RM]


Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya