RMOL. Sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang lamban dalam menuntaskan persoalan dengan negara tetangga Malaysia, juga dikesalkan purnawirawan jenderal.
"Pandangan saya, ya sama seperti pandangan masyarakat umum. Ini sebetulnya, karena lemahnya kepemimpinan nasional kita," ujar mantan Komandan Jenderal Marinir TNI Angakatan Laut era 1996-1999 Letnan Jenderal (purn) Suharto kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Rabu, 1/9).
Untuk itu, dia meminta, dalam pernyataan sikap pemerintah Indonesia nanti malam di Markas Besar TNI Cilangkap, Presiden SBY harus menyampaikan pesan yang tegas. Bukan lagi menyuguhkan pelajaran dengan segala macam teori.
"(Pemilihan Cilangkap) bisa tepat, asal ada pernyataan yang menggigit, tepat dan tidak cuman kasih pelajaran atau teori saja. Kalau seperti itu, tidak ada artinya," tegasnya.
"Saya perhatikan kemarin waktu di Sidang Kabinet, Presiden hanya memberikan pelajaran dan teori. Padahal kita butuh seorang komandan, bukan hanya seorang guru. Karena kepala negara itu ada presiden, pemimpin, komandan, pembina, bapak, guru, sahabat. Jadi bukan hanya guru saja. Harus paripurna," katanya lagi.
Bagaimana kalau Presiden tidak memberikan pernyataan yang tegas, apakah ini akan menurunkan wibawa Markas TNI?
"Mabes TNI tidak akan turun wibawanya. Mabes TNI itu
under bouw Presiden. Dia akan bergerak kalau disuruh bergerak. Kalau disuruh ngopi-ngopi dan buka puasa saja, ya ngopi dan buka puasa. Makanya kita butuh komandan," jawabnya.
[zul]