RMOL. Nusakambangan, sebuah pulau dimana sebuah LP bagi pelaku kriminal berat didirikan, ternyata memiliki manfaat luar biasa bagi warga Cilacap kota. Nusakambangan menjadi tameng Cilacap jika terjadi tsunami di Samudera Selatan Jawa.
“Juli Tahun 2006 ketika terjadi tsunami Pangandaran Kota Cilacap tetap utuh. Begitu pun dengan warga pesisirnya. Mereka semua selamat,” ujar Ketua 3 Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, Parjo, sesaat lalu.
Parjo mengaku tidak membayangkan seandainya Nusakambangan tidak ada. Bisa jadi, Kota Cilacap juga akan luluh lantak seperti kota lain yang dihantam tsunami.
Wilayah Cilacap yang relatif aman dari hantaan tsunami adalah wilayah kota dan Cilacap Timur. Lebih ke Timur lagi, seperti Adipala dan pantai Widarapayung sudah tidak lagi terlindungi. Saat terjadi tsunami empat tahun lalu, dua wilayah ini menjadi wilayah terparah. Puluhan orang menjadi korban ganasnya ombak setinggi 4 meter.
Koordinator LSM Bina Alam Lestari (BAL) Cucu Iskandar mengatakan, efektifitas Nusakambangan untuk menahan hantaman tsunami perlu dijaga. Salah satunya dengan menjaga kelestarian hutan primer dan hutan bakau di sekitarnya. Selain itu, penambangan pasir besi juga harus dikurangi untuk menjaga kelestarian hutan.
Abrasi terus menerus bisa menyebabkan ketingggian pulau Nusakambangan berkurang. Dengan demikian, jika suatu saat terjadi tsunami, air tetap menerjang hingga wilayah Pelabuhan Tanjung Intan dan kota.
Nusakambangan harus dijaga agar tetap lestari. Jangan sampai Nusakambangan rusak. Pasalnya, Nusakambangan menjadi tameng jika terjadi tsunami atau gelombang tinggi,” jelasnya.
Sabtu Pukul 18.41 WIB, warga Cilacap kembali merasakan gempa yang berpusat di 8.03 Lintang Selatan (LS), 110.39 Bujur Timur (BT), berada di 15 kilometer tenggara Bantul. Pusat gempat di kedalaman 10 kilometer di bawah laut.
[arp]