Berita

GRASI KEPADA KORUPTOR

Kubu Wiranto: SBY Juga Tak Wajib Dishalatkan

JUMAT, 20 AGUSTUS 2010 | 09:48 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Usul Organisasi Kemasyarakatan Islam Nahdlatul Ulama agar para koruptor tidak dishalatkan ketika wafat terus mendapat dukungan.

Kali ini, kubu Jenderal (Purn) Wiranto di barisan Partai Hanura yang mengapresiasi usul tersebut.

"Saya sangat sepakat. Walaupun itu hanya berupa sanksi sosial terhadap koruptor. Karena sudah tidak ada lagi cara-cara yang bisa membuat koruptor jera. Dihukum seberat apapun tetap saja. Karena faktor keserakahan, tidak ada rasa malu. Saya sangat setuju dengan fatwa NU," ujar Wakil Ketua Fraksi Hanura Syarifuddin Sudding kepada Rakyat Merdeka Online (Jumat, 20/8).


Tak hanya itu, anggota Komisi III DPR ini juga menilai para pejabat yang memberikan peluang kepada para koruptor keluar dari penjara juga tidak layak untuk dishalatkan.

"Ya itu salah bentuk kerja sama dengan koruptor. Pejabat yang memberikan peluang bagi koruptor untuk dibebaskan itu merupakan perbuatan turut serta dalam tindak pidana korupsi. Orang itu wajib tidak dishalatkan," tegas Sudding.

Hal itu dikatakan Sudding saat ditanya bagaimana dengan pemerintah yang memberikan remisi kepada para koruptor dan Presiden SBY sendiri yang memberikan grasi kepada Syaukani.

Syaukani yang juga mantan bupati Kutai Kertanegara ini merupakan terpidana korupsi penyalahgunaan dana perangsang pungutan sumber daya alam (migas), dana studi kelayakan Bandara Kutai, dana pembangunan Bandara Kutai, dan penyalahgunaan dana pos anggaran kesejahteraan masyarakat. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya