Berita

PRESIDEN TIGA PERIODE

Tanpa 'Restu' SBY, Ruhut Tak Berani usul Perpanjangan Masa Jabatan

JUMAT, 20 AGUSTUS 2010 | 08:57 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Keberanian juru bicara DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul mewacanakan amandemen UUD 1945 tentang masa jabatan presiden menjadi tiga periode yang memungkinkan Susilo Bambang Yudhoyono maju kembali pada 2014 mendatang karena ada stimulus dari SBY sendiri.

Hal itu dikatakan pengamat komunikasi politik Gun Gun Heryanto kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Jumat, 20/8).

Menurut Gun Gun setidaknya ada dua stimulus bagi Ruhut yang juga anggota Komisi III DPR itu berani membuka wacana yang dianggap tabu oleh publik setelah rezim orde baru tumbang itu. Pertama, urai Gun Gun, Presiden SBY di bebarapa kesempatan mengatakan UUD 1945 bukan sesuatu yang sakral yang tidak bisa diotak-atik. Kata SBY pada waktu itu, terangnya, hanya kitab suci yang tidak bisa diganti.
 

 
"Kedua, pada saat Ruhut menyampaikan wacana itu kepada SBY, SBY juga mengatakan bahwa ada tokoh internasional, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew yang juga mengatakan hal yang sama. Ini memberi peluang kepada kader yang oportunistik mewacanakan itu. Tanpa disadari SBY sendiri yang menstimulusnya," ujar Gun Gun.

Apalagi, tambah Gun Gun, pada saat Ruhut menyampaikan wacana itu kepada SBY, SBY sendiri tidak melarang dan berupaya mencegah Ruhut mewacanakan masa perpanjangan masa jabatan itu.

Dari hasil penelusuran Rakyat Merdeka Online, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pidato Kenegaraan serta Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN 2008 Beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR-RI, Kamis, 16 Agustus 2007, SBY sempat menyelipkan kalimat sebagai berikut.

"Memang, kita tidak ingin Pancasila dan UUD 1945 kita sakralkan, karena memang keduanya tidak perlu disakralkan. Namun, pemikiran untuk mengganti Pancasila dengan ideologi dan dasar negara lain, ataupun untuk mengubah Pembukaan UUD 1945 yang merupakan ruh dan jiwa dari konstitusi kita, tentulah tidak akan kita berikan tempat dalam kehidupan bernegara kita," ujar SBY kala itu.

Demikian pula, pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memberikan sambutan pada acara buka puasa bersama dengan pimpinan DPD di akhir November 2009.

''Tidak perlu sakralisasi bentuk-bentuk demokrasi termasuk UUD. UUD bukan kitab suci,'' ujarnya di Jakarta. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya