Berita

Pengamat: Tarik Otonomi dari Kabupaten ke Provinsi

RABU, 11 AGUSTUS 2010 | 09:50 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Usulan Ketua DPR Marzuki Alie agar gubernur dipilih oleh DPRD dinilai tidak tepat. Jika alasannya untuk menghindari kerusuhan dan biaya penyelenggaraan pemilihan gubernur yang sangat tinggi.

"Kalau alasan itu tidak tepat. Karena dalam sistem desentralisasi di Indonesia, desentralisasi itu pada tingkat II, kabuaten/kota. Provinsi adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat. Yang tepat adalah ditunjuk oleh presiden karena gubernur pejabat setingkat menteri," ujar pengamat otonomi daerah Pramono Ubaid Thantowi kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Rabu, 11/8).

Pramono kemudian menjelaskan, alasan dikeluarkannya kebijakan otonomi daerah atau desentralisasi setelah masa pemerintahan Orde Baru runtuh. Pada saat itu banyak daerah yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Makanya, dikeluarkan kebijakan desentralisasi. Tapi tidak pada tingkat I, melainkan tingkat II sebagai jalan moderat.


"Tapi desentralisasi pada tingkat kabuaten/kota itu tidak efektif. Karena satuan pemerintahnya terlalu kecil dan sangat jauh dari kendali pemerintah pusat. Akhirya banyak melahirkan raja-raja kecil," katanya menyayangkan.

Dari itu, menurutnya, lebih baik UU Otonomi Daerah direvisi sehingga desentralisasi ada pada tingkat provinsi. Jika demikian, dia mengatakan, barulah gubernur dipilih secara langsung oleh rakyat atau DPRD. Provinsi yang ada di Indonesia jadi seperti negara bagian yang ada di Malaysia atau di Amerika. Dengan cara ini pemerintah pusat akan lebih mudah mengontrol puluhan provinsi daripada ribuan kabupaten/kota.

Sedangkan untuk bupati dan walikota, lanjutnya, akan ditunjuk oleh gubernur karena sebagai kepanjangan tangannya untuk daerah itu.

"Selama ini gubernur dipilih langsung, hanya karena, masak bupati dan presiden dipilih langsung sedangkan gubernur tidak," tandasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya