Berita

Salah SBY, Kenapa Pilih Boediono

SELASA, 10 AGUSTUS 2010 | 08:49 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL.Lambannya pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di negeri ini salah satunya karena presiden dan wakil presiden Republik Indonesia memiliki karakter yang sama. Keduanya memiliki karakter penuh pertimbangan.

Makanya, banyak yang melihat, Presiden SBY seolah berkerja sendiri dalam menanggapi isu-isu yang menjadi keluhan publik. Sementara Boediono, cenderung defensif.
 
"Saya kira Pak SBY sudah menyadari karakter Pak Boediono yang menurut Anas (Ketua Umum Demokrat) tempatnya di kamar kerja bukan kamar publik. Makanya saya heran kenapa memilih Boediono. Karena karakter keduanya terlalu berhati-hati dan penuh dengan pertimbangan," ujar pengamat politik Burhanuddin Muhtadi kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 10/8).


Menurut Burhan, semestinya pada saat pemilihan presiden lalu, SBY memilih Jusuf Kalla sebagai wakil presiden. Keduanya saling  melengkapi karena memliki karakter yang berbeda. Ibaratnya, SBY sebagai pedal yang mengeres, sedangkan JK laksana gas yang progressif.

"Jadi kita tidak bisa salahkan Pak Boediono. Salah Pak SBY sendiri kenapa memilih Pak Boediono. Dan kita tidak bisa memaksakan Pak Boediono untuk keluar dari karakternya. Dalam soal ekonomi, Pak Boediono sukses. Seperti meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi. Tapi yang menyangkut kebutuhan ril, memang belum," tandasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya