RMOL. Dalam satu tahun usia Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, masyarakat tidak merasakan ada perbaikan signifikan yang ditorehkan oleh pemerintah dalam kehidupan rakyat kebanyakan.
Bahkan masyarakat merasa tidak ada satu pengambilan keputusan yang berkenan dengan hajat hidup orang banyak.
"Rakyat tidak ada yang mengurus. Ledakan tabung gas siapa yang bertangung jawab, tidak jelas. Begitu juga oplosan bensin, Lumpur Lapindo, tidak jelas siapa yang bertanggung jawab. Kasus Bank Century jusrtu dibarter," ujar aktivis koalisi Masyarakat Sipil anti Korupsi (Kompak) Ray Rangkuti kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Senin, 9/8).
Ray melihat, selama ini pemerintah dan elit politik hanya sibuk dengan kekuasaannya semata dan memikirkan bagaimana citranya harus tetap baik. Sedangkan rakyat seolah disuruh menderita sendiri tanpa ada yang memikirkan.
"SBY hanya selalu mencari simpati. Tiba-tiba mendatangi Tama. Padahal sampai saat ini, siapa pelaku belum juga ditemukan. Soal rekening Polri juga tidak jelas, siapa yang jadi terdakwa. Begitu juga soal mafia hukum, Edmon dan Raja jusru santai-santai saja," imbuh Ray.
Di tengah rakyat sedang menderita, tambah Ray, Presiden justru mencari simpati dengan mengatakan akan dibunuh teroris. Padahal menurutnya, tidak ada teroris yang mau membunuh kepala negara.
"Kepala negara itu dibunuh paling oleh para koruptor, mafia, atau kelompok separatis dari suatu negara. Jadi tidak ada teroris mau membunuh kepala negara," tegas Ray.
[zul]