Jakarta, RMOL. Spekulasi menyeruak begitu Ahmad Syafi’i Maarif tidak ikut menentukan 12 besar calon Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ada yang menilai, bekas Ketua Umum PP Muhammadiyah itu tidak ikut karena ada permasalahan di internal Panitia Seleksi (Pansel), terutama menyangkut siapa yang masuk 12 besar.
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Patrialis Akbar memang sudah membantah bahwa tidak ada permasalahan di internal Pansel, sehingga Syafi’i Maafif tidak bisa hadir saat rapat Jumat malam (30/7) hingga Sabtu dini hari.
“Beliau sudah bilang ada keperluan. Beliau sudah izin kok. Jadi, tidak ada masalah,’’ kata Patrialis.
Namun begitu, sebelum ada pernyataan dari Syafi’i Maarif tentu tetap saja menimbulkan spekulasi macam-macam.
“Jangan berprasangka buruk, saat itu saya pergi ke Eropa, makanya tidak bisa hadir saat penentuan 12 besar calon Ketua KPK itu,’’ ujar Ahmad Syafi’i Maarif, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Berikut kutipan selengkapnya:
Jadi, tidak ada maslah ya?
Nggak ada. Saat itu saya cuti ke Eropa.
Mana tahu Anda merasa ada yang tidak benar dalam proses penyeleksian?
Mana tahu Anda merasa ada yang tidak benar dalam proses penyeleksian?
Oh, nggak. Semuanya berjalan sesuai aturan kok.
Mana tahu ada intervensi agar meloloskan tokoh-tokoh tertentu?
Tidak ada yang bisa intervensi. Saya menjamin tidak ada intervensi.
Termasuk dari penguasa?
Ya, termasuk dari pemerintah. Saya jamin tidak ada tekanan dari pemerintah. Lagipula kan kami juga nggak mau ditekan.
Jadi, 12 besar calon Ketua KPK itu nggak ada hasil rekayasa?
Belum ada. Yang kita pilih bukan ketua kok. Yang ketua nanti kita yang pilih sendiri, sehingga ada enam atau empat orang. Dan kita saring lagi menjadi dua nama calon untuk diajukan ke DPR. Kemudian dipilih menjadi satu orang.
Menurut pengamatan Anda kira-kira siapa yang terpilih jadi Ketua KPK?
Belum bisa saya katakan sekarang. Sebab, masih mengikuti seleksi selanjutnya. Mislanya besok (hari ini,red) seleksi soal profile assessment.
Setelah lolos di tahap ini, peserta akan menjalani tes wawancara dengan Pansel, selesai Kamis. Nanti Jumat atau Sabtu mungkin bisa kita umumkan siapa yang diajukan ke Presiden SBY, dan selanjutnya diserahkan ke DPR untuk fit and proper test.
O ya, dalam acara apa ke Eropa?
Saya diminta berpidato di acara pendidikan.
Bagaimana Anda melihat situsi politik sekarang ini?
Yah, masih kacaulah. Demokrasi kita belum berjalan baik dan belum stabil. Ini artinya kita tidak memiliki kepastian masa depan.
Lantas apa yang harus dilakukan?
Pemimpin kita segera siuman (sadar) dalam mengatasi permasalahan bangsa ini, terutama masalah korupsi. Sangat banyak kasus korupsi di negeri ini, tapi pemimpin kita tidak serius memberantasnya.
Kenapa mereka tidak serius?
Banyak persoalannya. Mental korup negara ini sudah ada sejak dulu, sehingga korupsi sudah menggurita. Bahkan sebagian aparat kita sudah bermental korup.
Apa ada kaitannya dengan peradaban politik kita?
Tentu ada. Peradaban politik kita kan tetap saja rendah dan kumuh.
Maksudnya?
Adanya politik uang merusak moral bangsa ini. Memang setelah reformasi, relatif demokrasi kita ada, dan dipuji, meski berada di tangan mereka yang tidak bertanggung jawab dengan wawasannya yang picik.
Dengan kata lain Anda ingin mengatakan bahwa kualitas demokrasi kita masih rendah?
Ya, seperti itulah. Kualitas demokrasi kita di bawah standar. Ini terjadi gara-gara bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan dengan politik menjadi ajang kompetisi kepentingan-kepentingan sempit kelompok. Bukan untuk mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan seluruh rakyat, seperti yang dicita-citakan para pendiri negeri ini.
Inikah akibatnya biaya politik sangat besar?
Betul, mereka biasanya yang sudah duduk di pemerintahan atau anggota parlemen mencoba mengembalikan investasi yang sudah dikeluarkan. Jadi, masa depan kita memang tidak jelas.
Ngomong-ngomong selain jadi Pansel Ketua KPK, apa saja kegiatannya?
Ya, seperti biasalah, saya masih menulis, mengikuti seminar, dan melakukan olahraga.
[RM]