Jakarta, RMOL. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla semakin sering tampil di publik untuk mengurai benang kusut persoalan ledakan tabung gas ukuran 3 Kilogram. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai sengaja memanfaatkan JK membagi persoalan dan kritikan yang dialamatkan ke pemerintahannya.
"Saya melihat ini bagian dari strategi mendistribusikan persoalan. Karena ledakan tabung gas ini semakin menyudutkan pemerintahan SBY. Ini tali temali dengan persoalan lain, seperti kenaikan harga sembako, dan TDL. Kalau tidak disaring bisa menurunkan, tidak hanya citra pemerintah, tapi juga kredibilitas pemerintah. Makanya, SBY mensaring konflik itu dengan inisiatornya, yaitu JK. Walau pun (JK) bukan lagi bagian dari pemerintah," ujar pengamat komunikasi politik Gun Gun Heryanto saat dihubungi Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Minggu, 1/8).
Saring persoalan yang dilakukan oleh Presiden SBY ini tidak tepat. Menurut Direktur The Political Literacy Institute ini, Presiden SBY seharusnya membebankan persoalan itu ke Pertamina atau kepada menteri yang terkait. Pilihan Presiden SBY ini justru semakin meneguhkan JK, sebagai orang yang siap menghadai konflik dan persoalan. Dan pada saat yang sama, menurutnya, citra SBY sebagai orang yang ragu dan tidak berani ambil risiko dari sebuah persoalan juga semakin menguat.
"Bagi JK ini merupakan investasi nama. Walaupun dia memang memiliki ikatan moral dengan konflik itu (ledakan tabung gas). Karena dia merupakan inisiatornya. Kalau dia sukses akan semakin meneguhkan namanya. Tapi kalau gagal, dia jadi semacam bemper pemerintah. Tapi saya lihat, ini lebih pada challenge bagi JK, sebagai seorang negarawan," tandasnya. [zul]