Koalisi PDIP-Gerindra 2024: Mega-Prabowo Jilid II Atau Batutulis Jilid II?

Selasa, 08 Juni 2021, 14:46 WIB

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto/Net

ADA tiga skenario koalisi PDIP-Gerindra yang bisa diwujudkan pada 2024. Ketiga  skenario ini sama-sama punya potensi kemenangan di Pilpres 2024.

Pertama, Megawati-Prabowo. Ini pasangan gaek antara ketum kedua parpol. Punya pengalaman berduet di Pilpres 2009, berikut kedekatan Megawati dan Prabowo menjadi indikasi kuat.

Dengan skema 'presidential threshold', pasangan ini akan kokoh dalam berkoalisi dan  menjadi opsi Mega-Prabowo jilid II. Tetapi kuatnya oligarki parpol dan gerontokrasi bisa menjadi isu kampanye negatif yang akan dimainkan oleh lawan.

Kelebihan pasangan ini, akan dapat dukungan maksimal relawan sukarnoisme dan bisa di-endorse Presiden Jokowi.

Kedua, Prabowo-Puan. Pasangan ini paling mungkin diwujudkan dan dinilai cocok karena faktor usia (tua-muda), jenis kelamin (pria-wanita), serta latar belakang militer-sipil.

Salah satu kendala dari pasangan ini adalah pandangan bahwa PDIP sebagai parpol pemenang pemilu dengan 128 kursi di parlemen apa mau memosisikan kandidatnya di posisi RI-2? Jawabannya tentu bisa, mengingat elektabilitas Prabowo yang jauh lebih tinggi, begitu juga dengan pengalamannya.

Dan, bisa saja dilakukan redefinisi ulang perjanjian Batutulis.

Jika Batutulis 2009 (jilid I) ada klausul bahwa Prabowo sebagai cawapres Megawati akan didukung oleh PDIP maju sebagai Capres 2014 -yang akhirnya batal karena akhirnya PDIP mencalonkan Jokowi. Maka kebalikannya, Batutulis 2024 (jilid II) juga bisa dibuat klausul bahwa jika Puan Maharani menjadi cawapres Prabowo di 2024, maka Gerindra gantian mendukung pencalonan Puan Maharani sebagai Capres pada tahun 2029 berikutnya.

Ketiga, Ganjar Pranowo-Sandiaga Uno. Ini sebenarnya lebih realistis karena regenerasi kepemimpinan nasional serta elektabilitas dan popularitas yang bagus di mata publik, terutama di medsos. Namun justru pasangan Ganjar-Sandi ini yang punya peluang paling tinggi untuk juara, tetapi justru paling rendah untuk bisa diwujudkan dalam koalisi nasionalis PDIP-Gerindra nanti di 2024.

Karena, walaupun keduanya kader partai berprestasi dari PDIP dan Gerindra, dan masing-masing punya jabatan publik sebagai Gubernur Jateng dan Menparekraf, namun mereka berdua tidak punya power untuk di-support partainya maju di Pilpres 2024.

Bagaimana pun Pemilu 2024 masih jauh. Politik sangat dinamis. Segala sesuatu masih mungkin terjadi di "injury time" dalam politik. Selalu ada faktor X" yang tidak pernah bisa diduga.

Igor Dirgantara
Dosen Fisip Universitas Jayabaya, Director Survey & Polling Indonesia (SPIN)
EDITOR: DIKI TRIANTO

Komentar


Video

RMOL WORLD VIEW • Palestina Tidak Pernah Sendiri

Rabu, 02 Juni 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Membaca Anggaran Alutsista Rp 1,7 Kuadriliun

Kamis, 03 Juni 2021
Video

Tak Berizin dan Undang Ratusan Orang, Hajatan Khitan di Semarang Dibubarkan

Senin, 07 Juni 2021

Artikel Lainnya

HRS Ulama Terzalimi
Publika

HRS Ulama Terzalimi

12 Juni 2021 10:33
Sidang Umum Majelis Iblis Se-Dunia
Publika

Sidang Umum Majelis Iblis Se..

11 Juni 2021 14:28
Modernisasi Alutsista Sebagai Keniscayaan
Publika

Modernisasi Alutsista Sebaga..

10 Juni 2021 16:47
Dua Pansus Mendesak Dan Darurat
Publika

Dua Pansus Mendesak Dan Daru..

10 Juni 2021 08:17
Prabowo Subianto Absen Pada Pilpres 2024?
Publika

Prabowo Subianto Absen Pada ..

10 Juni 2021 08:06
Let The Young Take The Lead!
Publika

Let The Young Take The Lead!

10 Juni 2021 00:43
Hak Rakyat Atas Air Merupakan Jaminan Negara
Publika

Hak Rakyat Atas Air Merupaka..

09 Juni 2021 11:24
Brutus Di Sekeliling Jokowi, Sikat Saja!
Publika

Brutus Di Sekeliling Jokowi,..

09 Juni 2021 10:31