Konflik Berdarah Palestina-Israel: Pandangan Prof Rashid Khalidi Dan Sikap Kita

Herdi Sahrasad (paling kiri) bersama rekan wartawan lain di Tepi Barat Sungai Jordan, Palestina, musim gugur tahun 1990./Ist

SERANGAN Israel atas Palestina mengingatkan kembali memori kami ketika melawat ke Palestina dan Israel tahun 1990-an.

Situasi Krisis Teluk waktu itu telah membuat krisis Timur Tengah mencapai kulminasi yang tinggi dimana ribuan orang tewas dan bermilyar-milyar dolar AS habis untuk pertumpahan darah atas nama "kepentingan global", "kepentingan nasional", "keamanan/stabilitas kawasan" dan "mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa".

Hal itu menyusul serangan/okupasi Irak atas Kuwait akibat kegilaan Saddam Hussein yang tak tahan melihat pesta pora elite Kuwait dengan petro-dolarnya. Padahal anak-anak Saddam juga doyan pesta dan seks/perempuan, setali tiga uang.

Esai ini bertolak dari memori pengalaman kami di Palestina/Isarel di masa lalu kurun 1990-an itu dan memantulkannya dalam kondisi masa kini dalam sebuah refleksi politik yang mungkin berwajah mozaik, rada unik.

Dalam konteks Palestina-Isarel, bagi kaum humanis palsu dan nasionalis gadungan di manapun, termasuk di Indonesia, konflik Palestina (Arab) dan Israel dianggap hal biasa, lumrah sekedar "goyim membunuh goyim" karena mereka yang palsu dan gadungan itu tidak punya hati  nurani dan rasa kemanusiaan lagi.

Dan mereka mengukur segala hal dari sudut material dan kuasa demi nikmat hartabenda dan duniawi lainnya. Moralitas mereka sudah membusuk bagai bangkai tikus di gorong-gorong istana atau tong sampah di rumah sakit jiwa.

Di masa lalu, kami ingat, PM Israel Menachem Begin dengan enteng berkata: "Goyim membunuh Goyim’’. Goyim atau gentiles adalah sebutan bangsa Yahudi untuk orang non-Yahudi.

Dalam Kitab Talmud--kitab suci orang Yahudi sebagai perubahan Kitab Taurat--telah disebutkan bahwa perbedaan antara Yahudi dengan Goyim ibarat ketidaksamaan antara manusia dengan binatang. Membunuh Goyim, bagi Yahudi, tak ubahnya berkorban untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.?

Bagi kita, kemerdekaan Palestina adalah keniscayaan dan perjuangan kemanusiaan mereka harus didukung sebab kita berutang budi pada Palestina dan negara-negara Arab  yang mengakui Indonesia merdeka ketika Negara bangsa ini baru dilahirkan.
 
Meminjam perspektif KH Abdurahman Wahid, dukungan/empati kemanusiaan terhadap Palestina sebagai sebuah bangsa, yang tertindas dan lemah (mustadh’afin) adalah salah satu persoalan pokok yang seyogianya menjadi perhatian Gus Dur dan kita hingga akhir hayat.

Apapun agama, keyakinan, bangsa, etnis, rasnya bukan menjadi pembatas/penghalang bagi Gus Dur untuk melindungi mereka, baik yang di dalam negeri maupun peran kebangsaannya di luar negeri.

“Tatkala tidak banyak orang memiliki perhatian terhadap isu Palestina, Gus Dur terus menyuarakan pembelaan terhadap rakyat Palestina,” sebagaimana dicatat Yenny Wahid dalam pengantar buku Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa (2017) yang ditulis 20 orang tokoh nasional perihal sosok Gus Dur.

Dalam suasana Idul Fitri 2021  kali ini, ada laporan Koran Independent, Sabtu (15/5/2021), yang menyingkapkan bahwa Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dijadwalkan menggelar pertemuan pada Minggu (16/5/2021) untuk membahas eskalasi konflik antara Palestina dan Israel.

Pertemuan itu akan disiarkan secara langsung, dan dapat disaksikan oleh publik internasional. Pihak Israel dan Palestina  disebutkan akan hadir dalam pertemuan tersebut. Adakah pertemuan itu berguna dan bermakna bagi Palestina? Saya kira tidak! Barangkali sekedar meredakan pertikaian yang nyaris sudah abadi.

Hampir pasti Palestina yang jadi korbannya, korban yang harus dikorbankan, the Victims of the Victimised, kata cendekiawan Palestina Prof. Edward Said (ingat bukunya Orientalisme) yang sampai wafatnya mengajar di Columbia University, New York.

Pasca meninggalnya Edward Said, Mahaguru  studi Timur Tengah di Columbia University, New York, yakni  Profesor Rashid Khalidi muncul menjadi  artikulator ‘’the dissonant voices’’ dari Palestina.

Dialah putra Palestina kelahiran di  Amerika, berasal dari salah satu keluarga paling terkemuka di Yerusalem, kota yang juga memiliki sejarawan terkemuka lainnya, Prof Walid Khalidi. Bersama-sama, mereka berdua telah melakukan banyak hal untuk memberikan narasi Palestina yang berakar pada sejarah sosial maupun sejarah personal kelompok strategis dan orang-orang penting Palestina.

Dalam buku Rashid Khalidi, "The Iron Cage," (The Iron Cage: The Story of the Palestina Struggle for Statehood.University  of Chicago,2006 ) secara substantive merupakan esai sejarah, sebagai  upaya untuk menjelaskan dan memutuskan mengapa orang Palestina, tidak seperti begitu banyak orang dan suku lainnya, gagal mencapai negara merdeka, gagal mencapai kemerdekaannya. Mengapa?

Rashid Khalidi memberikan  jawaban yang  mungkin tidak  menyenangkan dan  menghibur orang Palestina, yakni bahwa para pemimpin Palestina sering membuat pilihan yang salah dan belum membangun struktur kelembagaan untuk kenegaraan, sementara AS/Barat selalu membela dan menyokong Israel  at all cost, seolah gelap mata.

Dalam sebuah esai pengantar yang panjang, “Menulis Sejarah Timur Tengah di Masa Amnesia Historis,” Khalidi menegaskan bahwa di hampir setiap tahap, Palestina “adalah pihak terlemah dari semua pihak yang terlibat dalam perjuangan berkepanjangan untuk menentukan nasib Palestina” dan “ tetap jauh kurang kuat dengan ukuran apa pun daripada kekuatan yang menghalangi mereka untuk mencapai status kenegaraan merdeka. "

Khalidi  mungkin terlalu defensif  dalam  menganalisis kegagalan Palestina, tetapi Iron Cage mewakili pandangan dan  tanggapan yang berani kepada orang-orang Palestina yang semata  melihat diri mereka hanya sebagai korban belaka.

Meskipun dia cukup kritis terhadap pendudukan lama Israel, yang didukung oleh pemerintah Amerika sampai hari ini, yang telah menghalangi pilihan Palestina untuk merdeka, Khalidi menghormati apa yang telah diperjuangkan dan dibangun oleh Israel di atas ‘’kebengisan Holocaust’’ Hitler.

Barangkali Khalidi ingin orang-orang Palestina sendiri meniru cara Yahudi menghadapi amuk Hitler/Holocaust dan untuk  tidak banyak mengeluh, dalam upaya menegakkan Palestina merdeka.

Dalam kaitan ini, Palestina tak bisa bergantung pada dukungan/bantuan Negara-negara Arab sebab, seperti kajian Dr Ahmad Sahide, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sikap pasif dan diamnya negara-negara Arab lantaran  ketergantungan akut/ sangat tinggi terhadap Amerika Serikat.

Sedangkan  AS  dalam dalam kendali lobi kuat Yahudi untuk menjaga politik luar negerinya, terutama dalam konflik Israel-Palestina, sehingga AS selalu berphak pada Israel yang dianggap biadab oleh civil society  Arab.

Praktis, Palestina tidak memiliki dukungan politik dan strategi perjuangan yang kuat seperti Israel. ‘’Palestina tidak mempunyai strategi perjuangan seperti Yahudi dulu sewaktu awal menggagas untuk mendirikan negara Yahudi (Israel), dimana jaringan dan lobi mereka di Barat memberikan bantuan keuangan, militer dan diplomasi dll," kata Ahmad Sahide. (Kompas.com, Minggu (16/5/2021).

Bagi Palestina, berdirinya Liga Arab terbukti gagal mencegah berdirinya  negara Yahudi di Palestina.

Dan itulah yang membuat aktivis/milisi Hamas dan Jihad Islami nekad dan memilih mati syahid dengan cara membalas serangan Israel dengan roket-roket yang relative terbatas daya jangkau dan kekuatannya.

Namun AS/Barat  mungkin mulai menyadari bahwa  konflik Israel-Palestina tidak bisa diselesaikan dengan perang dan aksi militer, meski Israel merupakan salah satu negara dengan alat militer terbaik di dunia. Karena di atas Israel-AS masih ada kekuatan rakyat Palestina, kaum Muslim sedunia, simpatisan ummat Kristiani/Yahudi sedunia yang berakal sehat dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bahkan sangat mungkin diaspora orang Palestina dan Arab di  Eropa dan AS kelak bakal membalas menyerang  AS, Israel dan sekutunya, dengan aksi  terorisme, atau dengan dukungan politik, sokongan moral, bertambahnya  populasi  kaum Muslim di Barat, meluasnya Islamisasi di Eropa/AS dan sebagainya. Semua itu jadi keniscayaan karena ada kekuatan yang Maha Kuasa dan Maha Mutlak di atas sana.

Prof.Khalidi sering membandingkan kelemahan pengambilan keputusan Palestina, terutama sebelum tahun 1948, dengan perilaku penduduk Yahudi di Palestina di bawah Inggris yang lebih terorganisir, yang dikenal sebagai yishuv.

Khalidi dalam buku ‘’Iron Cage’’ menyodorkan pertanyaan pedihnya tentang apa yang disebut orang Palestina sebagai ‘’ al nakba’’, malapetaka - "mengapa masyarakat Palestina hancur begitu cepat pada tahun 1948, mengapa tidak ada perlawanan yang lebih terpadu terhadap proses perampasan, dan mengapa 750.000 orang melarikan diri. rumah dalam beberapa bulan?

Khalidi memiliki data tentang  kumpulan pelaku eksternal sendiri: penguasa kolonial Inggris seperti Lord Balfour, yang menolak untuk mengakui hak-hak nasional non Yahudi; dukungan finansial yang boros untuk imigrasi Yahudi; romantisme dan sinisme para pemimpin Arab, yang baru lahir dari inkubator kolonial.

Seperti Inggris sebelumnya, Khalidi berpendapat, Amerika Serikat "secara konsisten mengutamakan kepentingan populasi Yahudi di negara itu daripada penduduk Arabnya," dengan cara membantu Israel untuk mendorong "Palestina  ke sudut yang mustahil, ke dalam sangkar besi" (iron cage), dari mana, ia mencemaskan , negara Palestina yang layak mungkin, pada akhirnya, tidak akan muncul.

Tapi Khalidi  juga banyak  mengkritik dan menyalahkan orang Palestina - atas persaingan di antara keluarga kaya Palestina yang bersaing untuk melayani tuan kolonial mereka, juga kritiknya pada  para pemimpin yang gagal melihat dampak Hitler pada imigrasi Yahudi ke Mandat Palestina,termasu kkritiknya  bagi mereka yang salah mengelola Palestina  tahun 1936-39.

Juga kritiknya atas Pemberontakan Palestina melawan Inggris dan terutama untuk Yaser Arafat, yang, bersama dengan rekan-rekannya di Fatah dan Organisasi Pembebasan Palestina, yang  menjadi topic dan  tempat khusus dalam pemikiran Khalidi tentang kegagalan Palestina untuk merdeka dan berdaulat penuh.

Sejarah Palestina akan berguna bagi orang Amerika untuk memahami bahwa pada awal tahun 1930-an, orang Yahudi hanya berjumlah 17,8 persen dari populasi Palestina di bawah colonial Inggris, dan  imigrasi tahunan Yahudi  menurun menjadi hanya beberapa ribu setahun.

Tetapi pada akhir tahun 1930-an, Khalidi menulis, "setelah kebangkitan Hitler, Naziisme Hitler  mendorong kedatangan tahunan puluhan ribu pengungsi," populasi Yahudi meningkat menjadi lebih dari 30 persen. Pada tahun 1935 lebih dari 60.000 orang Yahudi pergi ke Palestina, yang setara dengan seluruh penduduk Yahudi pada tahun 1919.

Bahkan pada tahun 1948 terdapat 600.000 orang Yahudi hingga 1,4 juta orang Arab di Palestina Britania, dan orang Arab memiliki hampir 90 persen dari semua tanah pribadi.’’

Orang-orang Yahudi tidak memulai pertempuran, tetapi dari Maret hingga Oktober 1948, sedikit lebih dari setengah populasi Arab - 750.000 orang, menurut perkiraan Prof Khalidi, telah melarikan diri, atau dipaksa melarikan diri atau dibuang. terusir dari daerah yang menjadi bagian dari negara baru Israel.

Setelah pertempuran dihentikan pada tahun 1949, Israel menguasai 78 persen dari wajib Palestina, dibandingkan dengan 55 persen yang dialokasikan berdasarkan rencana pembagian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Seperti generasi baru sejarawan Israel, Prof. Khalidi menegaskan bahwa tanah air Yahudi di Palestina berarti bahwa banyak dari mayoritas Arab yang sudah ada sebelumnya, yang memiliki sebagian besar tanah pribadi, harus dipindahkan atau "dialihkan paksa," oleh kaum Yahudi penganut  Zionisme.

Dalam Iron Cage (Sangkar Besi), Prof Khalidi memberikan  perspektif dan jawaban lain untuk kalangan pembaca Barat dalam soal Palestina. Dia memberikan deskripsi yang relatif tidak memihak tentang Palestina pada periode pemerintahan Ottoman dan Inggris, dan tentang sifat masyarakat Arab sebelum kombinasi Zionisme dan Nazisme yang menyebabkan peningkatan aliran orang Yahudi kelahiran Eropa untuk menetap di Tanah Suci (Yerusalem/ Palestina).

Kolonialisme Balfour

Prof. Rashid Khalidi memiliki sekumpulan pelaku eksternal tersendiri: penguasa kolonial Inggris seperti Lord Balfour, yang menolak untuk mengakui hak-hak nasional non-Yahudi; dukungan finansial Barat yang boros untuk imigrasi Yahudi; romantisme dan sinisme para pemimpin Arab, yang baru lahir dari inkubator kolonial.

Seperti Inggris sebelumnya, dia berpendapat, Amerika Serikat "secara konsisten mengutamakan kepentingan populasi Yahudi di negara itu daripada penduduk Arabnya," membantu Israel untuk mendorong "Palestina ke sudut yang mustahil, ke dalam sangkar besi" dari mana, ia menyarankan, negara Palestina yang layak mungkin, pada akhirnya, tidak akan muncul karena kolonialisme-imperialisme Barat yang mendukung Israel itu.

Tapi Khalidi juga banyak menyalahkan orang Palestina atas persaingan di antara keluarga kaya Palestina yang bersaing untuk melayani tuan kolonial mereka. Untuk para pemimpin yang gagal melihat dampak Hitler pada imigrasi Yahudi ke Mandat Palestina, bagi mereka yang salah mengelola tahun 1936-39 Pemberontakan Palestina melawan Inggris dan terutama untuk Yasir Arafat, yang, bersama dengan rekan-rekannya di Fatah dan Organisasi Pembebasan Palestina, memiliki tempat khusus di pemikiran Khalidi tentang kegagalan Palestina.

Hamas vs Israel

Dalam konflik Palestina-Israel 2021 ini, untuk pertama kali sejak 20 tahun terakhir, serangan roket kelompok Hamas dan Jihad Islami dari Gaza ke Israel berbeda dengan perang tahun 2009, 2014, dan 2018.

Sebelumnya, Hamas dan Jihad Islami hanya menargetkan titik-titik militer dan strategis Israel saja, namun kali ini lepas kontrol, 100 roket lebih ditembakkan setiap hari ke seluruh Israel tanpa pandang bulu.

Jubir Hamas, Abu Ubaidah malah mengatakan, “Kami siap untuk menghajar Israel dengan roket hingga 6 bulan ke depan”, artinya paling tidak Hamas dan Jihad Islami memiliki setidaknya 25.000 roket di gudangnya yang entah dimana lokasinya, dengan asumsi satu hari lebih dari 100 roket ditembakkan perhari.  (Prof Amal Fathullah Zarkasyi, Mantan Rektor Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo,2021)

Apa yang dilakukan Hamas dan Jihad Islami merupakan tindakan yang tidak pernah berani dilakukan oleh negara manapun di dunia, setidaknya dalam 40 tahun terakhir.

Siapa yang berani menembakkan 150 roket ke Israel? Beranikah  Turki? Mesir? Arab Saudi? Iran?

Menurut Amal Zarkasyi, pembahasan menarik dalam konflik ini adalah kemampuan roket Hamas dan Jihad Islami yang mampu membuat Iron Dome kewalahan. Gegara ini, sejumlah negara yang ingin membeli Iron Dome dari Israel seharga miliaran US dolar berpikir ulang, termasuk Arab Saudi dan Emirates.

Bagaimana tidak, roket seharga 500-800 US dollar bisa membuat Iron Dome kewalahan, padahal 1 misil Iron Dome harganya minimal 42.000 dolar AS.

Lebih empat puluh tahun terjadi ketidakseimbangan persenjatan antara Israel dan Palestina, terumata ntara Hamas dan Jihas Islami versus Israel.

Meski persenjataan Hamas sama sekali tak sebanding Israel, Hamas kemarin  telah mengancam bakal membalas serangan Israel atau  jika di kemudian hari Israel tidak membuka lagi lintasan-lintasan penyeberangan.

Sebaliknya, Israel memperingatkan bahwa mereka akan menyerang lagi jika Hamas dibiarkan mempersenjatai diri lagi. Perang Hamas-Israel  kini  berkecamuk lagi sampai entah kapan.

Beberapa tahun lalu, Israel meninggalkan Gaza setelah daerah pesisir itu hancur akibat ofensif 22 hari. Mereka menyelesaikan penarikan pasukan dari wilayah yang dikuasai Hamas itu pekan lalu.

Jumlah korban tewas Palestina mencapai sedikitnya 1.300, termasuk lebih dari 400 anak, dan 5.300 orang cedera di Gaza sejak Israel meluncurkan ofensif terhadap Hamas pada 27 Desember.

Di pihak Israel, hanya tiga warga sipil dan 10 prajurit tewas dalam pertempuran dan serangan roket. Selama perang 22 hari itu, sekolah, rumah sakit, bangunan PBB dan ribuan rumah rusak parah terkena gempuran Israel. Pemerintah Palestina menyatakan bahwa jumlah kerugian prasarana saja mencapai 476 juta dolar.

Penghentian serangan Israel dilakukan setelah negara Yahudi tersebut memperoleh janji dari Washington dan Kairo untuk membantu mencegah penyelundupan senjata ke Gaza, hal utama yang dituntut Israel bagi penghentian perang.

Kekerasan Israel-Hamas meletus lagi setelah gencatan senjata enam bulan berakhir pada 19 Desember tahun lalu. Namun peta kekuatan antara Hamas dan Israel sangatlah timpang. Bagai bumi dan langit, ketimpangan itu.

Israel Defence Forces (IDF- angkatan bersenjata Israel) setidaknya berkekuatan 176 ribu infantri bersenjata lengkap. IDF juga mendapat dukungan serangan udara dari 286 helikopter serbu, dan 875 jet tempur berkecepatan supersonik. Juga, 2800 tank dan 1.800 senjata artileri (meriam, rudal, peluncur roket) yang semuanya on load (siap digunakan).

Sebaliknya, Hamas hanya berkekuatan maksimal 20.000 pejuang. Tanpa pesawat tempur, jet, atau helikopter patroli satu pun. Mereka hanya memakai roket Al Banna dan Al Yaasin, modifikasi rudal PG-2 Rusia yang mampu menghancurkan tank Merkava dalam radius 500 meter. Roket lainnya, yang juga hasil modifikasi, maksimal hanya bisa meluncur 55 kilometer. Itu hanya cukup sampai Kota Sderoth, yang bukan jantung komando Israel.

Untuk pertahanan anti serangan udara, Hamas mengandalkan rudal Rayyan, modifikasi dari rudal SA-7 Rusia yang dulu digunakan Hizbullah (Lebanon) untuk merontokkan helikopter dan UAV Israel.

Tapi, Hamas memang tak pernah percaya statistik. Apalagi cuma di atas kertas. Buktinya, sejak didirikan Syekh Ahmad Yasin pada 14 Desember 1987,  Hamas terus membesar. Untuk  melawan Israel, Hamas membentuk sayap militer Brigade Izzudin Al Qassam.

Anggotanya harus melalui seleksi superketat. Mereka diambil dari pemuda-pemuda yang lulus ujian akhlak dan keimanan.

Para recruiter Al Qassam, misalnya, akan mencari calon pejuang dari jamaah salat Subuh di masjid-masjid Gaza dan seluruh kawasan tepi Barat. Pemuda yang tak pernah ketinggalan salat Subuh berjamaah adalah bibit terbaik prajurit Hamas. Jadi, pemuda Palestina yang suka merokok, suka berbual kosong dan apalagi minuman keras, jangan harap dapat diterima sebagai personel Al Qassam.

Prajurit ikhlas dan bebas maksiat memang jadi modal utama. Sebab,  Hamas yakin kemenangan tidak semata-mata dengan kekuatan senjata, tapi juga faktor "langit". Mereka percaya dengan perlindungan malaikat yang sudah tahu siapa yang bakal unggul. Seperti saat 300 prajurit Nabi Muhammad sukses  melawan 1300 musuh dalam Perang Badar 2 Hijriah).

Sikap itu merupakan buah gemblengan dan didikan gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan Hasan Al Banna di Mesir pada 1948. Syeikh Ahmad Yasin adalah kader IM sejak dipenjara karena ceramahnya pada 1965. Di penjara, putra Palestina asli kelahiran Desa Jaurah, 20 kilometer utara Gaza 1936 itu, bergabung dengan cabang IM Palestina yang berdiri pada 1935. Syeikh Yasin syahid diserang rudal Israel pada subuh, 22 Maret 2004.

Pola latihan Al Qasaam juga merupakan pengembangan dari Nizham Khash (Biro Khusus) IM yang dibentuk di Kairo, Mesir, 1940. Pada perang Arab-Israel pertama 1948, Nizham mengirim 3.000 prajuritnya melawan Israel.

Nizham juga berperan dalam perang Terusan Suez  melawan Inggris, 1951. Dalam aktivitas keseharian, Nizham memakai sistem sel tertutup. Satu anggota tak mengenal anggota lain, kecuali dalam satu usroh (grup) yang terdiri atas tujuh sampai 10 orang.

Menurut Utsman Abdul Mu'iz Ruslan ( At Tarbiyah As Siyasiyah 'Inda Jamaah Al Ikhwan Al Muslimin, 2000), latihan Nizham dijabarkan dengan detail. Di antaranya, mereka mempelajari bela diri, senjata api, perang gerilya, bom dan bahan peledak, topografi, menyelam, serta infiltrasi (penyusupan) ketenteraan.

Mereka juga ahli ilmu sandi, terlatih memublikasikan selebaran (propaganda) dan punya data semua institusi Yahudi di Mesir dan Timur Tengah. Selain itu, anggota Nizham mempelajari tafsir Alquran, menghafal 40 hadits Imam Nawawi, berpuasa sunah, dan disiplin membaca Al-Quran minimal 1 juz per hari.

Sistem Nizham ditiru Al Qassam. Bekal mental penting karena tiap hari mereka diburu pasukan khusus Israel, Sayerat Matkal. Tapi, kematian memang jadi slogan impian tiap anggota Hamas (as syahid asma' amanina).

Selain operasi militer,  Hamas berhadapan dengan agen perisik terhebat di dunia HaMossad leModi'in uleTafkidim Meyuhadim (Mossad). Guru MI5 Inggris dan CIA itu sanagt mahir menyamar. Seorang agen Mossad boleh tampil dngan berbagai rupa bersurban dan berjenggot laksana Syeikh, tapi berceramah tentang hidup damai bersama Israel.

Agen Mossad juga dapat tampil sepertinya Bernard Madoff, konglomerat perayu kelas kakap yang berjaya menciptakan krisis kewangan finansial dunia. Senyum manis ditambah taburan dolar sehingga membuat ahli politik, parlemen dan berbagai fraksi politik lain di Palestina berpecah belah teradu domba.

Untuk  melawan agen Israel, Mossad,  Hamas mengandalkan dukungan total dari rakyat Palestina.  Hamas memang tinggal bersama mereka. Hamas membantu rakyat saat krisis kelaparan, menjadi guru madrasah anak-anak mereka, dan membangun terowongan jalur penyelundupan bawah tanah Rafah (Mesir)-Gaza agar bayi-bayi Palestina punya susu untuk diminum.

Hamas juga santun kepada 3.000 warga Kristiani di Gaza. Tak heran, dalam pemilu pada 25 Januari 2006, Hamas memungut suara terbanyak.

Hamas juga punya jaringan gerakan di luar negeri yang solid. Ulama Hamas Dr Nawwaf Takruri, pensyarah Universiti An-Najah Nablus. Beliau mengatakan Dalam perang kali ini, mereka juga dibantu faksi jihad lain di Gaza.

Karena itu, banyak pengamat militer menilai agresi ini bakal sambung menyambung sepanjang 2021. Sebab, kader-kader Hamas dan Jihad Islami di Palestina dan seluruh dunia sudah berjanji tak akan mengibarkan bendera putih.

Mereka yang hanya punya batu akan terus melemparkan batu dan pakai ketapel, mereka juga akan gunakan roket, dan roket-roket  akan terus diluncurkan Hamas dan Jihad Islami, dan senjata-senjata selundupan sudah terkokang lagi.

Bagi Hamas dan Jihad Islami, pilihannya hidup atau mati, ketimbang dicap/distigmatisasi AS/Barat sebagai organisasi teroris dari Palestina, sebuah vonis keji yang sarat purbasangka dan sarat ketidakwarasan elite Amerika dan sekutu Baratnya. Padahal, bukankah Israel itu sendiri jelas pelaku terorisme negara?

Sekali lagi, dunia sudah berubah dan  dalam konflik Palestina-Israel 2021 ini, pertanyaan klise kita adalah: Quo vadis AS dan Eropa? Mau terus dukung Israel? Sungguh, kalau tetap demikian itu posisi AS/Eropa, maka di hadapan adalah jalan tiada ujung, bahkan mungkin hanya jalan petaka. Wallahualambisawab.

Penulis adalah Dosen Universitas Paramadina

Komentar


Video

RMOL WORLD VIEW • Palestina Tidak Pernah Sendiri

Rabu, 02 Juni 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Membaca Anggaran Alutsista Rp 1,7 Kuadriliun

Kamis, 03 Juni 2021
Video

Tak Berizin dan Undang Ratusan Orang, Hajatan Khitan di Semarang Dibubarkan

Senin, 07 Juni 2021

Artikel Lainnya

HRS Ulama Terzalimi
Publika

HRS Ulama Terzalimi

12 Juni 2021 10:33
Sidang Umum Majelis Iblis Se-Dunia
Publika

Sidang Umum Majelis Iblis Se..

11 Juni 2021 14:28
Modernisasi Alutsista Sebagai Keniscayaan
Publika

Modernisasi Alutsista Sebaga..

10 Juni 2021 16:47
Dua Pansus Mendesak Dan Darurat
Publika

Dua Pansus Mendesak Dan Daru..

10 Juni 2021 08:17
Prabowo Subianto Absen Pada Pilpres 2024?
Publika

Prabowo Subianto Absen Pada ..

10 Juni 2021 08:06
Let The Young Take The Lead!
Publika

Let The Young Take The Lead!

10 Juni 2021 00:43
Hak Rakyat Atas Air Merupakan Jaminan Negara
Publika

Hak Rakyat Atas Air Merupaka..

09 Juni 2021 11:24
Brutus Di Sekeliling Jokowi, Sikat Saja!
Publika

Brutus Di Sekeliling Jokowi,..

09 Juni 2021 10:31