Mudik Dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (2)

Selasa, 04 Mei 2021, 15:32 WIB

Pemudik yang hendak melakukan perjalanan darat/Net

SPIRITUALISME mudik itu berada pada pertemuan dua arus yang sangat kuat seperti bertemunya arus dua lautan (majma’al Bahrain). Arus penarik berasal dari subyek yang berada di tempat asal atau yang dimudiki, dengan arus pendorong berasal dari subyek  perantau atau yang mau mudik.

Pertemuan dua arus itu berada pada simpul hakikat silaturahmi. Istilah yang diciptakan leluhur masyarakat Jawa adalah nglumpukne balung pisah (mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah). Tentu saja ini simbolis.

Semua berasal dari satu konstruksi tulang-tulang yang disebut keluarga, kerabat, batih. Kemudian bagian konstruksi itu terpisah-pisah secara fisikal untuk mengaktualisasi ketermasing-masingannya.

Konstruksi ini harus dipelihara. Keterpisahan fisikal atau jasmaniah jangan sampai menjadikan keterpisahan batiniah. Jangan dibiarkan terserak sendirian. Konstruksi keluarga ini merupakan bagian terkecil dari konstruksi universal yang disebut ukhuwah basyariyah (ikatan sesama manusia). Karena hakikatnya manusia itu satu konstruksi dengan segala keanekaragamannya.

“Wahai manusia. Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan beretnis-etnis agar kamu mengenal.” (Quran: 49:13).

Leluhur Jawa menjadikan Idulfitri sebagai momentum emas untuk melakukan rekonstruksi keluarga. Pilihan ini tidak asal-asalan seperti belok ke warung saat lapar. Tapi, pilihan ini memiliki landasan kearifan yang kuat. Yaitu selaras dan berintegrasi dengan nilai-nilai dasar Idulfitri.

Nilai dasar Idul Fitri itu adalah setiap individu bisa kembali ke fitrah (kembali kepada kesucian – kullu maulidin yuladu alal fitrah/ Setiap kelahiran itu dalam keadaan suci tanpa membawa dosa).

Setelah dosa-dosanya dilebur selama Ramadhan. Setelah mereguk segala rahmat Allah selama Ramadhan. Setelah dengan puasanya mampu membuat setan terbelenggu (tak mampu mempedayai). Setelah puasanya memiliki kekuatan membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka.

Pintu surga itu banyak. Menunjukkan bahwa masuk ke surga itu memang berat. Butuh perjuangan yang berliku-liku. Banyak godaan. Banyak jebakan penyesatan. Maka ke surga disebut naik.

Sedang pintu neraka cukup satu. Lebar lagi. Ke neraka itu mudah. Tak butuh perjuangan dan kerja keras. Maka proses masuk ke neraka disebut kecemplung. Artinya begitu mudahnya. (Membaca gini jadi mrinding).

Fitrah Sosial

Fitrah manusia itu juga mahluk sosial. Bangunan sosial terkecil itu adalah batih, keluarga inti. Yaitu ayah, ibu dan anak. Kemudian diperluas lagi dengan lingkaran keluarga kakek, nenek, paman, tante, sepupu, saudara. Diperluas lagi tunggal buyut, tunggal canggah, dan seterusnya.

Jika bangunan sosial itu dengan ikatan agama Islam disebut jamaah, ikhwah. Innamal mukminuna ihwatun, sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara (Quran: 48:10).

Iblis, setan, Dajjal tidak merasa hepi jika manusia berada dalam bingkai keluarga, kerabat, jamaah, ihwah. Maka mereka membuat strategi individualisme untuk menghacurkannya.

Agar manusia menjadi individu-individu yang terserak bagaikan titik-titik embun di dedaunan yang akan segera kering manakala matahari menyala. Sedang keluarga, jamaah itu seperti sungai besar yang isinya kumpulan titik-titik embun.

Orang yang sudah terperangkap pada invidualisme akan merasakan betapa sesatnya ideologi itu manakala di ujung ajal. Mari kita coba renungkan pengakuan Steve Jobs, orang pernah menjadi orang terkaya dunia. Menjadi sosok idola publik global. Inspirator kehidupan.

Hidupnya dihabiskan untuk menumpuk uang. Menggunungkan materi. Mengejar populritas dan pujian. Ternyata individualisme, materialisme telah membuat dirinya sebagai orang yang sangat menderita. Penderitaanya justru berpusat pada keluarga  yang berantakan.

“Kabahagiaan batiniah sejati tidak datang dari hal-hal materi dunia ini. Pada saat saya berbaring di atas ranjang rumah sakit dan mengingat seluruh hidup saya, saya menyadari bahwa semua kekayaan dan pengakuan telah memudar dan tidak berarti dalam menghadapi kematian yang segera akan datang. Tidak ada yang lebih berharga lebih dari keluarga,” katanya.

Pengakuan ini menjadi contoh peringatan Al Quran di Surah An Nur (24) ayat 39: “Dan orang-orang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah datar. Yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ternyata tidak ada apa-apa.”

Harta yang paling berharga
Adalah keluarga
Istana yang paling indah
Adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna
Adalah keluarga
Mutiara tiada tara
Adalah keluarga

(Sound Track Film Keluarga Cemara).

Betapa tinggi nilai keluarga. Di dalam keluarga itu tersimpan potensi ganjaran yang sangat besar. Maka tanggung jawab terhadap mereka juga besar. Sampai-sampai Allah secara khusus memerintahkan: “Wahai orang-orang beriman.
Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Quran: 66: 6).

Dan inti konstruksi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah adalah tenteram, damai, bahagia di dunia dan tetap bersama di dalam surga. Jika anak kumpul orang tuanya. Lantas orang itu sebagai anak juga kumpul dengan orang tuanya dan seterusnya maka keluarga itu menjadi keluarga besar ahlul jannah, penghuni surga.

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo
EDITOR: DIKI TRIANTO

Komentar


Video

Farah ZoomTalk Spesial Ramadhan • Salam sehat, bahagia penuh kegembiraan

Rabu, 05 Mei 2021
Video

Indonesia Bangkit Pembangunan Ekonomi

Kamis, 06 Mei 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Tragedi Nanggala, Lalu Apa?

Kamis, 06 Mei 2021

Artikel Lainnya

Bertemunya Dua Tokoh Oposisi Di Malam Menyambut Ampunan
Publika

Bertemunya Dua Tokoh Oposisi..

08 Mei 2021 04:25
Kebermaknaan Jawa Timur Dalam Pembangunan Indonesia Maju Dan Penguatan NKRI Berideologi Pancasila
Publika

Kebermaknaan Jawa Timur Dala..

07 Mei 2021 13:56
MK Akhirnya Memutuskan Akan Mengadili Perkara PSU Pilkada 2020
Publika

MK Akhirnya Memutuskan Akan ..

07 Mei 2021 13:49
Mudik Bukan Pergerakan Teroris, Tapi Kebahagiaan Rakyat
Publika

Mudik Bukan Pergerakan Teror..

07 Mei 2021 10:49
Bagaimana Pemerintahan Jokowi Dapat Utang Beneran Tahun 2021?
Publika

Bagaimana Pemerintahan Jokow..

07 Mei 2021 10:29
Bikin Presiden Manggut-Manggut, Halusinasi Sri Mulyani Mirip VOC
Publika

Bikin Presiden Manggut-Mangg..

07 Mei 2021 09:50
Kebebasan Pers, Demokrasi, Dan Jurnalisme Berkualitas
Publika

Kebebasan Pers, Demokrasi, D..

06 Mei 2021 16:21
Modus Duit Rem
Publika

Modus Duit Rem

06 Mei 2021 11:48