Nanggala-402 Dan Minimnya Alutsista Indonesia

Sabtu, 01 Mei 2021, 05:01 WIB

KRI Nanggala-402 yang tenggelam di Perairan Bali Utara/Net

PERISTIWA tenggelamnya sebuah kapal selam Indonesia buatan Jerman yang bernama KRI Nanggala-402 menjadi duka yang sangat mendalam bagi bangsa Indonesia.

Bukan hanya karena bangsa kita kehilangan sebuah kapal selam dengan harga triliunan rupiah itu, tetapi juga gugurnya para 53 anak bangsa terbaik yang berada dalam KRI Nanggala-402.

Mereka adalah prajurit-prajurit pilihan yang merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya.

Selain menyisakan duka cita yang mendalam, peristiwa tenggelamnya kapal selam Nanggala-402 telah membuka informasi baru ke publik bahwa Alutsista kita, khusunya keberadaan kapal selam ternyata sangat minim.

Negara maritim seperti Indonesia dengan wilayah lautannya sekitar 75 persen dari total luas wilayahnya, hanya memiliki 5 unit Kapal Selam, salah satunya KRI Nanggala-402. Bayangkan saja, 5 unit kapal selam mesti mengawasi lautan Indonesia yang luas totalnya kurang lebih 6,4 juta km2.

Akibat tragedi tenggelamnya KRI Nanggala-402 itu, kini kapal selam Indonesia sisa 4 unit yaitu KRI Cakra-401, KRI Nagapasa-403, KRI Ardadeli-404 dan KRI Alugoro-405.

Sekalipun Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang mampu memproduksi sendiri kapal selam melalui PT PAL Indonesia, tetapi bukan menjadi negara yang terbanyak mengoperasikan kapal selam.

Vietnamlah yang menjadi negara yang mengoperasikan kapal selam terbanyak di ASEAN dengan jumlah 6 kapal selam. Baru kemudian menyusul Indonesia, 5 kapal selam, lalu Singapura dengan 4 kapal selam. Padahal wilayah laut Indonesia jauh lebih luas dari Vietnam.

Dalam Rencana Strategis (Renstra) Indonesia, idealnya bangsa kita memiliki 12 kapal selam untuk mengamankan wilayah Indonesia khususnya lautan.

Menurut hemat penulis, sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau kurang lebih 17.503 pulau maka menjadi wajar jika Indonesia mesti memperbanyak kapal selam.

Apalagi bangsa kita yang sudah memiliki dan mampu memproduksi sendiri kapal selam, sehingga akan lebih mudah dalam mewujudkan pengadaan Alusista kita khususnya kapal selam dengan jumlah yang ideal sesuai kebutuhan bangsa kita.

Namun, tentu bukan hanya diserahkan sepenuhnya kepada PT PAL Indonesia, tetapi juga membangun kerjasama dengan perusahaan asing yang maju dengan teknologi yang mutakhir, sehingga dalam hal pengadaan Alutsista kita tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas.

Kerjasama ini tentu harus tetap dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Alasannya, menyangkut rahasia dan keamanan negara kesatuan republik Indonesia.   

Memang harga pengadaan kapal selam sangat fantastis yang mencapai triliunan rupiah per unitnya. Belum lagi menyangkut biaya perawatannya. Apalagi di situasi ekonomi bangsa yang masih sulit saat ini akibat dampak dari pandemi Covid-19.

Kondisi ini tentu menjadi tantangan yang mesti dijawab pemerintah, karena biar bagaimanapun keamanan negara apalagi menyangkut menjaga kedaulatan wilayah NKRI yang begitu luas wilayah perairannya sangatlah penting.

Kita tentu belum lupa, ketika Prabowo Subianto dalam debat calon Presiden 2019 saat menjadi Capres menyatakan secara menggebu-gebu bahwa kekuatan pertahanan kita sangat rapuh dan lemah.

Prabowo yang saat ini sudah menjadi Menteri Pertahanan RI mesti segera menjawab masalah ini dengan memberikan perhatian besar khususnya dalam peningkatan Alutsista Indonesia.

Selain itu juga, ada masalah lain dalam pengadaan Alutsista ini, yaitu keberadaan mafia Alutsista. Di tengah duka tenggelamnya KRI Nanggala-402, isu mafia Alutsista juga menyeruak ke publik.

Merespons isu yang seperti menjadi rahasia umum itu, aparat penegak hukum harus berani mengungkap para mafia Alutsista ini.

Alasannya sangat mendasar, dugaannya adanya mafia Alutsista menjadi salah satu faktor penghambat dalam peningkatan kualitas dan kuantitas Alutsista bangsa kita.

Di akhir tulisan ini, penulis berharap pemerintah mempunyai komitmen kuat untuk meningkatkan Alutsista untuk menjaga kekayaan laut nusantara.

Peristiwa tenggelamnya KRI Nanggala-402 tentu dapat menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita. Pemerintah dan seluruh elemen bangsa harus menyadari bahwa masih banyak pekerjaan rumah pemerintah kita yang mesti diselesaikan dalam hal keberadaan Alutsista untuk menjaga pertahanan negara kita.

Terakhir, sejuta doa bagi para prajurit bangsa yang kini patroli untuk selamanya (On Eternal Patrol) itu harus dihidupkan dengan kerja-kerja upaya dalam rangka meningkatkan kualitas Alutsista Indonesia. Saya kira itu cara penghormatan terbaik bagi para prajurit yang gugur, bangsa dan negara.

Muhammad Syarif Hidayatullah
Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesian Youth Leaders Change (IYLC) Institute

Komentar


Video

Farah ZoomTalk Spesial Ramadhan • Salam sehat, bahagia penuh kegembiraan

Rabu, 05 Mei 2021
Video

Indonesia Bangkit Pembangunan Ekonomi

Kamis, 06 Mei 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Tragedi Nanggala, Lalu Apa?

Kamis, 06 Mei 2021

Artikel Lainnya

Bertemunya Dua Tokoh Oposisi Di Malam Menyambut Ampunan
Publika

Bertemunya Dua Tokoh Oposisi..

08 Mei 2021 04:25
Kebermaknaan Jawa Timur Dalam Pembangunan Indonesia Maju Dan Penguatan NKRI Berideologi Pancasila
Publika

Kebermaknaan Jawa Timur Dala..

07 Mei 2021 13:56
MK Akhirnya Memutuskan Akan Mengadili Perkara PSU Pilkada 2020
Publika

MK Akhirnya Memutuskan Akan ..

07 Mei 2021 13:49
Mudik Bukan Pergerakan Teroris, Tapi Kebahagiaan Rakyat
Publika

Mudik Bukan Pergerakan Teror..

07 Mei 2021 10:49
Bagaimana Pemerintahan Jokowi Dapat Utang Beneran Tahun 2021?
Publika

Bagaimana Pemerintahan Jokow..

07 Mei 2021 10:29
Bikin Presiden Manggut-Manggut, Halusinasi Sri Mulyani Mirip VOC
Publika

Bikin Presiden Manggut-Mangg..

07 Mei 2021 09:50
Kebebasan Pers, Demokrasi, Dan Jurnalisme Berkualitas
Publika

Kebebasan Pers, Demokrasi, D..

06 Mei 2021 16:21
Modus Duit Rem
Publika

Modus Duit Rem

06 Mei 2021 11:48