Farah.ID
Farah.ID

Hari Perempuan Internasional, Antara Liberalis, Pancasilais Dan Islamis

Senin, 08 Maret 2021, 14:42 WIB
Hari Perempuan Internasional, Antara Liberalis, Pancasilais Dan Islamis
Hari Perempuan Internasional tahun 2021/Net
SETIAP bulan Maret kaum Hawa merayakan hari "jadinya" atau kita mengenalnya sebagai Hari Perempuan Sedunia atau Internasional Women’s Day (IWD).

Momentum ini dianggap sebagai bentuk pencapaian prestasi perempuan di bidang ekonomi, politik, sosial. Selain itu, perayaan ini juga dimaknai sebagai pengokohan visi perjuangan kaum perempuan feminis dunia untuk selalu menggemakan perjuangan kesetaraan gender.

Penetapan IWD lahir dalam pergolakan sosial yang besar. Dikutip dalam situs Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) peringatan IWD, dilakukan pertama kali pada 28 Februari 1909 di New York, Amerika Serikat untuk memperingati setahun berlalunya demonstrasi kaum perempuan setahun sebelumnya di New York.

Gerakan tuntuan hak oleh kaum perempuan berujung aksi pada terjadi tanggal 8 Maret 1908, sekitar 15 ribu buruh perempuan di kota yang sama kembali melakukan unjuk rasa untuk menuntut jam kerja yang lebih pendek, pemberian upah yang lebih layak dan kesempatan serta kebebasan dalam bersuara di ranah publik, termasuk dalam berpolitik.

Salah satu faktor yang mendorong lahirnya IWD ini juga berasal dari satu kejadian mengenaskan yang pernah menimpa buruh perempuan, pada sebuah kebakaran besar. Kejadian di Pabrik Triangle Shirtwais pada 25 Maret tahun 1911 dan menewaskan setidaknya 146 nyawa buruh perempuan. Mereka tewas akibat terjebak dalam gedung akibat ulah manager bengis yang mengunci pintu menuju tangga darurat sebagai antisipasi mencegah para pekerja pulang lebih awal.

Walaupun peringatan IWD ini sempat senyap, lantas hal ini berhasil kembali dihidupkan pada era 60-an yang berbarengan dengan bangkitnya feminisme. Pada tahun 1974, untuk pertama kalinya PBB memperingati Hari Perempuan Internasional dan menetapkannya pada 8 Maret.

Hari Perempuan Internasioanl di Indonesia

Sebagian perempuan Indonesia pun memperingati IWD. Hanya saja sebagian tuntutan yang dilantangkan, sesuatu yang tak sesuai dengan jiwa bangsa yang memegang teguh Pancasila juga moral ketimuran.

Sebagai contoh, dalam perhelatan hari Perempuan Internasional tahun 2020, Aliansi Gerakan Perempuan Anti Kekerasan (GERAK) beserta organisasi perempuan lain menyaringkan peluit lima tuntutan terhadap pemerintah Indonesia, di antara bentuk tuntutannya yakni, “Hentikan segala bentuk upaya diskriminasi!”

Ternyata yang dimaknai Aliansi GERAK adalah bentuk diskriminasi ketika negara tidak mengakui, mengakomodir serta melegalkan keberagaman orientasi seksual. Mereka menginginkan penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap kaum LGBT.

Pancasilaiskah tuntunan para pendukung feminism ini? Menurut penulis, bentuk mendukung kaum LGBT tak mesti dengan menuntut pelegalan atas orientasi seksual yang tak sesuai dengan kodrat.

Sebab, selain, tak hanya bertabrakan dengan nilai agama, pun jauh dari nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah negara yang mengikat. Kesetiaan terhadap falsafah mengandung konsekuensi menjadikan Pancasila sebagai pedoman hukum, norma dan pandangan hidup.

Kesadaran bahwa Tuhan hadir dalam sejarah lahirnya bangsa Indonesia mengokohkan sikap kejiwaan yang berbeda antara tanah tumpah darah tercinta Indonesia dengan negara lain yang menafikan unsur Tuhan.

Kuatnya saham agama dalam formasi kebangsaan Indonesia membuat  para pendiri bangsa, tidak dapat membayangkan ruang publik di tanah tercinta ini hampa dari unsur Tuhan.

Sang Proklamator Indonesia, bahkan berujar terang dan lantang: "Nasionalisme kita adalah Nasionalisme yang membuat kita menjadi perkakas Tuhan".

Duhai, indah dan bernas nian ungkapan  Bapak bangsa yang pada masa era lampau sanggup menjadikan Indonesia disegani dunia.

Maka tema dan arahan PBB yang diturunkan pada seluruh negara dalam perayaan hari Perempuan Internasional: ”Hentikan diskrimasi dalam orientasi seksual!” Tidak sesuai dengan jati diri bangsa yang berlandaskan Pancasila.

Perempuan Indonesia dalam Kearifan Lokal

Indonesia memiliki putri Jepara atau lebih dikenal R.A Kartini. lahir pada 21 April 1879 memiliki kecerdasan dan keberanian di atas rata-rata kaum perempuan pada zamannya. Bunga Jepara yang singkat usianya namun panjang nian umur gagasannya, menuntut penghapusan diskriminasi dan peminggiran terhadap perempuan.

Namun tuntutannya sesuai dengan nilai-nilai ketimuran dan tak bertentangan dengan jiwa Pancasila, tidak kebablasan yang lantas berasumsi bahwa peminggiran terhadap perempuan adalah sesuatu yang dirancang dengan sistematis.
 
Putri bupati Jepara ini, sejak kecil memiliki keperihan hati sekaligus kegeraman jiwa menyaksikan sang bunda yang merupakan Indonesia “garwo ampil” (bukan permaisuri utama/ salah satu dari dua istri Bupati), melakukan mlaku ndodok (ngesot) di depan suami dan anak-anaknya sendiri.
Maka sebagai bentuk pendobrakan terhadap tradisi yang membuat perempuan terpinggirkan dan tidak memiliki kesetaraan.

Tatkala ia dilamar dan kemudian dinikahi oleh Adipati Djojoadiningrat mengajukan syarat-syarat yang amat tak lazim pada masanya. Yakni, Kartini tidak mau dalam upacara pernikahannya ada prosesi jalan jongkok, berlutut dan menyembah kaki mempelai pria. Syarat lain yang diminta nan amat radikal di zamannya yaitu Kartini tak mau berbicara dengan suami dengan menggunakan bahasa kromo inggil.

Kartini menggunakan bahasa Jawa ngoko sebagai penegasan bahwa seorang istri itu sebagai mitra dan sederajat dengan partner hidupnya. Ternyata Sang Adipati yang berpikiran progresif itu menerima syarat dari calon yang terasa amat nyeleneh masa itu.

Kartini, perempuan penuntut kesetaraan dalam kearifan lokal, yang tak memusuhi lelaki, sebab tak semua laki-laki memuja patriarki. Pada zaman Kartini pun ada lelaki priyayi yang memiliki kebernasan mata hati. Menjadikan istri laksana putri dan memiliki cinta yang wangi laksana melati.
Potret Kartini menjadi contoh bagaimana perempuan Indonesia memiliki jiwa Pancasilais.

Kedudukan Perempuan Sebelum lslam

Di era peradaban Mesir kuno, kedudukan perempuan di istana dan kerajaan Mesir Kuno, betapa memprihatinkan. Seorang raja memiliki kebebasan luar biasa dalam memiliki perempuan, bahkan dapat menikahi saudara kandung dan anak perempuannya sendiri. Ada pula tradisi para gadis yang mempersembahkan diri mereka untuk para raja atau penguasa. Perilaku seks bebas bahkan mendapat berkah atau justifikasi dari para pemuka agama.

Di era peradaban Yunani kuno, kondisi perempuan mengalami puncak kehinaan ditinjau dari segala aspek kehidupannya. Di dalam masyarakat, mereka tidak memiliki peringkat atau status yang mulia. Bahkan ada keyakinan bahwa, perempuan adalah penyebab segala penderitaan dan musibah yang menimpa manusi, maka layak baginya menjadi makhluk yang paling rendah derajatnya.

Kondisi mereka yang berada dalam puncak kehinaan, kerendahan dan kehilangan martabat tersebut menyebabkan mereka tidak berhak duduk di meja makan bersama laki-laki, terlebih dahulu ada tamu asing, maka kedudukan wanita adalah sebagai seorang budak dan pelayan.

Di era peradaban Romawi, Romawi mencapai puncak ketinggian dan kemajuan pada zamannya. Penduduk negeri ini memiliki undang-undang dan aturan-aturannya cenderung kepada kezhaliman, pengekangan dan kekejaman yang ditujukan pada diri perempuan. Slogan mereka yang berkenaan dengan perempuan adalah "mengikat mereka tanpa melepaskannya…".

Seperti pendahulunya peradaban Yunani Romawi pun memeperlakukan perempuan sebagai pemuas nafsu. Perempuan marak menjalani profesi melacurkan diri, dan ajang-ajang kontes tubuh mempertontonkan tubuh perempuan menjadi sesuatu yang dipentingkan dalam peradaban Romawi.

Kedudukan Perempuan dalam Islam

Lalu bagimana pandangan Islam terhadap perempuan? Islam adalah agama yang amat memuliakan perempuan. Perempuan dalam Islam dianggap sama mulianya dengan laki-laki. Jika kita memperlajarai agama ini dengan baik, tak pelu menuntut dengan sarat kebencian dan keberingasan untuk meminta kesetaraan.

Apalagi kesetaraan untu meluahkan nafsu orientasi seksual yang tak lazim dan tak sesuai kodrat penciptaan. Tak ada ruang meminggirkan dan mensubordinasi perempuan. Islam menjadi rahmat bagi semesta alam, apalagi bagi perempuan, bahkan surga pun berada di bawah telapak kaki perempuan, yakni seorang ibu.

Allah menyatakan kesetaran dan keadilan bagi perempuan dan laki-laki dalam firman-Nya: "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain". (QS Ali Imran: 195).

Menafsirkan ayat tersebut, Tim Penerjemah Al-Quran Departemen Agama menyatakan bahwa sebagimana kaum laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, demikian juga halnya kaum perempuan juga berasal dari laki-laki dan perempuan. Keduanya sama-sama manusia, tak ada kelebihan dari yang lainnya tentang penilaian iman dan amalnya.

Maka dalam Islam tak perlu meributkan dan memperebutkan kesetaraan, karena semua itu telah dianugerahkan dengan tegas dalam kitab suci. Apalagi menuntut orientasi seksual yang tak direstui Tuhan. Karena hubungan seksual dalam Islam sesuatu yang suci, anugerah nikmat duniawi yang berpahala surgawi dan melindungi perempuan dari kekerasan fisik dan psikis.

Para perempuan dibela Nabi Muhammad SAW dalam mendapatkan hak berhubungan suami istri. Rasulullah melakukan pembelaan dan perlindungan terhadap para perempuan sebagai istri.

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Jangan sekali-kali seseorang di antara kamu mencampuri istri seperti bercampurnya binatang. Tetapi, hendaklah ada pengantarnya". Ada yang bertanya, "Apakah pengantarnya itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ciuman dan perkataan" (HR Abu Manshur dan Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus dari Hadis Anas).

Rasulullah pun mengingatkan para laki-laki dengan nasihat yang indah, dalam menjalani hubungan intim suami istri, "Ada tiga perkara yang termasuk kelemahan laki-laki. Lantas, Nabi SAW menyebutkan, di antaranya, yang mendekati istrinya dan langsung mencampurinya sebelum mencumbu dan merayunya. Dia pun menyelesaikan hajatnya sebelum istrinya menyelesaikan hajatnya (merasa puas). Ini merupakan bagian dari hadis sebelumnya yang juga diriwayatkan oleh Ad Dailami.

Jadi untuk apa latah melantangkan genderang memilih untuk memenangkan kebebasan yang tak lazim dan tak kodrati? Karena kebahagiaan dan kenyamanan hakiki telah Tuhan tunjuki. Laki-laki diciptakan untuk melindungi dan menaburi cinta dan penjagaan, jadi tak perlu untuk dimusuhi.

Mari kita simak, legitnya cinta sang pujangga pada perempuan yang dikasihi:

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.

Aku Ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Manisnya cinta rangkain kata Sapardi Djoko Damono menjadi saksi, banyak lelaki yang tak mesti dirutuki.

Lantas masihkah kita perlu merayakan Hari Permpuan Internasional?

Siti Oniah binti Warid
Mahasiswa S3 Ilmu Dawah Universitras Islam Asy-syafiiyah.

ARTIKEL LAINNYA