Bangsa Yang Mabuk

Ketua Lembaga Dakwah DPP IMM, Furqan Jurdi/Ist

SETIAP tahun, konsumsi minuman keras semakin meningkat, bahkan sudah mencapai angka sekitar 24% remaja telah mengonsumsi miras ini.

Konsumsi minuman keras sudah semakin tinggi, menyebar ke berbagai daerah dengan mudah diperoleh dari penjual eceran. Semakin banyak remaja mengonsumsi miras, angka kriminalitas pun semakin tinggi.

Saya contohkan saja di Kabupaten Bima, ada sebuah desa yang sangat Islami dan tidak pernah disentuh oleh hiburan musik sebelum tahun 2007.

Tapi, di akhir 2007 itu awal mula masuknya organ tunggal tiap malam dengan menampilkan biduan wanita yang menyanyi. Semenjak itulah kebiasaan mabuk remaja mulai marak.

Tidak butuh waktu lama, tahun 2010 hampir semua remaja di desa itu menjadi teler semua. Bersamaan dengan itu, judi, pencurian, perkelahian, pembacokan, dan berbagai macam kejahatan lain meningkat tajam.

Lalu bagaimana keadaan kampung itu sekarang?

Kampung Islami, pusat pemikiran dan kaum intelektual serta ulama itu telah menjadi kampung remaja-remaja kriminal.

Kampung itu telah menjadi pusat transaksi barang haram berupa narkoba. Bersamaan dengan itu, perampokan meningkat tajam. Kriminalitas semakin menggila, dan mirisnya, yang terlibat semua kejahatan itu adalah remaja.

Itulah contoh konkret yang dapat kita lihat sekarang ini. Saya sengaja tidak menyebutkan nama desanya, tetapi kalau aparat keamanan di Bima ditanya, pasti tahu desa itu.

Kejadian yang saya ceritakan itu belum dilakukan legalisasi miras, apalagi kalau sudah dilegalkan, saya tidak akan bisa bayangkan apa yang akan terjadi. Meskipun presiden hanya melegalkan beberapa daerah, tentu itu akan berefek pada daerah yang lain.

Rapuhnya Bangsa

Apabila tindakan presiden melegalkan miras ini tidak dicabut, saya khawatir bangsa ini tidak memiliki lagi ketahanan demografi, bangsa ini hanya menjadi bangsa teler, yang melahirkan generasi ekstasi yang hasratnya hanyalah kejahatan.

Artinya kita tidak perlu bangga lagi memiliki bonus demografi, karena hanya menjadi perusak bangsa. Peredaran barang haram yang dilegalkan seperti ini akan berdampak pada masa depan bangsa.

Apalagi pemberantasan pengedaran narkoba belum kunjung teratasi. Kerusakan mental, kerusakan moral, dan hancurnya etika masyarakat akibat minuman keras sangat jelas dan tidak bisa dianggap remeh.

Karena itu, tidak ada yang dibanggakan dari generasi yang tumbuh dari kultur mabuk-mabukan, dari gaya hidup yang penuh dengan ekstasi dan berbagai macamnya. Melainkan hanya meresahkan masyarakat dan membuat kehidupan sosial masyarakat terganggu.

Kita dapat meraba, bagaimana kerusakan mental generasi muda yang ditimbulkan akibat miras ini dan secara umum kita dapat melihat kehancuran bangsa dari berbagai sisi. Maka melihat contoh kasus di kampung yang saya gambarkan di atas, maka tidak butuh waktu lama, negara ini akan menjadi negara vigilante.

Laknat Allah

Kalau pemerintah beralasan, bahwa melegalisasi miras adalah untuk menambah penghasilan negara, maka itu lebih buruk lagi, kita menerima uang dari proses yang haram.

Dalam perspektif Islam jelas adalah haram dan dilaknat oleh Allah SWT. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/25,71), Ath-Thayalisi (1134), Al-Hakim At-Tirmidzi dalam Al-Manhiyaat (hal: 44,58), Abu Dawud (3674)), Rasulullah SAW Bersabda:

"Khamr itu telah dilaknat dzatnya, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, orang yang menjualnya, orang yang membelinya, orang yang memerasnya, orang yang meminta untuk diperaskan, orang yang membawanya, orang yang meminta untuk dibawakan dan orang yang memakan harganya."

Dari hadits ini jelaslah bahwa miras itu dilaknat oleh Allah. Kita hanya menunggu laknat dari Allah setelah melegalisasi miras, mengambil untung dari penjualan miras dan mengkonsumsi miras itu. Karena itu kita wajib menolaknya.

Kalau saja satu dua orang yang dilaknat, para pelaku dan pemakan miras yang dilaknat biarlah itu, tapi kita hidup berbangsa dan yang melegalkan adalah pemerintah, artinya ini dapat dianggap perbuatan bersama.

Untuk menghindari laknat, kita wajib menolak bersama-sama legalisasi miras ini, baik demi pribadi, keluarga dan masa depan bangsa termasuk masa depan umat Islam.

Bahkan Gubernur Papua mengancam akan membakar tokoh penjual miras, persatuan Gereja menolak legalisasi miras, NU melihat sebagai bahaya masa depan bangsa.

Artinya semua orang sudah sepakat bahwa miras merusak moral bangsa Indonesia. Dan kehancuran bangsa ini akan semakin dekat.

Wallahualam Bis Shawab.

Furqan Jurdi
Ketua Lembaga Dakwah DPP IMM
EDITOR: DIKI TRIANTO

Komentar


Video

FARAH Zoomtalk Spesial Ramadhan • Sibuklah Memperbaiki Diri Sendiri

Sabtu, 17 April 2021
Video

Perawat RS Siloam Palembang Dianiaya Keluarga Pasien

Sabtu, 17 April 2021
Video

Gudang Alat Produksi Roti dan 4 Unit Kendaraan Ludes Terbakar

Sabtu, 17 April 2021

Artikel Lainnya

Belajar Dari India, Tinggalkan Pencitraan, Dan Bersikaplah Kesatria
Publika

Belajar Dari India, Tinggalk..

18 April 2021 11:45
Bagaimana Cara Amerika Menguasai Dunia?
Publika

Bagaimana Cara Amerika Mengu..

18 April 2021 08:37
Boleh Kaget Tapi Jangan Masa Bodoh (3): Politik Dinasti Dan Kualitas Pemimpin
Publika

Boleh Kaget Tapi Jangan Masa..

18 April 2021 05:54
Jalan Sederhana
Publika

Jalan Sederhana

17 April 2021 23:18
Persimpangan Elite Dan Ideologi Partai
Publika

Persimpangan Elite Dan Ideol..

17 April 2021 18:58
Monopoli Pengelolaan Zakat Dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Pada Masa Covid-19
Publika

Monopoli Pengelolaan Zakat D..

17 April 2021 10:59
Apa Tanggung Jawab Sinuhun Jika PLN Bangkrut?
Publika

Apa Tanggung Jawab Sinuhun J..

16 April 2021 07:50
Dua Kementerian Baru, Siapa Menterinya?
Publika

Dua Kementerian Baru, Siapa ..

16 April 2021 07:28