Tumbak Cucukan

Kamis, 25 Februari 2021, 03:55 WIB

Bagong dan Gareng/Net

BAGONG NJAMBAL (31)

BAGONG dan Gareng berjalan menuju Kerajaan Lojitengara. Keduanya kadang harus bersembunyi karena berpapasan dengan prajurit-prajurit Lojitengara.

Yang tidak habis pikir, prajurit-prajurit itu kerap menyamar sebagai rakyat jelata. Mereka menjadi telik sandi untuk berbaur dengan rakyat biasa. Berpura-pura mendengar keluh kesah rakyat seolah-olah peduli wong cilik.

Bagong sendiri paham siapa-siapa telik sandi yang disebar Welgeduwelbeh dan cecunguk-cecunguknya. Sekilas mereka tidak bisa dikenali. Sebab dandanannya mirip rakyat. Kadang masuk ke kelompok religius, kemudian pindah ke kelompok anak-anak muda, orang tua, ibu-ibu, hingga kelompok yang dicap radikal. Namun Bagong lebih paham mana yang benar-benar wong cilik, mana yang berpura-pura menjadi wong cilik.

Ya, negara-negara di bawah tekanan Welgeduwelbeh tidak lepas dari telik sandi. Semua mata-mata Lojitengara disebar untuk mencari kelemahan masing-masing kerajaan. Bagi kerajaan yang tidak patuh seperti Ngamarta, Dwarawati, Mandura, hingga Pringgodani, harus segera dibumihanguskan.

Tugas seorang telik sandi seperti biasa, menghasut, memfitnah dan menyebar berita-berita bohong. Tujuannya menghilangkan kepercayaan rakyat pada penguasa sejati dan memaksa rakyat untuk percaya pada Ratu Welgeduwelbeh.

Bagong dan Gareng dalam perjalanan menuju Lojitengara sempat berpapasan dengan salah satu anggota Kurawa. Namanya Durmagati. Sosok Durmagati ini juga bisa dibilang telik sandi. Dia termasuk komandan telik sandi di Kerajaan Ngastina. Oleh anak buahnya, Durmagati sering dipanggil kakak pembina.

Meski termasuk dalam barisan Kurawa, namun Durmagati tidak pernah dianggap penting bagi saudara-saudaranya. Dia juga tidak punya jabatan penting. Selalu disisihkan oleh saudara-saudaranya. Sebab Durmagati memang dikenal pandai membual.

Sekarang Durmagati memilih berpihak pada kekuasaan yang hanya menguntungkan dia saja. Kadang ke Ngastina, kadang ke Lojitengara.

“Lho, in’..in’…ni kaaan Punakalan Badong dan Galeng,” sapa Durmagati dengan suara cedal yang khas.

“Iya kakang Durmagati. Saya Bagong dan Gareng,” jawab Bagong.

“Badong dan Galeng ma..ma..maauu kel..ma..naaa?” Tanya Durmagati.

“Mau ketemu Welgeduwelbeh. Mau ngajak perang,” balas Bagong.

“Waduh, kok…kokk…mau pelang. Hatiii…haaatiii…lho. Ra’ ra’ ra’ tuuu…Welgeduwelbeh sa..sa..saak…tii,” kata Durmagati mengingatkan.

Bagong dan Gareng tampaknya tidak peduli dengan kata-kata Durmagati. Dia sejak awal sudah ditugaskan untuk melawan Welgeduwelbeh. Apapun resikonya, kedua Punakawan itu sudah bertekad untuk maju meski nyawa taruhannya. Pantang bagi mereka mundur.

“Biar Welgeduwelbeh sakti, aku tidak takut. Aku dan Kakang Gareng pernah berperang melawan Welgeduwelbeh. Ratu pekok itu kabur,” seru Bagong.

Yo wis, aku itut kal’ian,” sambut Durmagati.

“Weleh, sampeyan kan ada di kubu Lojitengara dan Ngastina. Kita musuh,” jawab Gareng.

“Sebental…sebental…aku ma…ma…uu celita. Ak…akkuu…sebenalnya ada di ku..ku..buu kal’ kal’ ian. Di Ngastina ak…ak…uu ndaa…k cukaaa sa…sa..ma… Pa’man Cengku…ku..ni,” sebutnya.

“Sengkuni,” Bagong memastikan.

“Ya…ya…i…i…tuu…dia,” sahut Durmagati.

“Terus kalau di Lojitengara?” Gareng bertanya.

“Ya ak…ak…uu ndaa…k cukaaa sa…sa...ma Welgeduwelbeh,” jawabnya.

Durmagati lantas menceritakan sepak terjang Welgeduwelbeh selama memimpin kerajaan. Menurutnya, Welgeduwelbeh tidak memiliki wibawa seperti ratu-ratu lain. Para abdi kerajaan kerap diajak bergurau. Demikian pula para cecunguk kerajaan. Semua pekerjaan negara tidak digarap dengan serius.

“Pa’ pa’ ting kel…le…le…rr!” Seru Durmagati.

“Ah masa Dur!”

“Ma…ma…sak ak…ak…uuu bodong sa…sa…maa kal’ian,” lanjutnya.

“Ojo tumbak cucukan lho Dur. Kamu ini sebangsa dan setanah air dengan Durna. Darah dagingmu seperti Durna dan Sengkuni, kadang membalikkan omongan. Kamu jadi telik sandi kerajaan Lojitengara dan Ngastina. Sekarang saja kamu berpura-pura baik. Di belakang kamu menusuk,” ujar Bagong.

“Lhoo…Badong Galeng, ak…ak…uuu ndaa…k sep’erti itu,” bantah Durmagati.

Bagong tetap tidak percaya. Dia lantas membocorkan rahasia Durmagati selama menjadi telik sandi. Kata Bagong, Durmagati dan Citraksi lah yang selama ini kerap membuat kondisi negara ribet.

“Kamu, Citraksi dan Citraksa selalu jadi tumbak cucukan. Suka bikin ribut dengan kata-katamu yang penuh kebencian. Sudah jelas Welgeduwelbeh salah, tetap saja kalian bela habis-habisan,” ucap Bagong.

Durmagati diam saja.

“Kamu seperti tidak ada kerjaan. Ke sana kemari mencaci maki orang, menghina, mengadu domba, dan memfitnah. Yang paling parah, kamu membuat berita-berita bohong untuk melindungi junjunganmu. Kamu kira aku tidak tahu kelakuan bejatmu,” tambah Bagong.

“Badong…Badong…ak…ak…uuu ndaa…k sepel’ti i…tuuu,” balas Durmagati.

“Halah, yang namanya Durmagati semua orang sudah tahu. Kamu ga usah ngeles. Kamu selama di istana tidak ada kerjaan. Jadi kerjaanmu cuma bikin pertengkaran saja. Semua tokoh agama, cendekiawan, pejabat, hingga rakyat jelata, kamu hasut. Suasana baik-baik kamu perkeruh. Mentang-mentang kamu bebas dari jerat pakunjaran. Hati-hati lho Durmagati, setiap perbuatanmu pasti ada karmanya,” ancam Bagong.

Durmagati diam terpaku.

Namun saat mau membantah, kata-katanya langsung dipotong oleh Bagong. Anak buncit Semar itu membongkar semua perbuatan Durmagati, yang membuat lidahnya kelu.  

“Seandainya negara ini tidak ada orang-orang seperti Durmagati, Durna, dan Sengkuni, mungkin tidak sekacau ini. Dasar manusia tumbak cucukan,” umpat Bagong.

Bagong meneruskan ucapannya.

“Kamu sudah tahu Welgeduwelbeh banyak melakukan kesalahan, tetapi selalu kalian bela, selalu kalian lindungi dengan berita-berita bohong. Kalian membuat pencitraan Welgeduwelbeh untuk menipu rakyat. Di saat negara-negara diserang pagebluk, kalian malah berdamai dengan pagebluk. Rakyat kalian ancam tidak boleh keluar rumah. Rakyat dipaksa untuk memutus tali silaturahmi antar sesama dengan alasan menjaga jarak. Rakyat dilarang berkerumun. Yang melanggar perintah ratu bakal dikerencong dan masukkan pakunjaran,” ungkap Bagong.  

“Sementara itu jika Welgeduwelbeh yang melanggar berkerumun dan mengundang rakyat banyak serta bagi-bagi sembako, tidak dipermasalahkan. Justru malah kalian sanjung setinggi-tingginya dan membela kesalahan Welgeduwelbeh menjadi kebaikan. Dasar tumbak cucukan,” geram Bagong.

“Badoooong, ja’ga uuu…cap’anmuuu…” teriak Durmagati.

“Namaku Bagong, bukan Badong,” sahut Bagong.

Wis gini aja, a’yo gelut,” tantang Durmagati.

Bagong bukannya menolak tantangan Durmagati, akan tetapi dia dan Gareng masih punya urusan dengan Welgeduwelbeh.

“Lain kali saja Dur, kita masih ada urusan dengan Welgeduwelbeh!”

“Tat…tat…ut ya lawan ak…ak…uuu,” ejek Durmagati.

“Dasar tumbak cucukan, siapa yang takut kalau cuma melawan Durmagati. Wis ayo Reng, sikat!” Seru Bagong.

“Oh, dengkulmu melocot, Gong. Kowe yang nantang kok aku yang maju,” timpal Gareng.

“Lho Reng, kan sudah cocok aku temukan lawanmu. Kowe kan kicer tur deglok, cocok musuhmu sama Durmagati. Kan lucu kalau perang.”

“Bagong setan, iblis, demit!”

Wis Reng, hajar aja Durmagati. Ingat jurus baru yang diajarkan Begawan Durna!”

“Sebental…sebental…julus ba’ ba’ lu apa itu!” Durmagati penasaran.

“Lho ksatria seperti Durmagati ga pernah diajari jurus baru sama Begawan Durna. Wah, wah, wah, ketinggalan,” Bagong memanas-manasi Durmagati.

“Pad’ahal ak…ak…uuu mur’ mur’ idnya ko’k ko’k nda…kk pelnah diajari ya. Begawan Durna asuuu. Ap’a nama jul’lusnya?” Tanya Durmagati.

“Namanya julus mabuk Wong Peng Hong,” ucap Bagong menirukan gaya cedal Durmagati.

Dasar Bagong paling banyak akal. Rencana Gareng mau bertempur melawan Durmagati jadi batal. Sebab Durmagati penasaran dengan jurus Wong Peng Hong dan minta diajarkan.

“Agar dapat menguasai jurus mabuk Wong Peng Hong, kamu harus minum tuak dulu. Biar bisa mabuk. Kalau sudah bisa mabuk, baru bisa mengeluarkan jurus mabuk Wong Peng Hong,” celetuk Bagong.

“Sebental…sebental… ak…ak…uuu ma…ma…uu aa’mbil tu…uak dulu.”

Durmagati pergi sebentar dan kembali membawa tuak dalam ukuran besar. Diberikanlah tuak itu ke Bagong dan Gareng. Namun kedua Punakawan menolak. Sebab mereka sudah menguasai jurus mabuk Wong Peng Hong. Akhirnya tuak tersebut diminum habis oleh Durmagati hingga membuatnya mabuk tak sadarkan diri.

Novianto Aji
Penulis adalah wartawan Kantor Berita RMOLJatim

Komentar


Video

Indonesia Bangkit Pembangunan Ekonomi

Kamis, 06 Mei 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Tragedi Nanggala, Lalu Apa?

Kamis, 06 Mei 2021
Video

Farah Zoomtalk Spesial Ramadhan • Bincang Buku Rahasia Kesehatan Rasulullah

Minggu, 09 Mei 2021

Artikel Lainnya

Masjid At Tabayyun: Manusia Merdeka Itikaf Di Tenda Arafah
Publika

Masjid At Tabayyun: Manusia ..

09 Mei 2021 15:30
Buya Syafii Maarif: Dahsyat Sekali....
Publika

Buya Syafii Maarif: Dahsyat ..

09 Mei 2021 11:58
Promosi Babi Panggang Buat Lebaran, Presiden Bisa Kena 156a KUHP
Publika

Promosi Babi Panggang Buat L..

09 Mei 2021 10:23
Satu Kesatuan, Satu Rakyat, Satu Bangsa Untuk Perubahan Nasional
Publika

Satu Kesatuan, Satu Rakyat, ..

09 Mei 2021 07:36
Anies Berpeluang Jadi Tokoh Fenomenal Di 2024
Publika

Anies Berpeluang Jadi Tokoh ..

09 Mei 2021 00:23
Catatan 100 Hari Perjalanan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo
Publika

Catatan 100 Hari Perjalanan ..

08 Mei 2021 22:43
Bertemunya Dua Tokoh Oposisi Di Malam Menyambut Ampunan
Publika

Bertemunya Dua Tokoh Oposisi..

08 Mei 2021 04:25
Kebermaknaan Jawa Timur Dalam Pembangunan Indonesia Maju Dan Penguatan NKRI Berideologi Pancasila
Publika

Kebermaknaan Jawa Timur Dala..

07 Mei 2021 13:56