Dunia Dalam Era Joe Biden

Jumat, 12 Februari 2021, 06:35 WIB

Tangkapan layar diskusi PSAPI/Repro

PUSAT Studi Air Power Indonesia (PSAPI) membuka lembaran baru Tahun 2021 dengan menggelar webinar dengan tema “Membahas dunia dalam era kepemimpinan Presiden Joe Biden”.

Pembicara tunggal pada webinar tersebut adalah Prof. DR. Makarim Wibisono, MA, diplomat senior dan Duta Besar Indonesia untuk PBB (2004-2007). Beliau tinggal lama dan kuliah di Amerika. Dari pengalaman beliau puluhan tahun, sungguh menarik mengikuti presentasinya.

Amerika yang meng-klaim sebagai negara yang sangat demokratis, ternyata mengalami ujian yang berat. Pada tanggal 6 Januari 2021 Gedung Capitol diduduki oleh demonstran pendukung Trump, yang merasa Pemilu telah berlangsung dengan curang. Untunglah akhirnya tanpa ada halangan, Joe Biden disumpah menjadi Presiden ke 46 Amerika Serikat. Donald Trump tidak mau menghadiri Pelantikan Joe Biden. Pada saat yang sama dia justru sedang berada di pesawat Airforce One, kembali ke Florida.

Prof. DR. Makarim Wibisono memulai presentasi dengan memberi gambaran mengenai 2 Partai Besar Amerika, Partai Republik dan Partai Demokrat.

Partai Republik di AS memiliki perspektif konservatif yang menonjolkan kapitalisme dan mendesak minimnya campur tangan pemerintah di bidang ekonomi dan mendesak perkuatan militer dan industri senjata AS. Partai Republik ingin mengurangi pajak untuk investasi.

Sedangkan Partai Demokrat di AS memiliki perspektif liberalisme yang menonjolkan campur tangan pemerintah antara lain di bidang pendidikan, kesehatan dan pekerjaan umum, peningkatan pajak untuk operasi pemerintah, serta memprioritaskan masalah HAM dan kemanusiaan.

Pada pidatonya tanggal 7 November 2020 Joe Biden mengatakan, “I pledge to be a President who seeks not to devide, but to unify. I sought this office to restore the soul of America, to make America respected around the world again and unite us here at home. Let this grim era of demonization in America begin to end -- here and now. Tonight, the whole world is watching America. I believe at our best America is a beacon for the globe. And we lead not by the example of our power, but by the power of our example.”

Untuk dapat memahami pergantian pemerintahan di AS yang membawa pergeseran kebijakan AS mengenai politik luar negeri, menurut Prof. DR. Makarim Wibisono, sebaiknya mengetahui lebih dahulu puncak-puncak kebijakan politik luar negeri Donald Trump.

Kebijakan Donald Trump tidak menghargai peranan multilateralisme dan lebih mengutamakan kepentingan AS. Kesepakatan-kesepakatan yang telah dicapai melalui hasil perundingan yang panjang, dengan gampang ditinggalkannya, misalnyan kesepakatan nuklir dengan Iran.

Sejak Donald Trump menjadi Presiden, AS bersikap kritis terhadap RRC dan menganggap RRC merugikan AS. Amerika melakukan perang dagang dengan RRC. Sikap AS menaikkan tarif pada produk-produk RRC, dibalas dengan tindakan yang sama pada produk pertanian AS dan produk lainnya. Amerika sering mengirimkan kapal-kapal perang dari Armada ke 7 ke Laut Tiongkok Selatan (LTS), termasuk Kapal Induk Nimitz dan Ronald Reagan. Ini mendorong RRC juga mengirimkan kapal-kapal perang RRC ke wilayah tersebut, sehingga meningkatkan suhu politik di Laut Tiongkok Selatan.

Sembilan garis putus-putus adalah garis yang di klaim oleh RRC sebagai wilayahnya di Laut China Selatan, meliputi Kepulauan Paracel dan Kepulauan Spratly yang dipersengketakan dengan Filipina, Tiongkok, Brunei, Malaysia, Taiwan & Vietnam.

Amerika menyatakan bahwa pengiriman kapal-kapalnya ke LTS, yang di-claim China menjadi wilayahnya sesuai Nine Dash Line, adalah dalam rangka memastikan adanya kebebasan pelayaran (freedom of navigation). Amerika berpendapat bahwa Armada ke 7 adalah gugusan kapal-kapal yang memiliki wilayah operasi diperairan Asia dan Pasifik termasuk di Laut Tiongkok Selatan. Oleh karena itu AS merasa wajar, kalau kapal-kapal AS dari Armada ke 7 berlayar ke LTS.

Tampaknya kapal-kapal AS telah siap menghadapi keadaan-keadaan yang berbahaya di LTS. Untuk menghadapi RRC, AS telah membentuk Quad yang terdiri dari Amerika Serikat, Jepang, India dan Australia. Selain itu juga untuk menyesuaikan dengan kondisi lapangan, AS telah mengubah wilayah operasi Armada ke 7 tidak lagi diperairan Asia Pasifik, tetapi menjadi wilayah perairan Indo-Pasifik.

Joe Biden mengangkat sumpah sebagai Presiden Amerika ke 46. Pada tanggal 20 Januari 2021, di Gedung Capitol.

Gambaran lebih jelas mengenai sosok Joe Biden, digambarkan oleh James Taub. Di Majalah Foreign Policy. Dia mengatakan, “It is safe to say that on the foreign policy, Biden is the most powerful US Vice President in history save for his mandate predecessor, Dick Cheney.”

Presiden AS yang baru itu dan sebagai mantan Wakil Presiden AS dua periode, dianggap yang paling mengetahui politik luar negeri, selain George Bush Sr.

Meskipun begitu Derek Chollet, bekas pejabat tinggi Departemen Pertahanan AS pada jaman Presiden Obama mengatakan, “Biden will be facing the most chaotic international environment since 1945. He is looking at an across-the- board restoration project.”

Joe Biden menekankan pentingnya kerjasama dalam mengatasi masalah dunia. Dia mengatakan, “I will do more than just restore our historic partnership. I will lend the effort to reimagine them for the world we face today.”

Dan Joe Biden akan melakukan beberapa hal penting antara lain:

  • Menghubungkan kembali AS dengan Paris Climate Agreement yang telah dimentahkan oleh Donald Trump pada tanggal 4 November 2019.
  • Memprioritaskan untuk mengatasi Pamdemi Covid-19, bersamaan dengan menggiatkan pemulihan ekonomi AS.
  • Memperbaiki hubungan AS dengan WHO dimana Trump telah membekukannya. Dalam New York Times, Biden pernah menulis, “America’s ability to lead the world depends not just on the strength of power, but on the power of our example.”
  • Meningkatkan peranannya “to coordinate global response.”
  • Mempertimbangkan kembali untuk masuk Trans Pacific Partnership.

Hubungan Internasional

Beberapa hubungan dengan dunia internasional diprediksi akan dilakukan oleh Presiden Joe Biden, antara lain adalah sebagai berikut:

China: Biden akan meminta mengubah sikapnya dalam perdagangan, cybertheft, technology dan hak azasi manusia. Biden akan melakukan kerjasama dalam hal-hal penting seperti: penanganan Covid-19 dan perubahan iklim.

Korea Utara: Biden tidak ingin melakukan pertemuan tanpa adanya kondisi yang tepat (non-conditional meeting).

Eropa: Biden akan memperbaiki hubungan, dengan mempertimbangkan penarikan 12 ribu pasukan dari Jerman. Amerika kembali menjadi negara pihak pada Paris Agreement mengenai lingkungan hidup.

Rusia: Memperpanjang kesepakatan mengenai pembatasan cadangan senjata nuklir kedua negara. AS akan menggunakan perpanjangan START yang baru itu untuk memastikan pembatasan seluruh senjata nuklir Rusia. Perpanjangan berlaku untuk 5 tahun.

Jerman: Menghentikan usaha menarik pasukannya dari Jerman.

Israel: Mengubah jabatan Dubes untuk Israel menjadi ’’US Ambassador to Israel, the West Bank and Gaza”. AS akan membuka Konsulat Jenderal di Jerusalem Timur, bagi penduduk Palestina dan juga akan memberi bantuan.

Myanmar: Mengecam tindakan militer di Myanmar yang menangkap tokoh-tokoh NLD yang menjadi pemenang pemilu.

Negara Sekutu: Memperbaiki hubungan dengan negara-negara sekutu, yang telah diabaikan oleh Donald Trump. Dan meningkatkan prospek prinsip-prinsip demokrasi.

Asia, Afrika dan Amerika Latin: Menghidupkan kembali hubungan persahabatan dengan negara-negara di benua tersebut.

Saudi Arabia: AS memberhentikan dukungan operasi ofensif yang dilakukan Saudi Arabia di Yaman.

UNESCO: Meninjau kembali hubungan AS dengan UNESCO dimana AS telah keluar, karena Palestina diterima menjadi anggota UNESCO.

Human Rights: AS akan melawan human rights abuse, tyranny dan intolerance di China, Rusia, Myanmar dan di tempat lain.

Sikap terhadap Rusia


Sikap Amerika Serikat terhadap Rusia, dirasakan lebih kuat dan tegas. Dan ini dikatakan Presiden Joe Biden sebagai berikut:

I made it clear to President Vladimir Putin, in a manner very different from my predecessor, that the day of the United States rolling over in the face of Russia’s aggressive actions are on interfering with our elections, cyber attacks, poisoning its citizens, are over. We will not hesitate to raise the cost on Russia and defend our vital interests.”

Hubungan dengan Indonesia

Sangat disadari bahwa gejolak politik internasional semakin meningkat. Hal ini diwarnai persaingan ketat antara AS dan China, akan berdampak juga kepada dinamika politik nasional Indonesia. Secara mendasar para founding father kita telah menyatakan bahwa politik kuar negeri yang terbaik adalah tidak membuat RI sebagai objek suatu konflik internasional. Sebaliknya RI harus tetap merupakan subyek yang memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri. Dan berjuang untuk mencapai tujuan nasional.

Dalam hal kerjasama ekonomi, Indonesia dapat menawarkan proyek-proyek kerjasama yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Selain itu Indonesia dapat bekerjasama dengan AS untuk memperkuat WHO, PBB, WTO dan organisasi internasional lainnya. Indonesia juga dapat bersama AS dalam usaha mengatasi Pandemi Covid-19. Selain itu dalam hal mengatasi terorisme, money laundering, cyber crimes, dan lainnya yang dapat membahayakan ekonomi.

Menurut Prof. DR. Makarim Wibisono, selain hal tersebut diatas, ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain adalah:

Melaksanakan perjanjian kemitraan strategis antara RI dengan AS yang disepakati tahun 2015 pada saat Barack Obama menjadi Presiden AS dan Joe Biden sebagai Wakil Presiden AS.

Mendorong AS agar lebih aktif hadir di Asia dan Indo-Pasifik, sehingga ada kekuatan yang mengimbangi China agar tercapai keseimbangan agar menghasilkan stabilitas, perdamaian dan kesejahteraan.

Mengundang AS berpartisipasi dalam inisiatif yang diluncurkan oleh ASEAN
seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Asean Regional Forum (ARF).

Membuat hubungan pertahanan RI-AS menjadi saling membantu, dan tidak saling membatasi.

Presentasi Prof. DR. Makarim Wibisono begitu menarik, apalagi bagi yang mendalami masalah politik. Setelah presentasi dilanjutkan dengan diskusi yang berlangsung dengan hangat dan banyak pertanyaan yang mengarah ke aviasi. Hal yang tak terhindarkan, karena sebagian besar peserta dari kalangan penerbangan.

Pada akhir sessi webinar Ketua PSAPI Marsekal (Purn) Chappy Hakim menyampaikan terimakasih yang sebesarnya dan penghargaan yang tinggi kepada Prof. DR. Makarim Wibisono yang telah berkenan sharing pengetahuan dan berbagi pengalaman kepada peserta Webinar PSAPI. Semoga sehat dan sukses selalu.

Sebagai penutup ada yang mengatakan, bahwa kebijakan politik Amerika Serikat sebenarnya tidak akan berubah banyak. Hanya gayanya saja yang berbeda. Kita akan melihat dalam beberapa waktu ke depan, apakah hal ini benar adanya.

Heru Legowo
Mantan ATC dan Pemerhati Penerbangan Anggota PSAPI

Komentar


Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Monitor PSU Pilkada 2020

Kamis, 08 April 2021
Video

Bincang Sehat • Mutasi Baru Virus Penyebab Covid-19

Jumat, 09 April 2021
Video

Ini Penampakan Prototipe Jet Tempur KF-X/IF-X

Sabtu, 10 April 2021

Artikel Lainnya

Pak Bekti Mengabdi Untuk Pendidikan PWI
Publika

Pak Bekti Mengabdi Untuk Pen..

11 April 2021 14:42
Perang Intelijen Antara Iran Melawan Israel
Publika

Perang Intelijen Antara Iran..

11 April 2021 13:55
Jokowi Masuk Surga?
Publika

Jokowi Masuk Surga?

11 April 2021 07:58
Kaum Milenial Pemuja Kultur Kematian
Publika

Kaum Milenial Pemuja Kultur ..

11 April 2021 01:14
Politik Kebaya Dan Perempuan
Publika

Politik Kebaya Dan Perempuan

10 April 2021 23:20
Primitif Pemikiran KSP Moeldoko
Publika

Primitif Pemikiran KSP Moeld..

10 April 2021 22:55
Polemik Alutsista Dan Kunjungan Menhan Ke Korea Selatan
Publika

Polemik Alutsista Dan Kunjun..

10 April 2021 15:12
AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, Jalan Hidup Ditempa Bagai Keris
Publika

AA LaNyalla Mahmud Mattalitt..

10 April 2021 09:47