Mungkinkah Komnas HAM Turut Dilaporkan Ke Pengadilan Kriminal Internasional?

Selasa, 12 Januari 2021, 09:59 WIB

Gedung Komnas HAM/Net

KEKECEWAAN banyak pihak atas hasil kerja Komnas HAM memang wajar. Terlalu banyak pertanyaan yang menggantung jawabannya dari hasil penyelidikan yang telah dirilis.

Soal tembak-menembak, kepemilikan senjata api, alas hukum pengintaian dan pembuntutan, penyiksaan, komandan dalam Landcruiser, hingga kendaraan pembuntut berisi petugas misterius. Pembunuhan yang dikategorikan pelanggaran HAM pun tak terjelaskan tempat kejadiannya dan siapa pelaku penembakannya.

Adalah wartawan dan reporter senior FNN Eddy Mulyadi yang membeberkan banyak kejanggalan rilis Komnas HAM. Berlembar analisis kajian disiarkan kepada para pemirsa. Tajam, akurat, namun santai khas jurnalis yang dikenal berani ini. Tentu menohok kepada personal tim penyelidik Komnas HAM yang dipimpin Choirul Anam. Menyayangkan hasil kerja tim yang minim meski menyadari kemungkinan adanya tekanan yang menyebabkan Komnas HAM menjadi kelu dan ragu-ragu.

Bahwa adanya rekomendasi tindak lanjut proses peradilan tentu disambut baik walaupun disesalkan kesimpulannya tidak sampai pada terjadinya pelanggaran HAM berat. Kondisi jenazah yang menyedihkan membawa keyakinan bahwa yang terjadi adalah pelanggaran HAM berat. Telah nyata  perbuatan petugas yang di luar batas kemanusiaan.

Di samping masih terdengar tuntutan perlunya penyelidikan Tim Pencari Fakta (TPF) Independen, juga opsi untuk melibatkan lembaga HAM internasional mengemuka. Perlu mengagendakan pelaporan ke lembaga peradilan kriminal internasional (Internasional Criminal Court). Butuh obyektivitas tinggi untuk mengusut dan menyelidiki kasus yang sangat mungkin dapat berujung pada skandal tingkat tinggi lembaga kepolisian maupun pemerintahan. Motif politik dari pembunuhan atau pembantaian.

Dengan temuan atau kesimpulan "seribu kejanggalan" ini maka andai kasus "Pelanggaran HAM Km 50" dapat dibawa ke tingkat peradilan internasional maka Komnas HAM yang bekerja kelu dan ragu-ragu itu dapat dijadikan pihak terlapor pula. Komnas HAM termasuk pihak yang telah turut mengaburkan peristiwa pelanggaran HAM berat. Nyawa manusia terkesan dapat dinegosiasi, karenanya Komnas HAM pantas menjadi pihak yang ikut juga melakukan "pelanggaran HAM".

Internasional Criminal Court (ICC) di Den Haag diharapkan dapat menindaklanjuti laporan dari kasus yang diajukan ini. Syarat terpenting adalah "unwillingness" yaitu tidak ada kemauan peradilan di Indonesia untuk mengadili kejahatan kemanusiaan. Status "non state parties" tidak menjadi halangan atas tafsir luas pasal 27 dan 28 Statuta Roma.

Kejahatan yang termasuk kategori "internasional crime" berdasarkan prinsip universal yang berlaku dalam hukum internasional masuk dalam yuridiksi ICC tanpa melihat nasionalitas pelaku dan tempat perbuatan. Pasal 28 Statuta menegaskan bahwa "atasan baik militer atau sipil harus bertanggung jawab secara pidana terhadap kejahatan yurisdiksi ICC yang dilakukan anak buahnya".

Aturan seperti ini sangat dirasakan penting untuk mampu menghukum "the most responsible person" yang karena kekuasaan dalam negara menjadi sulit dijangkau oleh lembaga peradilan domestik. Peradilan kriminal  internasional mampu menyeret kepala negara, anggota parlemen, kapolda, atau pejabat lainnya yang dikualifikasikan terlibat dalam pelanggaran HAM (Vide Pasal 27 Statuta).

Andai sejumlah organisasi pembela HAM, tokoh dan aktivis, serta keluarga korban dari pelanggaran HAM mengadu kepada Internasional Criminal Court (ICC) sebagai peradilan internasional independen, mungkin misteri dari peristiwa "pelanggaran HAM Km 50" akan terkuak.

Dan yang terpenting adalah bahwa para pelaku atau perekayasa kejahatan HAM tersebut dapat dihukum. Kejahatan kemanusiaan tidak boleh dibiarkan atau terulang. Komnas HAM yang ikut bermain-main dalam kasus sensitif ini patut pula bertanggungjawab atas kelu dan ragu-ragunya itu.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan.

Kolom Komentar


Video

Gempa Mamuju, Ustad Das\'ad Latif Nyaris Jadi Korban

Jumat, 15 Januari 2021
Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021

Artikel Lainnya

Mendorong Koalisi Masyarakat Sipil Lapor Ke Pengadilan Kejahatan Internasional
Publika

Mendorong Koalisi Masyarakat..

16 Januari 2021 12:36
In Memoriam Yazirwan Uyun: Selamat Jalan Sahabat Yang Baik Hati
Publika

In Memoriam Yazirwan Uyun: S..

15 Januari 2021 11:49
Dalam Hal Tolak Vaksin, Aceh Berkerabat Dengan Rusia
Publika

Dalam Hal Tolak Vaksin, Aceh..

15 Januari 2021 11:25
Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Institusi Polri, Indonesia Maju, Dan Persatuan Nasional
Publika

Jenderal Listyo Sigit Prabow..

15 Januari 2021 09:58
Pesta Raffi Dan Ahok Mengolok Negara
Publika

Pesta Raffi Dan Ahok Mengolo..

15 Januari 2021 09:26
Komjen Listyo Sigit Dan Angin Segar Kebhinnekaan Kita
Publika

Komjen Listyo Sigit Dan Angi..

15 Januari 2021 01:40
No Threat Of Radicalism
Publika

No Threat Of Radicalism

14 Januari 2021 22:57
Hore, Ketua KPU Dipecat
Publika

Hore, Ketua KPU Dipecat

14 Januari 2021 09:40