Bulan Desember Yang Penuh Makna

Kamis, 03 Desember 2020, 20:59 WIB

Ekonom Rizal Ramli dan Sjahrir/Repro

ADA dua ekonom besar Indonesia yang Penulis kagumi: Sjahrir dan Rizal Ramli (RR).

Penulis lebih mengenal yang pertama bukan karena almarhum beristrikan putri Batak, Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir (adik kandung Luhut Pandjaitan). Kartini Sjahrir, karena pernah bekerja di Yayasan Obor Indonesia (YOI), beberapa kali membawa suaminya almarhum ke kantor YOI saat Penulis bekerja di sana pada awal tahun 1989 hingga pertengahan 1990.

Sekadar diketahui, YOI dipimpin dan didirikan almarhum Mochtar Lubis bersama sejumlah cendekiawan. Almarhum merupakan sastrawan besar ternama, tokoh pers Indonesia dan internasional, dan mantan Pemimpin Redaksi Indonesia Raya, sebuah surat kabar yang dilarang terbit di masa Orde Lama dan Orde Baru pascaperistiwa 15 Januari 1974 (yang dikenal dengan peristiwa Malapetaka Limabelas Januari/Malari).

Sementara RR, Penulis mengenalnya melalui almarhum Aberson Marle Sihaloho (mantan anggota Komisi XI DPR (komisi keuangan dan perbankan) dari FPDIP) dan almarhum Mayjen TNI (Purn) Ferry FX Tinggogoy (FFXT) (anggota DPD 2009-2013 asal Sulawesi Utara). Sepengetahuan Penulis yang pendek, kedua almarhum sama-sama mengagumi RR, minimal mengakui kehebatannya yang luar biasa di bidang ekonomi.

Karena itulah, sebagaimana yang pernah Penulis tulis di RMOL, saat FFXT (orang dekat almarhum Gus Dur, seangkatan Wiranto dan Sutiyoso di AMN 1968) menjadi anggota Panitia Khusus (Pansus) DPD (tahun 2012), FFXT mendorong Pansus DPD mengundang RR sebagai narasumber. Seingat Penulis, ada dua kali Penulis melihat beliau dari dekat saat beliau menjadi narasumber itu.

Karena saat itu Penulis hanya staf ahli FFXT, beliau tentu tidak mengenal Penulis, bahkan hingga sekarang, kecuali mungkin mulai mengenal Penulis melalui tulisan Penulis tentang beliau.

Sjahrir dan RR memiliki banyak kesamaan. Keduanya lulusan Amerika Serikat.  Sjahrir lulusan dari Universitas Harvard, sedangkan RR dari Universitas Boston (sealmamater dengan istri Sjahrir, Kartini Pandjaitan, yang antropolog). Keduanya aktivis mahasiswa yang sempat merasakan getirnya hidup di penjara. Mungkin peristiwa lengsernya Soeharto pada 21 Mei 1998 tidak akan terjadi jika tidak ada peristiwa 15 Januari 1974 yang salah satu tokohnya Sjahrir dan 16 Januari 1978 yang melambungkan nama RR.

Kesamaan yang lain dari keduanya adalah sama-sama putra Minang dan beristri bukan Minang. Bedanya Sjahrir lahir di Kudus dan besar di Jawa Tengah, Yogya, Jawa Timur, dan Jakarta, sedangkan RR lahir di Padang dan besar di Jawa Barat. Dari segi sifat, RR ini mirip dengan pecatur Rusia yang Penulis kagumi, Gary Kasparov, yang meski sama-sama warga Rusia (dulu dikenal dengan Uni Soviet), namun berbeda 180 derajat dengan pecatur terkenal lainnya, Anatoly Karpov.

Seperti diketahui, perlawanan mahasiswa terhadap Soeharto tidak berhenti di 1978.  Bahkan, perlawanan yang dimotori oleh mahasiswa 20 tahun kemudian berlangsung jauh lebih masif di seluruh Indonesia dan didukung oleh hampir semua elemen bangsa.

Bagi PDIP, prakondisi dari peristiwa 1998 itu adalah peristiwa 27 Juli 1996.  Bagi Megawati dan sejumlah tokoh PDI (termasuk Aberson Sihaloho, tanpa mengabaikan peran yang lain), peristiwa 27 Juli 1996 harus dirunut ke Kongres Luar Biasa (KLB) PDI yang diselenggarakan di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya 2-6 Desember 1993.

Bagi Aberson, peristiwa 27 Juli 1996 yang sempat membuatnya menghadapi sidang pengadilan beberapa kali itu, tidak akan ada bila KLB tidak pernah terjadi.  KLB yang membuat Megawati terpilih dengan suara terbanyak (meraih 256 dari 305 suara cabang) mungkin tidak akan terjadi jika Aberson awalnya tidak bergerilya dengan operasi senyap ke DPC-DPC sebagai pemilik suara di KLB untuk mendapatkan dukungan dari mereka. Tindakan Aberson ini sempat disebut oleh tokoh PDI Frans Seda (Menteri Keuangan 1966-1968) sebagai “bad politics” (mungkin lebih tepat Frans Seda sebut dengan ungkapan yang halus -eufemisme sebagai “cara berpolitik yang tidak pas”).

Sebagai catatan, lantaran Penulis mengetahui persis cara “bad politics” yang almarhum lakukan plus mendengar kisah heroik ini beberapa kali dari almarhum, itu yang mendorong Penulis sempat mengoreksi kekeliruan Wikipedia yang semula antara lain menyebut Megawati terpilih secara aklamasi.

Peristiwa KLB membawa ingatan Penulis ke bulan peristiwa itu terjadi, yakni Desember 27 tahun yang lewat. Ingatan mengenai Desember ini pula membuat Penulis dan mungkin semua kita mengenang dengan begitu pahit bencana tsunami di Aceh dua windu yang lalu.

Penulis ingat betul, pascatsunami Aceh, merespon saran sejumlah pakar, Menteri Keuangan waktu itu menyebut usulan restrukturisasi utang sebagai “kebijakan yang tidak pas”, apalagi bila sampai “mengemis” meminta penghapusan utang. Mungkin bagi Menteri Keuangan itu yang lebih pas adalah meminta tambahan utang, termasuk dalam menangani dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang mulai terjadi Desember setahun silam itu.

Lantaran kadung bicara tentang Desember, mau tidak mau Penulis mengakhirinya dengan “bicara” lagi tentang RR.  Meski nama yang pertama penulis sebut dalam tulisan ini Sjahrir, tidak pada tempatnya menyebut lagi nama almarhum, meskipun ekonom agung ini lahir pada tanggal dan bulan yang sama dengan Penulis.

Barangkali tidak banyak kita yang tahu, RR itu lahir Desember 1954 (seminggu lagi beliau berulang tahun yang ke-66). Pembaca pasti tahu persis apa kado dari rakyat yang paling tepat yang diwakili pemberiannya oleh Presiden Jokowi, Kepala Negara kita.

Penulis demikian mendambakan Presiden Jokowi yang rendah hati ini berkenan mengajak beliau kembali ikut membantu bangsa dan negara ini, mewakafkan hidup dan keahliannya mengakhiri pandemi yang diawali dari Wuhan, Tiongkok ini.

Mari kita menanti “sentuhan tangan dingin” Presiden Jokowi dan beliau yang berawal dari bulan terakhir tahun ini demi mengakhiri gonjang-ganjing pandemi yang telah meluluhlantakkan ekonomi kita, utamanya ekonomi rakyat.

Penulis dengan rendah hati mengajak kita berdoa untuk itu sesering yang kita bisa. Sebagai orang yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, hanya doa dan ini yang bisa Penulis lakukan.

Henrykus Sihaloho
Doktor lulusan Institut Pertanian Bogor dan dosen pada Universitas Katolik Santo Thomas, Medan
EDITOR: DIKI TRIANTO

Kolom Komentar


Video

Langgar Aturan, Satpol PP Bongkar Lapak PKL di Boyolali

Kamis, 14 Januari 2021
Video

Batal Divaksin Pertama, Ini Penjelasan Wali Kota Semarang

Kamis, 14 Januari 2021
Video

Saat-saat HRS Dipindahkan

Kamis, 14 Januari 2021

Artikel Lainnya

In Memoriam Yazirwan Uyun: Selamat Jalan Sahabat Yang Baik Hati
Publika

In Memoriam Yazirwan Uyun: S..

15 Januari 2021 11:49
Dalam Hal Tolak Vaksin, Aceh Berkerabat Dengan Rusia
Publika

Dalam Hal Tolak Vaksin, Aceh..

15 Januari 2021 11:25
Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Institusi Polri, Indonesia Maju, Dan Persatuan Nasional
Publika

Jenderal Listyo Sigit Prabow..

15 Januari 2021 09:58
Pesta Raffi Dan Ahok Mengolok Negara
Publika

Pesta Raffi Dan Ahok Mengolo..

15 Januari 2021 09:26
Komjen Listyo Sigit Dan Angin Segar Kebhinnekaan Kita
Publika

Komjen Listyo Sigit Dan Angi..

15 Januari 2021 01:40
No Threat Of Radicalism
Publika

No Threat Of Radicalism

14 Januari 2021 22:57
Hore, Ketua KPU Dipecat
Publika

Hore, Ketua KPU Dipecat

14 Januari 2021 09:40
Dunia, Kita Dan Virus Setelah Vaksin
Publika

Dunia, Kita Dan Virus Setela..

13 Januari 2021 17:18