Nikita Harusnya Ditangkap

Selasa, 17 November 2020, 09:48 WIB

Nikita Mirzani dan Habib Rizieq Shihab/Net

NIKITA Mirzani menjadi sangat populer untuk tiga hal artis seronok, menghina HRS, dan dilindungi polisi.

Kontroversi dirinya bukan semakin terkendali, tetapi justru tambah "menantang". Bahkan ia mengklaim dirinya sebagai aset negara. Peliharaan? Ade Armando saja menduga Mirzani sedang menjalankan misi Jokowi. Ironi.

Toleransi dan support atas akting dan tampilannya menjadi cermin bobroknya moral bangsa. Jika kekuasaan berada di belakangnya, maka sama saja dengan mendukung moral dekaden. Hal ini berarti pelecehan terhadap hukum.

Nikita semestinya bukan dilindungi aparat tetapi diproses secara hukum karena pertama, penghinaan atau pencemaran terhadap HRS yang artinya melanggar ketentuan Pasal 310 ayat (1) KUHP maupun Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (3) UU ITE. Tentu ini adalah klacht delict.

Dan kedua, melanggar UU No 44 tahun 2008 tentang Pornografi.

Pasal 10 UU Pornografi menyatakan :

"Setiap orang mempertontonkan diri dan orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya".

Pasal 36 mengatur sanksi pidana atas perbuatan dalam Pasal 10 tersebut di atas dengan hukuman penjara 10 tahun dan/atau denda sebesar Rp 5 miliar.

Dengan video yang beredar Nikita Mirzani terkena ketentuan UU Pornografi tersebut karena diduga elemen delik yang ada pada pasal-pasalnya akan mudah untuk dipenuhi.

UU Pornografi dibuat untuk mencegah terjadinya dekadensi moral. Konsideran UU ini antara lain menyatakan:

"Bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang berdasar Pancasila dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral, etika, akhlak mulia, dan kepribadian luhur bangsa, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menghormati kebinekaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, serta melindungi harkat dan martabat setiap warga negara".

Nah sangat jelaskan? Sebenarnya tinggal proses hukum Nikita Mirzani. Agar tidak ada pembiaran terhadap dugaan perilaku pornografi atau pornoaksi. Ataukah Indonesia akan semakin bobrok karena membiarkan borok-borok?

Kita tak perlu mengulangi jaman Orde Lama saat pelacur Gerwani menari telanjang di lubang buaya sebagai wujud dan alat perjuangan komunis yang berprinsip menghalalkan segala cara.

Atau juga pelacur yang dimanfaatkan oleh Soekarno untuk menjadi bagian dari pergerakan kemerdekaan. Soekarno merujuk pada keberadaan pelacur yang menjadi tokoh di Perancis seperti Madame de Pompadoure dan Theroigne de Merricourt.

Kita kini sudah merdeka dan negara telah berkomitmen untuk membangun bangsa dengan berbasis pada nilai-nilai moral yang luhur.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan hukum.

Kolom Komentar


Video

Ular Piton 3,5 Meter Ditangkap Usai Mangsa Ternak Warga Boyolali

Selasa, 01 Desember 2020
Video

Sari Rogo Dan Kerikil Agrowisata Unila

Selasa, 01 Desember 2020
Video

Anies Baswedan Positif Covid-19

Selasa, 01 Desember 2020

Artikel Lainnya

Tenda Putih Yang Malang
Publika

Tenda Putih Yang Malang

05 Desember 2020 07:18
Kezaliman Adalah Musuh Sejarah
Publika

Kezaliman Adalah Musuh Sejar..

04 Desember 2020 10:17
Enak Zamanku Toh?
Publika

Enak Zamanku Toh?

04 Desember 2020 10:07
Apresiasi Untuk Kepala BNPB Doni Monardo Dan Warning Untuk Potensi Bencana Akhir Tahun
Publika

Apresiasi Untuk Kepala BNPB ..

04 Desember 2020 09:01
Islam No, Muhammadiyah Yes
Publika

Islam No, Muhammadiyah Yes

04 Desember 2020 07:19
Bulan Desember Yang Penuh Makna
Publika

Bulan Desember Yang Penuh Ma..

03 Desember 2020 20:59
Lewonu
Publika

Lewonu

03 Desember 2020 12:04
Rakyatlah Pemenang Pilkada (Semestinya)
Publika

Rakyatlah Pemenang Pilkada (..

02 Desember 2020 21:46