Tiga Revolusi

Rabu, 11 November 2020, 11:59 WIB

M. Amien Rais Dan Habib M. Habib Rizieq Shihab/Net

PADA masa pemerintahan Presiden Jokowi terhitung tiga terma revolusi telah muncul dan dicoba disosialisasikan.

Kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 dibarengi dengan gelindingan istilah Revolusi Mental. Revolusi yang diarahkan pada perubahan sikap atau perilaku menuju mental disiplin, kerja keras, dan gotong royong. Berdasarkan Inpres No. 12/2016 dikenal dengan lima gerakan nasional yaitu melayani, bersih, tertib, mandiri, dan bersatu.

Revolusi Mental dalam kesejarahan dekat dengan konsepsi sosialis komunis. Dikenalkan oleh Partai Komunis Tiongkok untuk mencuci otak kaum buruh dan petani agar menentang kekaisaran. Pemimpin PKI DN Aidit mengganti nama diri "Ahmad" dalam rangka Revolusi Mental. Menurutnya, Revolusi Mental belum berhasil jika masyarakat belum dijauhkan dari agama.

Ketika Revolusi Mental Jokowi dinilai gagal, maka M. Amien Rais mengangkat terma Revolusi Moral. Jika mental menyangkut sikap jiwa, maka moral lebih menitik beratkan pada nilai apakah baik dan buruk. Buku yang dibuatnya berjudul "Hijrah Selamat Tinggal Revolusi Mental, selamat Datang Revolusi Moral" berisi kumpulan tulisan.

Konsepsi Revolusi Moral belum terjabarkan, hanya menarik ke landasan keimanan dan kritik atas kondisi sosial politik kini yang dianggap nir-moral. Pandangan Jhon Buchan sejarawan dan novelis Skotlandia mengemuka yang menurutnya revolusi moral lebih penting dari alat persenjataan militer.

Revolusi Moral redup bersamaan dengan ramainya konflik di PAN yang disepuhi M. Amien Rais. Figur Habib Rizieq Shihab menjadi pembicaraan selama keberadaannya di Saudi Arabia maupun Rencana kepulangan ke Indonesia. Saat kepastian kepulangan, Revolusi Akhlak digaungkan dan pada pidato pertama di Petamburan Revolusi Akhlak diserukan kepada masyarakat dan umat.

Revolusi Akhlak perlu penjabaran kontekstual untuk menjadi pedoman perjuangan. Revolusi Akhlak yang dimaksud oleh Habib Rizieq Shihab tentu lebih kental nuansa keagamaannya. Rujukan utama adalah Sabda Nabi "innama bu'itstu liutammima makarimal akhlaq" (HR Bukhori).

Entah apakah Revolusi Akhlak yang digaungkan HRS ini akan membahana atau terhenti tergantung pada kekuatan figur yang menggemakannya. Di samping tentu perlu ada kejelasan konsepsi kontekstual dimaksud yang mudah dicerna dan diterima umat atau rakyat Indonesia.

Yang pasti Al Qur'an telah mengingatkan bahwa risalah nubuwah dalam melakukan perubahan adalah untuk menegakkan dan mendhohirkan agama yang benar (dienul haq) atas berbagai paham, isme, atau filosofi kehidupan lainnya (alad dieni kullihi). Meskipun untuk itu berbagai tantangan pasti akan menghambat. (QS At Taubah 33).

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan.

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

Tiga Memukul Sinuhun
Publika

Tiga Memukul Sinuhun

20 Januari 2021 14:24
Hilangnya Tradisi Politik Dan Norma Demokrasi
Publika

Hilangnya Tradisi Politik Da..

20 Januari 2021 11:31
Arief Poyuono: Salut Untuk Airlangga, Saat OTG Masih Bekerja Untuk Negara
Publika

Arief Poyuono: Salut Untuk A..

19 Januari 2021 20:25
Memperkuat Reformasi Sistem Pembayaran Dengan Koordinasi Sektoral Dan Teknologi Blockchain
Publika

Memperkuat Reformasi Sistem ..

19 Januari 2021 14:01
DPD RI, Macan Ompong Yang Mulai Mengaum?
Publika

DPD RI, Macan Ompong Yang Mu..

19 Januari 2021 13:52
Denny Cagur Dan Tren Politik Selebritas
Publika

Denny Cagur Dan Tren Politik..

19 Januari 2021 11:41
Moon Jae-in, Dilema Antara Donald Trump Dan Joe Biden
Publika

Moon Jae-in, Dilema Antara D..

19 Januari 2021 09:44
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Di Masa Pandemi
Publika

Mencerdaskan Kehidupan Bangs..

19 Januari 2021 07:23