Matematika Dan Kemanusiaan

Ilustrasi Jaya Suprana/Net

MANTAN deputi Menristek merangkap Mahaguru Sains dan Teknologi saya, DR. Idwan Suhardi mendukung prakarsa saya mendirikan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan untuk mempelajari apa yang disebut sebagai kemanusiaan. Namun beliau merasa heran ketika saya mulai mempelajari angkamologi sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai matematika.

Skeptis

Sebagai seorang ilmuwan terbiasa dengan pemikiran sains maka senantiasa skeptis, beliau bertanya kepada saya mengenai apa hubungan antara kemanusiaan dengan matematika. Pertanyaan tersebut sempat membuat saya tertegun. Belum pernah terlintas di benak saya bahwa ada hubungan antara kemanusiaan dan matematika yang sekilas seolah mengada-ada akibat terkesan absurd.

Pertanyaan mantan deputi Menristek merangsang naluri penasaran saya tentang keterkaitan antara apa yang disebut kemanusiaan dengan apa yang disebut sebagai matematika. Ternyata ada.

Kesatwaan

Keberadaan korelasi kemanusiaan dengan matematika bisa dijawab secara utilitarianistis. Dipandang dari sisi manfaat dapat disimpulkan bahwa kemanusiaan lebih merupakan suatu jenis tujuan, sementara matematika lebih merupakan suatu jenis alat untuk mencapai tujuan. Dan justru pada sisi manfaat itulah langsung kemanusiaan memiliki keterkaitan dengan matematika.

Dengan menggunakan manfaat yang terkandung di dalam matematika, manusia bahkan mahluk hidup bisa mencapai tujuan. Contoh paling nyata pada satwa memanfaatkan matematika untuk mencapai tujuan kesatwaaan menangkap mangsa demi keterlanjutan kehidupan adalah laba-laba yang secara naluriah membentuk sarang yang berbentuk geometris (matematikal!) demi mampu menangkap mangsa demi keterlanjutan hidup sang pemangsa.

Sarang laba-laba berbentuk geometris merupakan bukti bahwa ada keterkaitan antara kesatwaan dengan matematika. Apa yang secara maematikal dilakukan oleh laba-laba demi mencapai tujuan kesatwaan terbukti juga secara matematikal dilakukan oleh manusia demi mencapai tujuan kemanusiaan.

Kemanusiaan

Dengan menggunakan unsur-unsur matematikal, manusia mencapai tujuan kemanusiaan dalam bidang kesehatan seperti telah terbukti pada kasus pageblug Corona yang dilawan oleh manusia dengan menggunakan alat deteksi suhu badan, tes rapid atau swab, respirator, pengukur detak jantung, tekanan darah, kadar gula darah dan segenap peralatan medis yang hanya bisa berfungsi dengan dukungan angka serta simbol matematikal.

Penelitian vaksin mutlak butuh data-data matematikal kimiawi. Pendidikan tidak lengkap apabila tidak dilengkapi pendidikan aritmatika, kalkulus, aljabar, logaritma, geometri dll elemen matematikal. Penanggulangan kemiskinan merupakan bagian hakiki dari tujuan utama upaya perjuangan kemanusiaan. Untuk dapat mengukur keberhasilan atau kegagalan suatu kebijakan menanggulangi kemiskinan demi mempersempit jurang kesenjangan sosial mutlak membutuhkan data statistik yang merupakan unsur matematika.

Dengan penghitungan biaya secermat mungkin perumahan bisa dibangun dengan harga yang terjangkau kaum miskin. Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, Kuba, Korut secara matematis menganalisa anggaran biaya kemanusiaan sehemat agar perumahan dapat diberikan kepada rakyat secara gratis. Kesejahteraan erat terkait dengan kemakmuran erat terkait dengan apa yang disebut sebagai uang alias duwit yang hanya bisa dihitung dengan menggunakan unsur matematika yang terkandung di dalam mulai ilmu akuntasi sampai ekonometri.

Asuransi kesehatan sebagai bagian hakiki Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab hanya mampu berhasil apabila ditatalaksana dengan ilmu aktuaris sebagai sub ilmu matematika.

Nilai

Matematika merupakan bahasa yang berdayaguna bagi sains maka juga berdayaguna bagi teknologi, keuangan, kesenian, kebudayaan yang kesemuanya memiliki daya manfaat bagi kemanusiaan. Namun sebagai sekedar alat sewajibnya matematika jangan dikultuskan apalagi diberhalakan. Nilai mutu daya manfaat matematika bukan terukur pada pencapaian tujuan namun lebih pada bagaimana dan untuk tujuan apa daya matematikal digunakan.

Perhitungan matematikal pada teknologi nuklir bernilai positif apabila digunakan untuk tujuan diagnosa kesehatan atau tenaga pembangkit listrik namun langsung bernilai destruktif apabila untuk membinasakan manusia. Menggusur rakyat miskin dan masyarakat adat atas nama pembangunan jelas tidak selaras makna adiluhur yang terkandung di dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Perhitungan matematikal terkandung dalam penelitian biologis terhadap ras manusia yang dimanfaatkan Adolf Hitler untuk membenarkan kebiadaban membantai jutaan kaum Yahudi jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ibarat pisau bernilai konstruktif ketika digunakan sebagai alat bedah demi menyelamatkan manusia bermakna destruktif ketika digunakan untuk membunuh manusia

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan
EDITOR: DIKI TRIANTO

Komentar


Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021
Video

RMOL World View • Diplomasi Halal Saat Pandemi

Senin, 08 Maret 2021
Video

Obrolan Bareng Bang Ruslan, bersama: Syahrial Nasution dan Abdul Hamid

Selasa, 09 Maret 2021

Artikel Lainnya

Meletakkan Harapan Kepada Prof Mahfud Dan Prof Yasonna
Jaya Suprana

Meletakkan Harapan Kepada Pr..

09 Maret 2021 09:11
Ethologi Ceko Bermain Bola
Jaya Suprana

Ethologi Ceko Bermain Bola

08 Maret 2021 10:24
Prihatin Derita Para Sahabat
Jaya Suprana

Prihatin Derita Para Sahabat

06 Maret 2021 10:25
Legowo Menerima Kritik
Jaya Suprana

Legowo Menerima Kritik

05 Maret 2021 10:52
Memohon Kemanusiaan Untuk Masyarakat Adat
Jaya Suprana

Memohon Kemanusiaan Untuk Ma..

03 Maret 2021 16:44
Teka Teki Masa Corona
Jaya Suprana

Teka Teki Masa Corona

28 Februari 2021 23:16
Ujian Pertama Presisi, Polri Harus Hukum Berat Oknum Penjual Senjata Ke KKB Papua
Jaya Suprana

Ujian Pertama Presisi, Polri..

27 Februari 2021 03:21
Belajar Mikul Duwur Mendhem Jero
Jaya Suprana

Belajar Mikul Duwur Mendhem ..

26 Februari 2021 11:18