Beringin Dan 9 Bintang Dalam Pilkada Serentak Di Lampung

Rabu, 12 Agustus 2020, 16:14 WIB

Nizwar Affandi/Net

TIGA minggu lagi tahapan pendaftaran bakal calon kepala daerah ke KPUD akan dimulai. Maraton panjang perburuan rekomendasi partai politik yang diikuti oleh semua bakal calon sejak satu setengah tahun yang lalu sekarang telah memasuki ujung lintasan.

Semua bakal calon bergegas melakukan sprint. Ada beberapa yang terlihat seperti mendapatkan energi baru dan melesat kencang sementara beberapa yang lain justru terlihat loyo seperti kehabisan tenaga dan terduduk di lintasan.

Di awal perlombaan dulu, Partai Golkar menjadi tim yang paling ditakuti dan diunggulkan di Lampung. Bagaimana tidak, partai ini dipimpin oleh ketua yang sedang menjabat sebagai Gubernur, yang secara dramatis mampu membalikkan semua prediksi lembaga survey dan tebakan publik dalam Pilgub 2018 kemarin.

Golkar menjadi partai yang paling diminati rekomendasinya oleh para bakal calon kepala daerah, mungkin karena mereka berharap bisa memperoleh ilmu dan kesaktian seperti yang telah ditunjukkan oleh Arinal Djunaidi dalam Pilgub Lampung ketika mengalahkan Ridho Ficardo dan Herman HN dalam satu putaran.

Postur politik Partai Golkar pun menjadi semakin memukau karena PKB kemudian seakan menempatkan diri mereka sebagai mitra setia yang berkomitmen akan selalu mendampingi dan mengikuti arah kebijakan Partai Golkar dalam kontestasi Pilkada Serentak ini.

Sejak awal seperti seorang istri yang baik dan penurut, PKB hanya meminta satu saja dari delapan daerah yang mengikuti Pilkada Serentak 2020, Lampung Timur saja yang diminta sementara yang lainnya akan sami’na wa ato’na mengikuti pilihannya Partai Golkar agar Koalisi Golkar-PKB dalam Pilgub 2018 dapat diteruskan pada Pilkada Serentak 2020.

Dalam perjalanannya koalisi permanen yang diharapkan ternyata menuntut kesabaran yang luar biasa, PKB terus menerus dipaksa untuk memaklumi dan menerima perlakuan buruk mitra koalisinya. Golkar seperti merasa tidak perlu mengajak bicara PKB terlebih dahulu sebelum memutuskan arah pilihannya, persis seperti perlakuan suami yang menuntut istri untuk ikut saja mengamini semua keputusan suami sekalipun tanpa diskusi.

Di Lampung Tengah, dengan telaten dan sabar, Nunik terpaksa harus menjawab semua pertanyaan dan meredakan semua kegundahan kader PKB dan NU terkait sikap Golkar yang sudah menentukan pasangan Musa-Dito tanpa berdiskusi sebelumnya apalagi memberi kesempatan kepada kader PKB untuk ambil bagian.

Pergulatan justru terjadi di internal Golkar, berhembus kabar angin bahwa ada keinginan yang cukup kuat dari petinggi DPP Partai Golkar Azis Syamsuddin agar Musa berpasangan dengan Nessy, istri mantan Bupati Lampung Tengah yang diusung oleh Nasdem.

Sudah menjadi rahasia umum, metode, gaya sosialisasi bahkan desain APK pasangan Musa-Dito di Lampung Tengah sama persis seperti pasangan Arinal-Nunik pada Pilgub 2018. ingatan publik seperti diarahkan untuk menerima logika bahwa energi kedua pasangan ini sesungguhnya berasal dari sumber yang sama.

Kekuatan itu yang kemudian terbukti mampu menarik PKB, Demokrat dan PAN untuk menggenapi persyaratan pencalonan Musa-Dito tanpa harus bergantung pada rekomendasi Golkar.

Seperti ada kegusaran dan kemarahan dalam prosesnya, mungkin mereka sudah tidak sabar lagi menunggu begitu lamanya Arinal menyelesaikan pergulatan internal di partai yang ia pimpin. Rekomendasi tiga partai yang mendahului Golkar ini konon akhirnya menempatkan posisi DPP Golkar pada posisi tidak memiliki pilihan lain selain Musa-Dito. Langkah taktis yang memecahkan kebuntuan pergulatan internal di Partai Golkar.

Di Lampung Selatan, harapan untuk menempatkan kader PKB menjadi calon wakil bupati berpasangan dengan calon bupati dari Golkar juga bertepuk sebelah tangan. Toni dan Golkar justru lebih memilih berpasangan dengan PKS walaupun secara ideologis konon memiliki banyak ketidakcocokan dengan PKB.

Toni dan Golkar seperti tidak meyakini kekuatan elektoral yang dimiliki oleh Nunik, PKB dan jejaring NU di Lampung Selatan, padahal bakal calon yang diajukan kabarnya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Nunik. Toni dan Golkar sepertinya yakin akan mampu menorehkan rekor baru dalam sejarah pilkada langsung di Lampung, memenangkan pilkada bersama bakal calon kader PKS. Tampaknya di dua kabupaten besar ini, baik Nunik maupun PKB mesti sangat bersabar dan memaklumi sikap dan pilihan Partai Golkar.

Di Way Kanan dan Pesawaran, Golkar dan PKB berlabuh pada pasangan kandidat yang sama. Pada dua daerah ini baik Golkar maupun PKB seperti kehilangan nyali dan memilih jalan mudah saja dengan mendukung petahana walaupun jumlah kursi yang dimiliki Golkar-PKB memenuhi syarat minimal yang diperlukan jika ingin mengajukan pasangan sendiri.

Selama dua tahun lebih Jupriyus dan Bustami seakan bersaing untuk menjadi pilihannya Arinal agar memperoleh rekomendasi Golkar di Way Kanan, PKB pun dengan sabar menunggu kemana pilihan akan dilabuhkan. Belakangan rivalitas itu berakhir dengan baik, Jupriyus berpasangan dengan Rina Bustami. Tetapi apa daya ketika kedua orang yang dikenal sangat dekat dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Arinal ini telah bergandengan tangan, Golkar justru memilih mengusung petahana.

Sementara di Pesawaran tampaknya memang sejak awal Golkar lebih cenderung ke petahana sekalipun ada kerabat Wendy, adik Udo Nuril dan adik Alzier yang sempat mengikuti tahapan pencalonan di Partai Golkar. Bahkan ketika surat tugas yang pernah diterbitkan oleh DPP Partai Golkar untuk meng-endorse Yusak Ketua Golkar Pesawaran menjadi pasangan seperti diabaikan oleh petahana. Sikap Partai Golkar Lampung hanya menerima saja.

Jauh berbeda dengan sikap Golkar di Sulawesi Selatan yang langsung mengubah arah dukungan ketika Dani Pomanto mengabaikan surat tugas DPP Partai Golkar, walaupun semua lembaga survey menyatakan Dani unggul jauh dibandingkan calon-calon lainnya di Kota Makassar. Golkar Sulsel lebih memilih menjaga kehormatan dan wibawa partai ketimbang secara pragmatis menerima perlakuan tidak menyenangkan calon.

Di Pesisir Barat sempat terdengar Golkar akan mengusung Elty mengingat kedekatan suaminya dengan Arinal selama belasan tahun. Entah mengapa kemudian tidak lagi terdengar dan berganti kabar bahwa Arinal mendorong Kherlani dengan pertimbangan pernah menjadi Pjs Bupati di sana. PKB dengan sigap mengikuti langkah Golkar dan menyiapkan Erlina petahana Wabup menjadi bakal calon wakilnya.

Belakangan penulis mendengar kabar yang kurang baik dari Jakarta, DPP Golkar tidak yakin Kherlani mampu memenangkan pertarungan. Ada kecenderungan pilihan DPP Golkar justru akan berlabuh ke petahana yang diusung Nasdem atau bakal calon yang diusung PDIP. Apalagi jika bakal calon bupatinya bersedia menerima kader Golkar menjadi pasangan atau kandidat pasangan yang sekarang bersedia di-Golkar-kan.

Konon ada permintaan khusus yang disampaikan oleh Sudin Ketua PDIP Lampung ke petinggi DPP Partai Golkar agar Golkar tidak mencalonkan Kherlani dan berkoalisi saja dengan PDIP untuk membuat peta pertarungan menjadi head to head di sana. Mengingat hubungan baik Arinal dengan Sudin selama ini, keteguhan sikap Arinal akan sangat diuji dalam menentukan pilihannya di Pesisir Barat.

Bandar Lampung bukan hanya sekedar ibu kota provinsi secara administratif. Bandar Lampung adalah etalase yang paling prestisius dibandingkan 14 kabupaten/kota lainnya di Lampung. Selama dua kali Pilgub, kandidat yang menang baik Ridho maupun Arinal tidak mampu mematahkan dominasi Herman sekalipun yang bersangkutan berstatus cuti.

Bandar Lampung seperti tembok besar Konstantinopel yang hampir mustahil diruntuhkan dalam dua kali Pilgub yang lalu. Ketika Rycko mantan Bupati Lampung Selatan menyatakan mencalonkan diri di Bandar Lampung, publik seperti mendapat harapan akan menyaksikan pertandingan yang sengit dan ketat.

Lahir dari keluarga yang terpandang (baik kakek maupun bapaknya pernah menjadi Gubernur Lampung), Rycko pantas dianggap sebagai lawan yang sepadan untuk bertarung melawan Eva istri petahana.

Bulan lalu dalam sebuah gerakan cepat bagaikan blitzkrieg ketika tentara Jerman menyerang Polandia, kita dikejutkan dengan pasangan Yusuf-Tulus yang hanya dalam tempo belasan hari mampu membangun koalisi baru Demokrat-PAN-PKB-Perindo. Koalisi yang berpotensi menggagalkan pencalonan Rycko dan menantang dominasi Eva.

Tiba-tiba posisi Golkar dan Rycko mengecil menjadi minor di landscape politik Bandar Lampung. Pilihan yang tersisa tinggal PKS karena yang lainnya (PDIP-Gerindra-Nasdem) sudah hampir pasti tidak beringsut lagi dari Eva.

Jika dalam satu minggu ke depan koalisi Golkar-PKS tidak kunjung terbangun, penulis khawatir DPP Golkar terpaksa bersikap realistis dan akhirnya membuka opsi lain, menjajaki komunikasi dengan Eva maupun Yusuf.

Dalam pertandingan sepakbola perubahan situasi yang sangat mengejutkan di saat injury time hanya bisa dilakukan oleh pemain bintang seperti Messi atau Ronaldo. Siapapun dia yang berada di balik gerakan blitzkrieg Yusuf di Bandar Lampung, yang bersangkutan telah menunjukkan kelasnya dalam permainan ini.

Jika benar dugaan sebagian orang bahwa energi yang mendorong Yusuf-Tulus berasal dari sumber yang sama dengan yang mendorong Musa-Dito dan Arinal-Nunik maka pertanyaan besarnya bagaimana mungkin menjadi seperti berbeda jalan dengan arahnya Golkar yang dipimpin oleh Arinal?

Publik di Lampung tahu bahwa Pairin Walikota Metro adalah kader ideologis Golkar yang sangat senior. Beliau berhasil melipatgandakan jumlah kursi Golkar di DPRD Metro dari tiga menjadi enam. Menjadi pemenang pemilu legislatif 2019 sekaligus memastikan Golkar mampu mengusung pasangan sendiri tanpa harus berkoalisi dengan partai lain. Prestasi yang hanya dapat diraih Golkar di Metro dan tidak dapat diraih di 14 kabupaten/kota lainnya.

Sebelum pandemi Corona, pasangan Ampiyan-Rudy sudah melakukan serangkaian acara deklarasi yang juga sempat dihadiri oleh Pairin selaku Ketua Partai Golkar Metro. Mengingat posisi Pairin dan Golkar Metro yang begitu kuat, menjadi logis jika tadinya publik menduga pencalonan pasangan ini akan menjadi yang tercepat disetujui oleh DPP Partai Golkar.

Tetapi faktanya sampai hari ini rekomendasi Golkar belum juga diputuskan, sejak awal berkembang isu bahwa Arinal kurang dapat menerima pencalonan Ampiyan-Rudy, bahkan sekarang isu itu telah melahirkan spekulasi bahwa Golkar akan mengusung pasangan yang berasal dari partai lain. Jika itu yang terjadi maka Golkar akan kembali kehilangan marwahnya sebagai partai pemenang pemilu di Kota Metro.

Lampung Timur adalah alasan dari semua sikap sabar dan mengalah yang ditunjukkan Nunik dan PKB selama hampir dua tahun ini menghadapi Arinal dan Golkar. Secara tradisional Lampung Timur merupakan daerah basis NU di Lampung dan karenanya menjadi basis PKB juga. Puncak pencapaian PKB ditandai dengan kemenangan Nunik dalam Pilkada tahun 2015. Nunik menjadi kader pertama PKB yang berhasil menjadi Bupati dan Lampung Timur menjadi daerah pertama yang dikuasai oleh PKB di Lampung.

Konon kabarnya ada janji yang pernah diikrarkan ketika Arinal dan Golkar meminang Nunik dan PKB untuk berpasangan dan berkoalisi dalam Pilgub 2018, pada Pilkada Serentak 2020 Arinal dan Golkar akan mengusung dan memperjuangkan kader PKB agar dapat kembali menjadi Bupati di Lampung Timur. Beberapa bulan terakhir Dawam bakal calon bupati dari PKB sudah berjalan bersama Azwar Ketua Golkar Lampung Timur, mereka berdua sudah memasang banyak APK sampai ke pelosok dan melakukan roadshow ke petinggi Partai Golkar di Jakarta.

Sementara sejak akhir tahun lalu Azis Syamsuddin Waketum DPP Partai Golkar secara terbuka sudah pernah menyampaikan dukungannya kepada petahana dan belakangan ketua tim relawan Azis di Lampung Timur dijadikan bakal calon wakil bupati yang dipasangkan dengan petahana. Dua pasang calon inilah yang sampai hari ini masih berkutat memperebutkan rekomendasi DPP Partai Golkar.

Info terakhir yang beredar di kalangan terbatas di Jakarta, rivalitas dua pasangan ini sepertinya hanya akan berakhir dan diputuskan di tangan Ketua Umum Airlangga Hartarto. Mengapa demikian? Bisa jadi karena Arinal maupun Azis masih sama-sama bersikukuh dengan pilihannya masing-masing, tidak ada yang bersedia mengalah.

Penulis tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika akhirnya rekomendasi DPP Partai Golkar tidak berpihak pada calon yang diusung oleh PKB dan diusulkan oleh Arinal. Apalagi membayangkan moral kader partai di Lampung Timur ketika Ketua Golkar Lampung Timur gagal mencalonkan diri dikalahkan oleh anggota fraksinya sendiri.

Masa depan koalisi Golkar-PKB dalam Pilgub akan dipertaruhkan dan relasi antara Arinal-Nunik dalam 45 bulan masa jabatan mereka tampaknya akan mengalami guncangan yang cukup dahsyat jika itu yang terjadi. Selain tentu saja menambah deret panjang orang dekat dan kader partai yang merasa kecewa karena merasa tidak diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.

Sesungguhnya ada opsi lain yang bisa ditempuh oleh DPP Golkar dengan merujuk banyak contoh, salah satunya yang paling fenomenal tentu peristiwa Pilpres 2004 ketika Yusuf Kalla tetap melaju berpasangan dengan SBY walaupun secara resmi Golkar mencalonkan Wiranto. Jika opsi ini yang diambil maka Golkar akan menempatkan dua kandidat wakil bupati di Lampung Timur, satu berpasangan dengan Dawam sedangkan satunya lagi berpasangan dengan petahana.

Sebagai organisasi pendiri Partai Golkar, Ormas MKGR tentu akan menggerakkan seluruh potensi yang ada untuk membantu pemenangan para calon yang diusung oleh Partai Golkar dalam Pilkada Serentak di Lampung. Semoga pada akhirnya semua pergulatan internal itu akan berakhir happy ending dengan tetap meninggikan marwah partai dan merawat moral kader.

Semoga semua zig-zag dan akrobat politik ini adalah bagian dari Jurus Dewa Mabuk (drunken master) yang sedang dimainkan oleh Golkar, jurus yang membingungkan lawan, bukan justru membuat bingung sampai mengecoh diri dan pasukan sendiri seperti orang yang memang sedang mabuk walaupun mungkin hanya mabuk kekuasaan. Wallahu’alam.

Nizwar Affandi

Ketua Ormas MKGR Provinsi Lampung

Kolom Komentar


Sebelumnya

Mati Muda

Berikutnya

Profesi Laris

Video

BREAKING NEWS: Pasar Cepogo Boyolali Terbakar

Kamis, 17 September 2020
Video

Menguji Erick Thohir dan Jokowi, Kejanggalan Pertamina Gamblang Diurai Ahok

Jumat, 18 September 2020

Artikel Lainnya

Mati Muda
Publika

Mati Muda

20 September 2020 18:22
Profesi Laris
Publika

Profesi Laris

20 September 2020 17:06
Kisah Muhammad Dan Samir
Publika

Kisah Muhammad Dan Samir

20 September 2020 14:35
Sejarah Pengkhianatan PKI Akan Dihapus?
Publika

Sejarah Pengkhianatan PKI Ak..

20 September 2020 12:02
Mayoritas Dari Lima Prediksi LSI Denny JA Soal Virus Corona Sudah Dan Akan Terbukti
Publika

Mayoritas Dari Lima Prediksi..

20 September 2020 07:44
Peran K3 Dan Program Padat Karya Pemulihan Ekonomi Nasional
Publika

Peran K3 Dan Program Padat K..

20 September 2020 07:35
Penusuk Syekh Ali Jaber Pantasnya Kena UU Teroris
Publika

Penusuk Syekh Ali Jaber Pant..

20 September 2020 04:42
Jangan Sowan Rama Kiai Dulu
Publika

Jangan Sowan Rama Kiai Dulu

19 September 2020 08:37